Archive for the 'Ummat Development' Category

Menjadi Anak-anak Unggul Melalui Hidup Berjamaah

Potensi kehidupan berjamaah untuk menumbuhkembangkan keunggulan anak-anak kita sejak dini dapat kita ambil dari anjuran Rasulullah Muhammad Shallallaahu’Alaihi Wasallam untuk berteman dengan orang-orang shalih. Duduk dan berdekatan dengan orang-orang shalih akan menularkan kebaikan. Bersanding dengan penjual minyak wangi, akan terimbas wanginya. Sebaliknya, duduk dan berdekatan dengan orang-orang yang tidak baik, maka bisa tertular keburukan. Bersanding dengan tukang las, bisa-bisa terbakar, atau terkena pekatnya asap.

Anak-anak kita terlahir dengan sebuah dorongan sosial. Alfred Adler (Dreikurs, 1989), pendiri Psikologi Individual, menegaskan bahwa setiap anak terlahir dengan sebuah minat sosial—ketertarikan pada orang lain—dan memiliki keunikan. Anak-anak terlahir dengan sebuah kebutuhan untuk terikat pada komunitas manusia, untuk bergerak maju, untuk berhasil dalam menyelesaikan tujuan hidup mereka, dan untuk merasa aman di dunia.

Anak-anak belajar hal-hal penting dalam hidup dari orang lain. Sebagai orangtua, kita adalah guru mereka yang paling penting. Kita adalah lukisan kehidupan jamaah pertama dan paling berpengaruh bagi mereka. Kita sedang dan akan selalu mengajari hal-hal penting dalam hidup melalui contoh yang kita tunjukkan sendiri. Anak-anak menyaksikan secara seksama, menunjukkan ketertarikan bagaimana perilaku kita berhubungan dengan mereka, dengan teman-teman kita, dengan saudara-saudara kita, dan dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Anak-anak kita seringkali akan meniru begitu saja apa yang kita katakan dan kerjakan.

Bayi-bayi mulai menanggapi orang-orang penting dalam hidupnya sejak jam-jam pertama dalam kehidupannya. Mereka dengan cepat belajar untuk menarik perhatian orang-orang dewasa dengan senyuman, ocehan, dan gerakan. Meskipun mereka menunjukkan ketertarikan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, mereka belum menyadari akan perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang-orang tersebut. Menurut pandangan mereka, setiap orang dan segala sesuatu yang ada bertugas untuk memuaskan setiap keinginan mereka. Seiring waktu, mereka akan menemukan bahwa perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang lain mungkin bertentangan dengan atau berbeda dari yang mereka miliki.

Anak-anak batita menginginkan apa pun yang mereka lihat, tetapi mereka harus belajar untuk menghargai hak milik orang lain. Kadang-kadang mereka mengalami kesulitan untuk memahami tindakan-tindakan anak-anak yang lain dan mempertimbangkan perasaan-perasaan orang lain. Karena kenikmatan yang mereka rasakan bersama-sama dengan orang lain dan kebutuhan mereka untuk diterima dan dicintai, anak-anak belajar pentingnya kehidupan berjamaah. Kehidupan berjamaah yang biasa diikuti orangtua, misalnya, akan mempermudah proses anak-anak batita yang mulai belajar berbagi dengan orang lain, untuk menunggu giliran orang lain, dan untuk mengungkapkan kemarahan dalam cara-cara yang tepat.

Anak-anak prasekolah dapat bekerja bersama-sama dengan orang lain dan menjadi lebih selektif terhadap teman-teman mereka. Mereka secara bertahap belajar untuk bermain dengan anak-anak lain dan berteman dengan anak-anak tersebut. Mereka belajar untuk memahami konsep berbagi dan menunggu giliran dan mulai menggunakan kata-kata daripada kekuatan fisik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan melindungi kepemilikan mereka. Mereka belajar untuk “membaca perasaan-perasan orang lain”, berpura-pura menjadi orang lain dan menjadi lebih perhatian terhadap orang lain. Mereka menjadi lebih mampu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan mereka dan berhubungan baik dengan orang lain.

Kita dapat membantu anak-anak dengan memperluas lingkaran pertemanan mereka. Mengajak anak-anak untuk menghadiri kegiatan jamaah yang biasa diikuti orangtua akan memberi anak-anak prasekolah pengalaman-pengalaman sukses berhubungan dengan orang-orang dewasa dan anak-anak yang beragam dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mereka seharusnya bertindak dan mengapa demikian. Kehidupan berjamaah akan menyediakan kesempatan bagi anak-anak kita untuk belajar bagaimana sukses berhubungan dengan orang lain—harapannya tentu bukan hanya kesuksesan di dunia tetapi juga insyaallah kesuksesan di akhirat.

Sebagai contoh, kehidupan berjamaah menyediakan pengalaman-pengalaman penting yang sangat diperlukan untuk menjadi anggota yang efektif dari sebuah kelompok—keluarga, tetangga, sekolah, kerja, atau komunitas organisasi: memperlihatkan ketertarikan kepada orang lain, memberi dan menerima, menyatakan kebutuhan-kebutuhan dan hak-hak dalam cara-cara yang tepat, menunjukkan perhatian dan simpati, dan berkomunikasi efektif.

Lebih dari itu, melalui setiap perjumpaan dalam kehidupan berjamaah, anak-anak kita memperluas pemahaman dan keyakinan mereka tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Dengan hidup bersama jama’ah, mudah-mudahan kita dan anak-anak kita terhindar dari kerugian sebagaimana yang ditegaskan Allah Ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al Ashr. Kehidupan berjamaah memungkinan kita pertama meningkatkan dan memelihara keimanan, kedua beramal shalih meningkat dan terpelihara, ketiga saling menasihati dalam kebenaran, dan keempat saling menasihati dalam kesabaran.

Meminjam ungkapan dari Hugh Prather dalam Catatan tentang Cinta dan Keberanian, kehidupan berjamaah memproses anak-anak kita menjadi manusia unggul. ”We need Jama’ah, not in order to stay alive, but to be fully human”.

Published in:Ummat Development |on February 11th, 2010 |4 Comments »

Psikologi Keluarga: Perspektif Islam

Psikologi Keluarga dalam Perspektif Islam[1]

Oleh

Irwan Nuryana Kurniawan[2]

Pengantar

QS An Nisa: 1. Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu Menjaga dan Mengawasi kamu.

™ QS An Nisa: 9. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benarŠƒ

QS At Tahrim: 6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

  • Untuk sebuah perkara yang dengannya Allah SWT menjaminkan KETENANGAN, KELAPANGAN, DAN KASIH SAYANG (QS Ar Rum 21)

QS Ar Rum: 21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

· Untuk sebuah perkara yang dengannya seseorang dikatakan TELAH MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA/IMAN, dan hendaknya bertakwa kepada Allah SWT dalam separuh yang tersisa (Diriwayatkan oleh Ath Thabarani, Al Baihaqi)

· Untuk sebuah perkara yang dengannya Allah SWT menjamin termasuk TIGA KELOMPOK ORANG YANG PASTI DITOLONG ALLAH: Fisabilillah, Budak Mukatab, dan Orang yang menikah karena hendak menjaga kesucian dirinya (HR Ahmad)

· Untuk sebuah perkara yang “Apabila manusia telah meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang selalu mendo’akan (HR Muslim)

· Untuk sebuah perkara yang “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu keluarga, Dia memperdalamkan pengetahuan agama kepada mereka, menjadikan anak-anak mereka menghormati orangtua mereka, memberikan kemudahan pada kehidupan mereka, kesederhanaan dalam nafkah mereka, dan memperlihatkan aib mereka sehingga mereka menyadarinya, lalu menghentikan perbuatannya. Namun apabila menghendaki sebaliknya, Dia meningalkan dan menelantarkan mereka (HR Daru Quthni)”

WHY MARRIAGE AND FAMILY MATTERS – RESEARCH FINDINGS FROM SOCIAL SCIENCES

  • Orang yang menikah lebih panjang umurnya, lebih sehat, dan lebih bahagia
  • Orang yang menikah memiliki hubungan dan kepuasan seksual yang lebih tinggi
  • Orang yang menikah lebih sukses dalam kariernya dan lebih kaya
  • Wanita yang menikah lebih kecil kemungkinannya mengalami kekerasan domestik
  • Anak-anak yang diasuh oleh orangtua yang menikah cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dan secara akademik sukses

WHY MARRIAGE AND FAMILY MATTERS: PSYCHOLOGICAL PERSPECTIVE

(Based on extensive series of studies of family strengths over 25 years toward more than 21.000 family in every state of USA and 27 countries around the world, Nick Stinnett and John DeFrain proposed six major qualities are commonly present in strong family)

  • Komitmen terhadap keluarga.
  • Apresiasi dan afeksi satu sama lain.
  • Komunikasi positif.
  • Menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama-sama dalam jumlah yang mencukupi.
  • Kesejahteraan spiritual (A sense of spiritual well-being).
  • Kemampuan untuk mengatasi stress dan krisis.

Bagaimana mencapainya?

Rasulullah SAW bersabda"Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah ia berilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah ia berilmu dan barangsiapa yang menginginkan dunia dan akhirat maka hendaklah ia berilmu."

… Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (QS Al Maidah 15-16: )

QS Al Ahzab: 21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dalam Kontek Pendidikan Anak

Rasulullah SAW bersabda: “ Allah SWT merahmati seseorang yang membantu anaknya berbakti kepada-Nya”, sabda Nabi SAW. Beberapa orang di sekeliling nabi bertanya, “Bagaimana caranya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, dan tidak memakinya”

Dalam Kontek Pernikahan

Prof.Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah, dalam buku Pengantin Al Qur’an

Sakinah

Ketenangan dan ketentraman setelah sebelumnya ada gejolak

Ketenangan bersifat dinamis

Dilahirkan akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati dan bergabungnnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat

Tali Temali Keluarga Sakinah

Mawaddah

Kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk, sehingga pintunya tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin yang mungkin datang dari pasangannya

INDIKATOR

1. Menunjukkan kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk

2. Menunjukkan kesediaan hidup bersama walau dalam kemiskinan dan penderitaan

3. Menunjukkan kesabaran dan toleransi terhadap pasangan

4. Mengakui dan bersedia menerima kelebihan dan kekurangan pasangan

5. Menunjukkan saling penghargaan dan berkorban atau mengalah demi cinta pasangan

6. Berupaya menyenangkan pasangan

Rahmah

Kondisi psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan, sehingga mendorong yang bersangkutan untuk melakukan pemberdayaan

INDIKATOR

1. Bersungguh-sungguh, bersusah payah demi mendatangkan kebaikan bagi pasangannya

2. Menolak segala yang mengganggu dan mengeruhkan pasangannya

3. Menutupi segala sesuatu (kekurangan pasangan) dan sabar menanggung segalanya

4. Berusahan untuk saling melengkapi

5. Mampu membendung keinginan dan kebutuhan yang berpotensi menyakitkan pasangan

6. Berkorban dan mengijinkan pasangan untuk meraih dambaan dan keinginannya

7. Merasakan dan memikirkan apa yang dipikirkan dan dirasakan pasangannya

8. Merasa saling membutuhkan dan berusaha memenuhi kebutuhan pasangannya

Amanah

Sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu akan dipelihara dengan baik, serta aman keberadaannya di tangan yang diberi amanat itu

INDIKATOR

1. Merasa aman dan percaya kepada pasangannya

2. Menepati janji

3. Memelihara diri di balik pembelakangan pasangan


[1] Disampaikan Dalam Pengajian Bulanan Masjid Al Falah Berlin, 22 November 2008, 16.00-selesai

[2] Staf Pengajar Prodi Psikologi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta; PhD Student

at Developmental Science and Applied Developmental Psychology, Freie Uiversität Berlin, Germany

Published in:Ummat Development |on November 26th, 2008 |11 Comments »

Iedul Fithri

Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya kariim

Published in:Ummat Development |on October 3rd, 2008 |1 Comment »

Stop Pacaran: Sebuah Perspektif Psikologis

Stop Pacaran: Sebuah Perspektif Psikologis

By

Irwan Nuryana Kurniawan

Kebanyakan anak-anak muda meyakini dan telah menjadikan pacaran sebagai metode utama—bahkan satu-satunya metode—di dalam menemukan calon pasangan untuk berlanjut ke jenjang pernikahan. Mereka menduga bahwa pacaran akan memberikan mereka kesempatan yang baik untuk mengenal dengan lebih baik kebiasaan-kebiasaan dan karakter-karakter satu sama lain sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Mereka meyakini bahwa pengalaman pacaran yang mereka peroleh akan membantu mereka melakukan penyesuaian pernikahan dengan baik dan pada akhirnya kepuasaan pernikahan mereka akan lebih mudah diraih. Mereka berhipotesis ada hubungan sangat kuat antara pacaran dan kepuasan pernikahan.

Jika hipotesis ini benar, mengapa begitu banyak perceraian dan pernikahan yang tidak bahagia di masyarakat kita? Bahkan sebuah laporan penelitian menginformasikan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik untuk tingkat perceraian.

Temuan-temuan riset secara konsisten menunjukkan bahwa pacaran bukan prediktor yang signifikan bagi sebuah pernikahan yang bahagia. Sebagai contoh, National Marriage Project (2000) menyimpulkan bahwa kohabitasi—satu bentuk pacaran dimana mereka hidup bersama sebelum menikah—memiliki pengaruh negative terhadap masa depan pernikahan. Penjelasannya adalah bahwa dasar pernikahan adalah komitmen etik yang kuat—dalam Islam dikenal sebagai mitsqan ghalizhan- غَلِيظًا مِيثَاقًا –-sementara hubungan kohabitasi jatuh dalam komitmen jangka pendek. Pasangan kohabitasi lebih banyak berorientasi pada kebutuhan otonomi diri sendiri dan kemungkinan besar akan mengakhiri hubungan mereka jika hubungan tersebut sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Semakin lama pasangan ini hidup bersama, semakin besar kemungkinan mereka untuk memiliki sikap komitmen yang rendah. Karenanya sangat mudah diprediksikan bahwa sekali komitmen rendah ini terbentuk dan pola hubungan otonomi tinggi diadopsi, menjadi sangat sulit bagi mereka untuk berubah.

Dalam sebuah ulasan kohabitasi yang komprehensif, David Popenoe and Barbara Whitehead (1999) menyimpulkan bahwa kohabitasi merusak pernikahan dan meningkatkan probabilitas terjadinya perceraian. Hidup bersama meningkatkan resiko kekerasan domestik pada wanita dan resiko perlakuan fisik dan seksual menyimpang terhadap anak-anak. Kohabitasi juga berpotensi tinggi merusak anak-anak karena kemungkinan tingginya kemungkinan pasangan tersebut berpisah, sehingga menyulitkan bagi anak-anak untuk membangun hubungan dekat dengan orang dewasa lainnya. Demikian juga, wanita yang hidup bersama dan memiliki anak menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi. Lebih lanjut ditemukan bahwa pasangan-pasangan yang hidup bersama memiliki tingkat kebahagian dan kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan pasangan-pasangan yang menikah.

Dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, Joshua Harris (1997) menjelaskan dengan sangat jelas sejumlah alas an mengapa pacaran tidak mampu memprediksikan kebahagiaan hubungan pasangan:

1. Pasangan mendorong intimasi (kedekatan fisik emosional) tetapi tidak mencukupi untuk terbentuknya komitmen

2. Pacaran cenderung mengabaikan persahabatan padahal persahabatan menyediakan fondasi yang kuat untuk sebuah hubungan yang stabil

3. Pacaran cenderung fokus pada atraksi romantis, sehingga hubungan akan tetap berlangsung sepanjang perasaan romantis tersebut masih ada

4. Pacaran cenderung fokus pada menikmati cinta dan romantisme hanya untuk kesenangan semata

5. Pacaran seringkali menjadikan hubungan fisik sebagai bentuk pembuktian cinta terhadap pasangan

6. Pacaran seringkali mengisolasi pasangan dari hubungan-hubungan penting lainnya, meninggalkan arti penting persahabatan ketika mengalami kondisi buruk dengan pasangan

7. Pacaran banyak menghabiskan waktu dan tenaga di mana hal tersebut dapat mengganggu mereka dari tanggung jawab utama mereka untuk mempersiapkan masa depan

8. Pacaran seringkali menciptakan sebuah lingkungan artificial untuk mengevaluasi karakter pribadi orang lain

Yang lebih menguatkan lagi bahwa pacaran mestinya tidak perlu lagi dijadikan metode dalam mencari pasangan menikah adalah temuan-temuan yang menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang hidup bersama dan kemudian mereka memutuskan untuk menikah menunjukkan karakteristik pernikahan yang sangat kontradiktif dengan pasangan menikah yang sebelumnya mereka tidak hidup bersama. Sebagai contoh, Cohan and Kleinbaum (2000) menemukan bahwa pasangan menikah yang sebelumnya melakukan kohabitasi memiliki keterampilan-keterampilan komunikasi yang lebih buruk dalam mendikusikan permasalahan-permasalahan yang muncul dibandingkan pasangan menikah yang sebelumnya tidak melakukan kohabitasi. Studi-studi yang dilakukan menyimpulkan bahwa sebuah pernikahan yang didahului kohabitasi kemungkinan besar berakhir dengan perceraian; DeMaris and Roe (1992) menemukan resiko perceraian meningkat sebesar 46%.

Secara singkat, Sydney Harris menyimpulkan bahwa satu alasan utama mengapa banyak pernikahan yang gagal adalah fungsi yang disediakan oleh pacar dan jodoh berbeda secara fundamental—pacar biasanya dipilih karena pacar tersebut secara fisik menarik sementara jodoh dipilih karena jodoh tersebut secara psikologis bertanggung jawab; dan sayangnya, kebanyakan individu-individu yang menarik seringkali tidak cukup bertanggung jawab, sedangkan kebanyakan individu-individu yang bertanggung jawab seringkali secara fisik kurang menarik.

Jadi, bagaimana pendapat Anda sekarang tentang pacaran? Masihkah Anda meyakini bahwa pacaran merupakan metode terbaik untuk menemukan pasangan untuk menjaga kesucian diri dan bersama-sama menyempurnakan separuh agama Anda?

Published in:Ummat Development |on September 2nd, 2008 |12 Comments »

Assessment Abuse

Kesalahan-kesalahan mendasar

dalam penilaian belajar dan perkembangan anak

Penggunaan satu alat penilaian sebagai dasar dalam melakukan evaluasi terhadap belajar dan perkembangan siswa dianggap sebagian ahli sebagai abuse and misuse of assessment—kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Apalagi menyangkut keputusan-keputusan yang berpengaruh besar terhadap belajar dan perkembangan anak seperti penentuan kelulusan, jurusan, bakat, minat, kemajuan maupun hambatan belajar, dan perkembangan anak. Menggunakan tes-tes untuk membuat keputusan-keputusan yang mempertaruhkan masa depan seorang anak, seperti apakah seorang siswa akan naik kelas atau menerima ijazah, seharusnya tidak dibuat berdasarkan hanya pada hasil skor satu tes saja. Hasil skor satu alat penilaian hanya dapat menyediakan sebuah rekaman singkat prestasi siswa dan sangat mungkin tidak akurat dalam memberikan sebuah gambaran berharga tentang kemajuan dan prestasi siswa selama bertahun-tahun.

Melakukan penilaian yang menuntut para siswa memberikan respon—jawaban-jawaban atau mengerjakan sesuatu seperti yang dikehendaki dalam ujian—dalam cara-cara yang mereka tidak terbiasa melakukannya juga termasuk kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Apa-apa yang sebenarnya diketahui dan dilakukan para siswa sangat mungkin tidak terungkap karena tertutupi oleh mampu tidaknya mereka menunjukkan apa-apa yang sebelumnya sudah mereka pelajari. Selain itu, melakukan penilaian yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan dari program pembelajaran dan program penilaian menjadi sangat menentukan dan membatasi penerapan kurikulum merupakan bentuk-bentuk lain dari kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Misalnya pembagian sumberdaya (waktu, tenaga, uang, perhatian, dan lain-lain) tidak terbagi sebagaimana seharusnya karena semua sumberdaya dipusatkan pada suksesnya Ujian Nasional atau Ujian Akhir Sekolah Daerah. Akibatnya beberapa mata pelajaran tidak diberikan atau kalau pun diberikan sebatas memenuhi kewajiban administratif.

Beberapa prinsip penting berikut perlu diperhatikan agar proses penilaian yang dilakukan mampu menghindarkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak dikehendaki, yaitu

1. Sejumlah keputusan tentang kelanjutan pendidikan seorang siswa, misalnya pengulangan, promosi, atau kelulusan, seharusnya mempertimbangkan semua informasi penting dari berbagai sumber penilaian yang mengenal secara akurat tentang belajar dan perkembangan anak.

2. Jika hasil penilaian memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak, maka harus dipastikan bahwa semua informasi tersebut bersumber dari alat penilaian yang mampu secara akurat dan handal mengungkap keterampilan-keterampilan dan pengetahuan-pengetahuan spesifik atau umum, yang setiap siswa telah memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.

3. Dalam kasus-kasus tertentu, misalnya penguasaan bahasa Inggris yang rendah, proses penilaian yang sesuai dengan kekhususan kondisi anak diperlukan untuk memperoleh skor-skor penilaian asesmen yang akurat dan dapat dipercaya. Jika siswa-siswa dengan keterampilan bahasa Inggris yang terbatas tersebut dites dalam bahasa Inggris, skor-skor tes mereka seharusnya dimaknai dalam kerangka keterbatasan mereka dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh, ketika seorang siswa menunjukkan penguasaan yang kurang dalam bahasa di mana tes diberikan (misalnya para siswa yang bahasa Inggris merupakan bahasa kedua), hasil tes tersebut sebaiknya dimaknai sebagai sebuah ukuran kemampuan mereka untuk berkomunikasi bahasa Inggris daripada sebagai sebuah ukuran penguasaan dalam pelajaran atau keterampilan tertentu.

4. Sekolah-sekolah yang menggunakan alat-alat penilaian, misalnya tes atau ujian, harusnya memastikan bahwa siswa-siswa mereka yang dites dalam pelajaran, keterampilan, atau perilaku tertentu, memiliki kesempatan belajar yang sama. Bahwa para siswa memiliki banyak kesempatan untuk menunjukkan penguasaan materi melalui prosedur-prosedur penilaian yang sama. Siswa-siswa dari latar belakang tertentu, misalnya siswa-siswa dari keluarga tidak mampu, suku minoritas, para siswa yang memiliki kecacatan, dan atau keterbatasan bahasa tertentu, tidak dirugikan secara sistematis oleh proses penilaian yang demikian.

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |1 Comment »

Asesmen Perkembangan dan Belajar Siswa: Mengapa Penting

Asesmen Perkembangan dan Belajar Siswa:

Mengapa Penting?

Asesmen merupakan sebuah proses pengumpulan informasi yang terus menerus berlangsung untuk mengukur performansi murid dan proses pembelajaran. Asesmen perkembangan dan belajar anak memiliki nilai penting. Tidak hanya mengukur kemajuan anak-anak sebagai bentuk evaluasi program, asesmen juga berguna untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf dan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang

Asesmen yang tepat berguna untuk membantu anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Asesmen yang tepat juga dapat digunakan untuk mendeteksi keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki anak-anak. Selain itu informasi yang akurat dari sebuah asesmen bermanfaat untuk peningkatan pembelajaran sehingga proses belajar anak-anak membaik dan sebagai informasi bagi para orangtua tentang kemajuan dan hal-hal terkait dengan belajar anak-anak mereka.

Asesmen yang tepat merupakan bagian penting dari program evaluasi dan perbaikan terus menerus kualitas program pendidikan yang sudah dirancang. Dalam program pendidikan yang berkualitas, pihak-pihak terkait dengan pendidikan anak menggunakan informasi dari berbagai macam sumber untuk merencanakan dan membuat keputusan-keputusan tentang anak-anak secara individual.

Prosedur-prosedur dan instrumen-instrumen (alat) asesmen—seperti test, observasi, portofolio, penilaian guru, penilaian orangtua, dan lain sebagainya—dikatakan efektif ketika mereka memenuhi standar validitas (tepat dan akurat), reliabilitas (keajegan), dan kepekaan terhadap isu-isu kultural. Instrument asesmen yang tepat memungkinkan jawaban-jawaban yang khas dari anak-anak menurut kelompok usia, jenis kelamin, latar belakang budaya, dan kondisi geografis. Anak-anak harus diukur secara individual oleh orang-orang yang mengetahui mereka dengan objektif dalam setting dan situasi-situasi yang mencerminkan penampilan mereka yang sesungguhnya. Semakin muda usia anak, maka akan semakin sulit untuk mendapatkan asesmen yang valid. Perkembangan anak-anak usia dini berlangsung sangat cepat dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman. Performansi mereka dalam tes dipengaruhi oleh kondisi-kondisi emosional anak dan kondisi-kondisi saat asesmen dilakukan.

Satu hal yang pasti dalam melakukan asesmen adalah jangan pernah menggunakan satu instrumen asesmen untuk membuat keputusan-keputusan yang memiliki konsekuensi penting bagi anak-anak. Setiap asesmen seharusnya dipilih untuk memenuhi tujuan-tujuan yang spesifik. Asesmen seharusnya diselaraskan dengan kurikulum dan proses pembelajaran di kelas.

Bagaimana bentuk-bentuk asesmen yang tepat, insyallah akan didiskusikan bagian tulisan berikutnya.

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |3 Comments »

Mengembangkan Kepedulian Guru

Mengembangkan Kepedulian Guru

 

“Tidak ada seorang pun yang peduli dengan saya, Ayah dan Ibu maunya nilai saya bagus. Pak Guru dan Bu Guru tahunya kita belajar dan mengerjakan tugas,” merupakan ungkapan keluhan yang akhir-akhir ini kerap kita dengar dari anak-anak dan remaja kita. Mereka merasa tidak ada yang peduli dengan permasalahan yang mereka hadapi, baik di rumah maupun di sekolah Orang-orang yang merasa telah mencoba untuk peduli dan orang-orang yang merasa ingin dipedulikan, belum berhasil membentuk sebuah hubungan timbal balik yang penuh kepedulian.

Dalam konteks sekolah, guru yang peduli mengarahkan energi mereka untuk peduli terhadap para muridnya. Mereka melakukan tindakan-tindakan untuk memenuhi kebutuhan para muridnya yang belum terpenuhi. Guru yang peduli memandang para muridnya lebih penting daripada pelajarannya. Guru memahami bahwa tugas mereka adalah menyediakan sebuah lingkungan di mana para murid dapat belajar isi pengetahuan spesifik sehingga mereka berkembang menjadi pribadi-pribadi yang peduli. Guru yang peduli mengembangkan hubungan-hubungan dengan para muridnya, mendengarkan para muridnya, menciptakan sebuah suasana yang hangat, mengetahui para murid secara individual, memperlihatkan empati, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan akademik dan emosional para muridnya.

Pengajaran yang peduli melibatkan hubungan-hubungan yang tulus dan bermakna antara para guru dan para muridnya yang mempercepat pertumbuhan dan belajar para muridnya. Lingkungan belajar yang peduli memungkinkan para murid merasa aman, memungkinkan para murid membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Bekerja bersama-sama dengan orang lain. Sedangkan para guru dalam kelas-kelas ini bertugas menghubungkan hal-hal tersebut dengan minat, budaya, dan pengalaman belajar terdahulu para muridnya.

Bulach, Brown, and Potter (1998) menyatakan perilaku-perilaku yang perlu dikembangkan oleh para guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang peduli adalah:

1) Kemampuan untuk mengurangi kecemasan

2) Keinginan untuk mendengarkan

3) Menghargai perilaku-perilaku yang pantas

4) Menjadi seorang teman

5) Menggunakan kritikan positif dan negatif secara tepat

Harapannya adalah ketika kita mampu menunjukkan kepedulian kita pada murid di sekolah, maka anak-anak kita di sekolah akan mampu mengembangkan pengetahuan yang kokoh dan terpercaya tentang diri mereka, masyarakat mereka, dan dunia. Untuk mengembangkan pengetahuan yang terpercaya, mereka harus belajar dalam situasi hubungan-hubungan yang juga terpercaya. Mereka harus merasa aman untuk membagi pengetahuan yang mereka miliki sebagaimana mereka percaya pada hubungan segitiga yang terpercaya antara guru, murid dan orangtua. Dalam membangun kepercayaan pada diri sendiri maupun orang lain, mereka bertindak secara politis dengan membagikan dan menyembunyikan pengetahuan berdasarkan pemahaman-pemahaman mereka dalam hubungan-hubungan di dalam kelas. Mereka secara cerdas belajar dari dalam kelas mengapa sebuah sebuah hubungan terputus karena rusaknya sebuah kepercayaan yang sedang mereka bangun. Mereka belajar mengenali gangguan-gangguan hubungan seperti itu dengan mengamati perilaku-perilaku seperti tanggap-tidaknya seorang guru terhadap situasi-situasi yang muncul dalam kelas (Raider-Roth, 2005)

Berikut ini beberapa kiat praktis yang bisa dilakukan para guru di sekolah untuk menumbuhkankan kepedulian antara lain:

1. Secara aktif mendengarkan para murid

2. Melakukan kontak mata dengan para murid

3. Membantu para murid atas pekerjaan rumahnya

4. Menggunakan metode pengajaran yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individual setiap muridnya

5. Memberikan penjelasan-penjelasan yang jelas tentang penugasan-penugasan yang diberikan pada para murid

6. Mengecek dengan tujuan untuk memahami kemampuan murid

7. Menyediakan bahan-bahan yang diperlukan para murid

8. Memajang hasil karya para murid

9. Melakukan penyesuaian-penyesuaian jadwal bila diperlukan

10. Memelihara sebuah lingkungan belajar yang aman

11. Menerapkan manajemen kelas secara konsisten

12. Menghabiskan waktu di luar kelas dengan para murid

13. Bekerjasama dengan rekan kerja lainnya

14. Memanggil nama para murid ketika berhubungan dengan mereka

15. Menggunakan gaya komunikasi yang positif

16. Mengungkapkan harapan yang tinggi bagi semua muridnya

17. Meminta pendapat para murid

18. Mengenali para murid secara individual atas prestasinya di dalam maupun di luar kelas.

19. Melakukan komunikasi dengan para orangtua

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |8 Comments »

Mengenali Profesionalisme Guru

Mengenali Profesionalisme Guru

Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa guru yang profesional merupakan salah satu indikator penting dari sekolah berkualitas. Guru yang profesional akan sangat membantu proses pencapaian visi misi sekolah. Mengingat strategisnya peran yang dimiliki oleh seorang guru, usaha-usaha untuk mengenali dan mengembangkan profesionalisme guru menjadi sangat penting untuk dilakukan.

INTASC, sebuah organisasi yang didirikan sebagai respon terhadap meningkatnya kesadaran tentang pentingnya pengetahuan profesionalisme dalam pengajaran dan bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru-guru pemula, mengembangkan 10 prinsip penting profesionalisme guru, yaitu:

1. Penguasaan terhadap mata pelajaran yang diampu. Seorang guru seharusnya memahami konsep-konsep dasar, instrumen-instrumen untuk menguji, dan struktur-struktur dari mata pelajaran yang diajarkan, serta dapat menciptakan pengalaman-pengalaman belajar yang dapat membuat seluruh aspek mata pelajaran menjadi bermakna bagi para muridnya.

2. Penguasaan terhadap belajar dan perkembangan manusia. Para guru memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang, dan dapat menyediakan kesempatan-kesempatan belajar yang mendukung perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual mereka.

3. Penguasaan strategi pengajaran. Para guru memahami dan menggunakan strategi pengajaran yang bervariasi untuk mendorong perkembangan berpikir kritis, penyelesaian masalah, dan keterampilan-keterampilan penting murid-muridnya.

4. Adaptasi strategi pengajaran. Para guru memahami bagaimana para siswa berbeda dalam pendekatan-pendekatannya ketika belajar sehingga mereka menciptakan strategi-strategi pengajaran yang sesuai dengan keragaman siswanya.

5. Motivasi dan manajemen. Para guru menggunakan pemahaman perilaku dan motivasi individu maupun kelompok untuk menciptakan sebuah lingkungan belajar yang mendorong interaksi sosial yang positif, keterlibatan yang aktif dalam belajar, dan motivasi diri.

6. Keterampilan komunikasi. Para guru menggunakan komunikasi verbal, nonverbal, dan media yang efektif untuk mengembangkan penyelidikan, kolaborasi, dan interaksi yang saling mendukung di dalam kelas.

7. Perencanaan. Para guru merencanakan pengajaran berdasarkan pengetahuan mereka tentang mata pelajaran, murid, komunitas, dan tujuan-tujuan kurikulum.

8. Asesmen. Para guru memahami dan menggunakan strategi-strategi asesmen yang formal maupun informal untuk mengevaluasi dan memastikan perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual para murid.

9. Komitmen. Guru adalah seorang praktisi yang selalu merefleksikan dan mengevaluasi secara terus menerus pengaruh-pengaruh dari pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya terhadap orang lain (murid, orangtua, dan profesional lain dalam komunitas pembelajaran), dan selalu aktif mencari kesempatan-kesempatan menumbuhkan profesionalismenya.

Kemitraan. Para guru mengembangkan hubungan-hubungan dengan rekan profesi, orangtua, dan pihak-pihak lain dalam komunitas yang lebih luas untuk mendukung belajar dan kesejahteraan murid-muridnya.

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |3 Comments »