Archive for the 'Sharing' Category

Bagaimana Membesarkan Hati Anak?

Alhamdulillahirobbil'aalamiin. Membesarkan hati anak-anak bukan semata menunjukkan kehangatan dan penerimaan, tetapi juga membantu mereka belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Membesarkan hati membantu mereka untuk percaya pada diri mereka dan pada kemampuan yang mereka miliki. Sebagai contoh, seorang yang anak menjawab salah pada 5 soal dari 25 soal yang dia kerjakan. Orangtua yang membesarkan hati akan memberikan penekanan pada 20 soal yang dijawab benar oleh anaknya daripada 5 jawaban yang salah. Dengan memberi penekanan pada yang positif, orangtua memberi anaknya umpanbalik bahwa dia oke. Penerimaan menumbuhkan perasaan berharga dalam diri anak.

Pendekatan membesarkan hati juga penting bagi para orangtua yang terbiasa mematahkan semangat anak. Kita mematahkan semangat anak ketika menetapkan standar tinggi yang tidak masuk akal, seperti mengharapkan anak-anak untuk mengerjakan dengan baik dalam semua usaha atau mengharapkan kamar mereka selalu rapi. Kita juga mengecilkan hati anak ketika kita mempromosikan kompetisi di antara anak-anak laki dan anak perempuan kita atau kita menggunakan standar ganda ketika kita mengharapkan kebersihan ruangan pada satu anak, sementara pada anak lainnya tidak.

Membesarkan hati artinya menekankan pada hal yang positif. Menggunakan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan penerimaan dan mengakui usaha-usaha dan pencapaian-pencapaian anak, seperti,"Ayah suka cara Mbak Lia menangani masalah tersebut!","Ibu senang Hasany dan Rasikh menikmati kegiatan tadi!","Tampaknya Kak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh menikmati perjalanan liburan  ke rumah kakek-nenek di Ciamis!

Membesarkan hati juga melibatkan penggunaan komunikasi dan ungkapan yang menunjukkan kepercayaan orangtua terhadap anak-anak, misalnya,"Tahu Kak Lia yang terpilih, ayah percaya semua akan berjalan sebagaimana yang direncanakan!","Mas Hasany dan Mas Rasikh pasti bisa membuatnya!", "Ibu percaya pada keputusan yang Kak Lia ambil.","Ini tampaknya sulit, tapi Ibu percaya kalian bisa mencari jalan keluarnya!"

Membesarkan hati juga menekankan pada kontribusi yang dibuat anak dan menunjukkan apresiasi terhadap anak melalui pernyataan-pernyataan seperti,"Terima kasih Mbak Lia sayang, ibu sangat terbantu!","Kak Hasany baik hati mau berbagi mainannya sama Dek Rasikh!","Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh sayang, terima kasih, ayah dan ibu benar-benar menghargai kesediaan kalian untuk tinggal bersama kakek-nenek sementara waktu karena itu membuat tugas ayah dan ibu jadi lebih mudah.","Ibu membutuhkan bantuan Kak Lia untuk membersihkan halaman depan rumah!"

Bagian terpenting dari membesarkan hati adalah mengakui usaha-usaha dan kemajuan-kemajuan yang ditunjukkan anak melalui ungkapan-ungkapan seperti,"Ayah lihat Kak Hasany benar-benar bekerja keras membuat istana pasir!","Ibu perhatikan Mas Rasikh menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan jalan keluar dari persoalan ini!","Lihat kemajuan yang sudah Kak Lia buat!","Kak Lia mungkin merasa belum mencapai apa yang diimpikan, tapi coba lihat seberapa jauh Kak Lia sudah melangkah!"

Alasan utama menggunakan pendekatan ini (membesarkan hati anak) adalah untuk menunjukkan kepercayaan orangtua terhadap anak-anak agar mereka percaya pada diri mereka sendiri, menerima diri mereka apa adanya, menekankan aspek positif dari perilaku mereka sendiri, mengakui usaha-usaha dan kemajuan-kemajuan yang mereka tunjukkan, dan memperlihatkan apresiasi terhadap kontribusi yang mereka buat.

Alhamdulillahirobbil'aalamiin.

Published in:Sharing |on September 10th, 2011 |10 Comments »

Berbahagialah Menjadi Seorang Muslim

Berbahagialah Menjadi Seorang Muslim

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Ya, berbahagialah menjadi seorang muslim. Menjadi seorang muslim memungkinkan kita menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini karena semua urusan yang dialaminya menjadi baik. Al Qur'an memberikan kita bagaimana memberikan sikap terbaik menghadapi setiap peristiwa yang dipertunjukkan dan diperjalankan Allah SWT kepada kita. Baik peristiwa-peristiwa kehidupan yang secara subjektif manusiawi kita sering menyebutnya sebagai sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, menggairahkan, maupun peristiwa-peristiwa yang menyakitkan, menyedihkan, dan memalaskan. Peristiwa-peristiwa yang semuanya didesain dengan sangat sempurna oleh Allah SWT

Published in:Sharing |on January 22nd, 2009 |6 Comments »

Alhamdulillahirabbal'aalamiin

Salah satu episode kehidupan yang telah ditetapkan Allah SWT kini mulai kujalani. Sebuah perjalanan yang sesungguhnya bila dilacak ke belakang, tentu bukanlah sebuah perjalan yang tiba-tiba muncul. Sebuah perjalanan yang mudah-mudahan penuh barakah dan semakin mendekatkan saya kepada pemilik kehidupan yang sesungguhnya.

Published in:Sharing |on October 27th, 2008 |3 Comments »

Alle Anfang Nicht Schwer

  1. Mohon maaf atas semua kekhilafan yang pernah dilakukan, awal-akhir, dahir bathin, dunia akhirat
  2. Mohon do'a agar Allah SWT memberi saya dan keluarga saya kemudahan, barakah, dan semakin mendekatkan kami kepada Allah SWT
  3. Terima kasih untuk selalu mendukung, mendo'akan, dan mengharapkan saya dan keluarga saya yang terbaik
  4. Jazakumullah khairan katsiira
Published in:Sharing |on October 21st, 2008 |5 Comments »

Sabar dan Syukur: Cara Terbaik Mensikapi Taqdir

Sabar dan Syukur: Cara Terbaik Mensikapi Taqdir

By

Irwan Nuryana Kurniawan

Beruntunglah menjadi seorang muslim karena Allah SWT secara lengkap dan sempurna telah menyediakan panduan hidup terbaik dan contoh manusia terbaik yang dapat dijadikan model terbaik dalam menjalani kehidupan sementara di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Termasuk tentunya di sini bagaimana mensikapi dengan benar persoalan-persoalan hidup yang pasti akan kita temui, karena dengan persoalan-persoalan itulah sesungguhnya Allah SWT menguji sejauhmana meningkatkan kualitas ketaqwaan seseorang di sisi Allah SWT.

Taqdir baik dan buruk merupakan ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT kepada setiap hambaNya. Sebagai contoh, kematian itu pasti akan datang menemui kita meskipun sangat mungkin kita merasa belum siap menghadapinya. Begitu juga bagaimana bentuk kehidupan kita setelah kematian—apakah mendapatkan kehidupan yang dicintai, diberkahi, dan diridhai Allah SWT atau sebaliknya—juga merupakan sebuah kepastian yang akan kita terima sebagai konsekuensi logis dari pilihan hidup yang dijalani selama diberi nafas kehidupan oleh Allah SWT. Menjalani kehidupan di dunia yang sangat-sangat singkat ini dibandingkan dengan kehidupan yang sesungguhnya di akhirat nanti dengan menjadi seorang muslim yang meniatkan seluruh kegiatan yang dipilihnya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT yang telah menganugerahinya begitu banyak nikmat sehingga dipastikan tidak akan mampu menghitungnya. Menjadi seorang muslim yang menjadikan kecintaan, keridhaan, dan perjumpaan denganNya sebagai tujuan hidupnya, menjadikan dunia sebagai batu loncatan untuk menggapai kesuksesan sejati di kehidupan akhirat yang sejati.

Demikian juga dengan kegembiran dan kesedihan, kesuksesan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, sehat dan sakit, ketenangan dan kecemasan, siang dan malam, kehidupan dan kematian, merupakan sebagian kecil contoh yang menunjukkan bahwa Allah SWT telah menyatakan dengan tegas bahwa hidup ini sesungguhnya penuh dengan kepastian, bukan kemungkinan-kemungkinan. Bahwa kebaikan yang kita usahakan, sekecil apapun menurut penilaian kita pasti akan dibalas dengan kebaikan yang lebih banya. Bahkan, ketika kita baru berniat akan melakukan kebaikan dan kita tidak jadi melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Apalagi ketika kita berniat melakukan kebaikan dan kemudian kita jadi melakukannya, maka Allah SWT mencatat di sisiNya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat bahkan sebanyak yang dikehendakiNya.

Tidaklah berlebihan bahwa menjadi seorang muslim pastilah menjadi orang paling berbahagia di muka bumi ini, karena apapun ketetapan Allah kepada hambaNya, kata Rasulullah SAW, semuanya pasti baik adanya. Sebagaimana diriwayatkan Muslim, dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan r.a, Rasulullah SAW bersabda"Sangat mengagumkan keadaan orang mukmin itu, sebab keadaan bagaimanpun baginya adalah baik dan tidak mungkin terjadi demikian, kecuali bagi orang mukmin saja. Jika mendapat nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya; dan bila menderita kesusahan ia bersabar, maka itupun baik baginya."

Ibnu Qayyim Al Jauziyah r.a dalam bukunya Kemulian Syukur dan Keagungan Sabar mengingatkan kita untuk memahami konsep sabar secara menyeluruh. Sabar itu bukan hanya mampu menahan dirinya dari dorongan nafsu kemarahan (Hilm), tapi juga mampu menahan nafsu birahinya sehingga kemaluannya terjaga dari berbagai perbuatan terkutuk (‘Iffah), mampu menahan diri untuk tidak makan secara berlebihan atau secara terburu-buru (syara nafs/syaba’ nafs), dan mampu menahan diri untuk tidak senantiasa tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu (Waqar/Tsabat). Jangan mengaku sabar ketika kita masih suka membeberkan rahasia, suka mencari kambing hitam karena sabar itu adalah kitman sirr (mampu menahan diri untuk tidak mengatakan apa saja yang seharusnya tidak dikatakan), muru’ah (mampu menahan diri untuk tidak melemparkan hal-hal yang tidak disukai kepada orang lain), dan syaja’ah (mampu menahan diri untuk tidak lari dan kabur dari masalah yang dihadapi). Orang sabar itu, lanjut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, zuhud/Qana’ah (mampu menjaga diri dari berbagai kelebihan dunia dan sanggup menyepelekannya; mengambil hanya sebagian kecil dari dunia untuk mencukupi kebutuhan, dermawan (mampu menahan diri untuk tidak pelit kepada orang lain), pemaaf/pemurah (mampu menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain, dan cerdik (mampu menahan diri untuk tidak berlaku malas dan ogah-ogahan dalam waktu yang seharusnya bergerak).

Maka, apapun yang ditetapkan Allah SWT kepada kita itu pasti baik adanya. Allah SWT tidak pernah memberi soal di luar kesanggupan kita untuk menyelesaikannya dan setiap soal itu pasti ada jawabannya. Jangan pernah terbersit sedikit pun dalam hati dan pikiran untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan dan sesudah kesulitan pasti ada kemudahan yang mengikutinya. Masihkah ada lagi alasan yang membuat kita terus menerus bersedih dan takut terhadap kehidupan dunia yang singkat, penuh permainan dan senda gurau ini?

Published in:Sharing |on September 6th, 2008 |14 Comments »

Mari Persembahkan Yang Terbaik Untuk Ummat

Mari persembahkan yang terbaik untuk ummat

Published in:Sharing |on July 29th, 2008 |1 Comment »