Archive for the 'Adventures in Parenting' Category

Modeling

“Kalau saya besar nanti, saya hanya ingin menjadi seperti ibu/ayah.”

Pernahkah anak-anak mengatakan seperti itu kepada Anda?

Ini merupakan sebuah pernyataan yang sedikit banyak menyenangkan bagi para orangtua. Di satu sisi, ini merupakan sebuah tantangan bagaimana caranya agar anak-anak kita mau memperhatikan apa yang kita lakukan; di sisi lain untuk menjadi seorang model dituntut tanggung jawab yang besar.

Model-model peran muncul dalam berbagai bentuk dan cakupan; mereka meliputi berbagai jenis pekerjaan; mereka dapat berasal dari desa atau dari kota. Sejumlah anak-anak mengambil altet sebagai model peran mereka; anak-anak lain menjadikan para pengarang atau para ilmuwan sebagai model perannya. Dan, percaya atau tidak, banyak anak-anak yang menjadikan orangtuanya sebagai model peran mereka.

Sudah sangat sering kita mendengar bahwa perilaku pengasuhan orangtua dipengaruhi oleh reaksi mereka terhadap pengalaman masa kanak-kanaknya. Sejumlah orangtua berpikir dan mengatakan,”Saya tidak pernah ingin menjadi seperti orangtuaku”; “Itu cukup baik untukku, maka akan cukup baik juga untuk anakku.” Ingatlah bahwa bereaksi—berbeda dengan memberikan respon—mencegah kita untuk membuat keputusan-keputusan yang dapat mengubah hasil dari situasi yang dihadapi. Untuk menjadi orangtua yang lebih efektif, lebih konsisten, lebih aktif, dan lebih atentif, cara terbaik adalah memfokuskan pada anak-anak kita dan kehidupan mereka.

Apakah ini berarti kita harus menjadi pribadi sempurna sehingga anak-anak kita juga akan tumbuh menjadi pribadi sempurna? Tentu tidak. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang sempurna. Yang perlu kita lakukan adalah menentukan contoh seperti apa yang akan dan sedang kita rancang untuk anak-anak kita

Kita mungkin ingin menjadi model peran seperti berikut :

Model yang melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikatakan dan mengatakan sesuatu sesuai dengan apa yang dilakukan

Anak-anak ingin bertingkah laku seperti model-model peran yang mereka lihat. Anak-anak belajar banyak—bahkan lebih banyak—dari tindakan-tindakan kita, daripada ucapan-ucapan kita. Jangan hanya meminta anak-anak untuk menelpon rumah jika mereka akan pulang terlambat. Pastikan kita juga menelpon rumah ketika kita akan pulang terlambat. Jangan hanya mengatakan kepada anak-anak untuk tidak berteriak ketika mereka sedang berbicara pada kita. Pastikan kita juga tidak berteriak ketika kita berbicara pada anak-anak atau dengan orang lain. Bentuk konsistensi ini sangat membantu anak-anak kita untuk memahami adanya pola-pola hubungan antara sikap dan perilaku yang dapat dipercaya.

Model yang memperlihatkan penghormatan kepada orang lain, termasuk anak-anak kita

Bagi sejumlah anak, kata menghormati sulit untuk dimengerti. Mereka mengetahui menghormati merupakan sebuah konsep yang penting, tetapi bukan sesuatu yang konkret, sesuatu yang dapat mereka sentuh. Untuk membantu anak-anak kita belajar memahami bagaimana melakukan perilaku menghormati, kita mungkin dapat memperlihatkan secara langsung kapan kita merasa dihormati.

Sebagai contoh, meskipun menurut kita corak pakaian yang dipilih anak tidak sesuai, sekali anak kita belajar memilih pakaian yang akan dikenakan, kita dapat menunjukkan penghargaan atas pilihan yang diambilnya tersebut. Katakan pada anak-anak kita,” Kami bangga dengan keputusanmu untuk memakai pakaian dengan corak kotak-kotak tersebut.”

Model yang jujur terhadap anak-anak tentang apa yang sedang kita rasakan.

Jika suatu waktu orang-orang dewasa mengalami kebingungan tentang emosi yang dirasakan, maka tidak mengherankan anak-anak juga mengalami kebingungan serupa. Sebagai contoh, kita mungkin sedikit marah setelah seharian mengerjakan begitu banyak tugas di kantor. Melihat kita marah kemungkinan anak-anak akan berpikir bahwa kita marah kepada mereka. Jika kita menemukan diri kita melakukan sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang kita lakukan, katakan kepada anak-anak bahwa mereka tidak bersalah atas perubahan perilaku kita tersebut.

Anak-anak bahkan dapat membantu kita karena meringankan suasana hati yang dialami atau membuat sikap kita berubah. Kita dapat mencegah perasaan terluka dan kebingungan yang dialami dengan bersikap terus terang kepada anak-anak tentang perasaan yang kita alami.

Pastikan bahwa anak-anak memahami bahwa dimarahi tidak berarti “tidak dicintai”

Pertentangan dan perbedaan pendapat merupakan suatu hal yang normal terjadi pada berbagai macam hubungan, termasuk hubungan dalam keluarga. Sejumlah anak beranggapan bahwa jika kita memarahi mereka, maka itu berarti kita tidak lagi mencintai mereka. Mereka belum mampu memisahkan cinta dari marah Meskipun Anda berpikir anak Anda memiliki emosi yang kuat, Anda mungkin ingin spesifik tentang hal ini. Dengan kata lain, Anda beresiko memiliki anak yang berpikir mereka tidak dicintai setiap saat ketika Anda tidak setuju. Apapun yang terjadi, perhatikanlah setiap perubahan dalam emosi anak Anda, sehingga Anda dapat melatih anak Anda mengatasi kemarahan atau kesedihan yang dialami tanpa perlu menolak pengalaman emosi tersebut.

Tunjukkan bahwa Anda tidak ingin anak Anda memainkan peran model tertentu dan pastikan bahwa kita juga tidak sedang melakukan hal tersebut.

Sebagai contoh, Andaikan anak kita menganggap seorang atlet olahraga sebagai modelnya. Jika kita mengetahui atlet olahraga tersebut memakai obat illegal atau secara fisik atau verbal menghina orang lain, akankah kita tetap menginginkan anak kita terus memperhatikan atlet tersebut? Mungkin tidak. Nah sekarang, gunakan standar yang sama pada perilaku kita sendiri. Jika kita tidak ingin anak-anak merokok, maka kita seharusnya tidak merokok. Jika kita ingin anak-anak berangkat sekolah tepat waktu, pastikan bahwa kita juga berangkat kerja dan hadir di pertemuan lainnya tepat waktu. Jika kita tidak ingin anak-anak berkata-kata kasar, jangan berkata-kata kasar di manapun, termasuk di hadapan anak-anak. Melihat kembali perilaku kita berarti jujur dengan diri sendiri, tentang diri kita sendiri. Kita mungkin membutuhkan sejumlah perubahan tentang bagaimana kita bertindak. Tapi yang pasti, pada akhirnya kita dan anak-anak akan mendapatkan keuntungannya.

Published in:Adventures in Parenting |on March 26th, 2009 |10 Comments »

Mentoring

Menjadi mentor bagi anak kita untuk mendukung dan menumbuhkan perilaku-perilaku yang dikehendaki

Ketika dulu kita sedang tumbuh, apakah kita memiliki seseorang yang khusus dalam kehidupan kita, seseorang yang mengerjakan sesuatu bersama-sama kita, seseorang yang memberikan nasihat kepada kita, atau seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah kita? Seseorang ini mungkin saudara kandung kita, atau teman keluarga kita yang usianya lebih tua dari kita. Jika demikian, maka kita memiliki seorang mentor.

Sejak awal tahun 1980-an, program mentoring formal yang memasangkan anak-anak dengan para mentor yang terlatih telah menunjukkan keberhasilan yang tinggi. Mentoring, apakah berbentuk dalam sebuah hubungan informal atau sebuah program formal, sama-sama memiliki satu tujuan yang jelas: membimbing anak-anak dan remaja kita untuk menjadi orang dewasa yang sehat dan bahagia.

Para mentor membantu anak-anak mencapai potensinya secara penuh, yang mungkin mencakup menerima kesalahan-kesalahan dan tangisan-tangisan, seperti halnya menerima kesuksesan-kesuksesan dan senyuman-senyuman

Sekarang kita mengetahui bahwa semua anak-anak membutuhkan seorang mentor. Tapi, tahukah Anda bahwa orangtua adalah mentor yang terbaik?

· Apa artinya menjadi seorang mentor?

Seorang mentor adalah seseorang yang memberikan dukungan, bimbingan, persahabatan, dan penghargaan terhadap anak-anaknya. Kedengarannya hebat. Tetapi, apa sih makna sebenarnya dari mentor?

Menjadi seorang mentor itu seperti menjadi seorang palatih sebuah team olahraga. Seorang pelatih yang handal mengenali kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan setiap pemainnya dan mencoba membangun kekuatan-kekuatan tersebut dan mengatasi kelemahan-kelemahan. Pada prakteknya, para pelatih berdiri di belakang dan menyaksikan strategi yang dilakukan pemainnya, memberikan nasihat tentang apa yang seharusnya dilakukan pemain. Meskipun demikian, para pelatih mengetahui bahwa para pemain itu sendiri yang nantinya membuat keputusan di lapangan.

Para pelatih secara cermat mencatat perbaikan yang ditunjukkan setiap pemain dan secara jujur memuji atas setiap kemajuan yang diperlihatkan pemain tersebut. Para pelatih mendengarkan apa yang dikemukakan para pemainnya dan mencoba membangun kepercayaan diri para pemain. Para pelatih memberikan kesempatan kepada setiap para pemain untuk bermain ketika giliran mereka tiba.

Para mentor mengerjakan hal yang sama: mengembangkan kelebihan-kelebihan seorang anak, bersama-sama melakukan sesuatu yang menjadi minat anak, mengemukakan nasihat dan dukungan, memberikan pujian, mendengarkan, dan menjadi teman. Para mentor membantu anak-anak mencapai pontensinya secara penuh, termasuk menerima kesalahan-kesalahan dan tangisan-tangisan seperti halnya menerima kesuksesan-kesuksesan dan senyuman-senyuman. Para mentor tahu bahwa kegagalan-kegagalan kecil seringkali merupakan langkah awal dari sebuah kesuksesan besar. Menyadari adanya fakta tersebut, para mentor akan terus mendorong anak-anak untuk tetap mencoba karena kesuksesan itu hanya berada di sudut yang lain.

Apa yang dapat saya lakukan untuk menjadi seorang mentor?

Tidak ada kekuatan magis yang memungkinkan seseorang menjadi seorang mentor yang handal. Hanya dengan menyempatkan waktu bersama anak-anak akan membantu kita menjadi seorang mentor. Kita dapat melakukan suatu hal yang biasa bersama-sama anak-anak, misalnya pergi ke grosir bersama-sama. Kita juga dapat melakukan sesuatu yang spesial dengan anak-anak, seperti pergi ke musium atau menonton konser bersama-sama. Bagian terpenting adalah kita melakukan sesuatu secara bersama-sama, termasuk melakukan komunikasi satu sama lain.

Kita mungkin perlu mengingat beberapa hal penting untuk menjadi seorang mentor yang handal:

1. Jujurlah dengan kekuatan dan kelemahan yang kita miliki

Jika kita mengetahui jawaban atas sebuah pertanyaan, katakan ya; jika tidak mengetahuinya, katakan juga tidak tahu. Untuk membangun sebuah hubungan dengan anak-anak kita yang penuh kepercayaan, kita hanya perlu menjadi seorang manusia. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan; kita dan anak-anak juga pernah melakukannya. Melalui komunikasi, anak-anak akan mendapatkan pelajaran dari kesalahan yang kita lakukan, termasuk apa-apa yang kita pikirkan sebelum kita melakukannya, bagaimana pikiran kita berubah setelah kita melakukan hal tersebut, dan bagaimana kita mengubah pikiran-pikiran atau perilaku-perilaku kita untuk menghindari kesalahan serupa di masa yang akan datang. Seorang anak yang berpikir bahwa orangtuanya adalah orang yang sempurna akan mengembangkan harapan-harapan bahwa orangtua mereka sendiri tidak mungkin hidup seperti itu.

2. Hargai pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat anak-anak kita tanpa perlu menghakiminya

Meskipun kita tidak setuju dengan apa yang dipilih anak-anak, tanyakan secara baik-baik—tanpa menimbulkan rasa takut akan dikenakan hukuman karena tidak sesuai dengan kehendak orangtua—kepada anak-anak pikiran-pikiran apa yang mendasari pilihan yang mereka ambil. Jika anak-anak takut terkena hukuman, kemungkinan besar mereka tidak akan mau menceritakannya secara menyeluruh. Mari kita hargai sudut pandang yang berbeda atas sesuatu; Hal ini akan melatih anak-anak kita untuk memikirkan lebih banyak alternatif terhadap sebuah isu. Ingatlah bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar antara ,”Saya tidak setuju dengan apa yang kamu katakan,” dengan “Kamu salah.”

3. Dukung minat dan kekuatan anak-anak kita , tetapi jangan memaksanya

Anak-anak menghabiskan masa kanak-kanaknya untuk mengetahui siapa dirinya, bagaimana dunia ini bekerja, dan bagaimana mereka menyesuaikan diri terhadap dunia tersebut. Kita harus yakin bahwa anak-anak kita memiliki kesempatan yang cukup luas untuk melakukan eksplorasi. Jika anak-anak kita tidak memiliki minat dalam sebuah aktivitas atau suatu topik, jangan memaksa mereka untuk menyukainya. Mengapa demikian? Karena mereka melakukan aktivitas tersebut dengan ketakutan dan keterpaksaan, maka lambat laun mereka akan mencari-cari cara bagaimana menghindari aktivitas tersebut.

4. Kenalkan anak-anak kita pada sesuatu yang kita sangat suka mereka untuk melakukannya.

Ini merupakan cara yang paling efektif agar anak-anak kita belajar lebih jauh tentang siapa orangtuanya. Kadang-kadang sulit bagi anak-anak kita untuk mengenali hal-hal apa yang disukai orangtuanya karena orang lain pun melakukan hal yang sama, seperti memainkan sebuah alat musik, menjadi sukarelawan pada asrama perawat, menonton film, bermain olahraga, atau pengetahuan tentang seni. Jika anak-anak sering melihat kita melakukan sesuatu yang sangat disukai, maka kita akan “menjadi orangtua yang dikenal” daripada “menjadi sekedar orangtua”.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana sejumlah orangtua memasukan mentoring ke dalam aktivitas sehari-hari pengasuhan mereka, beralihlah ke bagian buku ini yang berhubungan dengan berapa usia anak kita. Atau lanjutkan untuk membaca bagian modelling.

Mentoring memberi anak-anak kita dukungan yang dibutuhkan untuk menjadi orang yang mereka inginkan. Sekarang, bagaimana dengan Anda? Apakah kita adalah orang yang seperti kita inginkan? Cobalah beberapa saat untuk berpikir tentang menjadi model yang lebih baik untuk anak-anak kita.

Published in:Adventures in Parenting |on March 25th, 2009 |1 Comment »

Monitoring: Mengawasi dengan Siapa dan Lingkungan Seperti Apa Anak-anak Kita Berinteraksi

Monitoring: Mengawasi dengan Siapa dan Lingkungan Seperti Apa Anak-anak Kita Berinteraksi

Apakah kita perlu menjadi seorang superhero dengan pandangan setajam sinar X dan mata-mata di belakang kepala kita untuk menjadi seorang pengawas yang baik? Tentu tidak. Kita tidak perlu setiap menit setiap harinya terus menerus bersama anak-anak. Menjadi seorang pengawas yang baik menggabungkan kemampuan bertanya dan memberi perhatian, dengan membuat keputusan-keputusan, menentukan batasan-batasan, dan mendorong anak-anak mengambil pilihan-pilihan yang positif ketika kita tidak ada.

Ketika anak-anak kita masih kecil, pengawasan tampaknya mudah karena kita adalah orang yang paling menentukan dalam membuat sebuah keputusan. Kita yang memutuskan diasuh siapa anak-anak kita; kita yang memutuskan apa yang boleh dilihat atau didengar anak-anak; kita yang memutuskan dengan siapa anak-anak kita boleh bermain. Jika terjadi sesuatu atau seseorang muncul berinteraksi dengan anak-anak, kita biasanya adalah salah satu orang yang pertamakali mengetahuinya Segala sesuatunya kemungkinan berubah karena anak-anak kita bertambah tua usianya, terutama setelah mereka mulai sekolah dan memasuk usia pra remaja dan remaja. Karena anak-anak mulai belajar tentang kepribadian mereka sendiri, mereka kadang-kadang mengalami pertentangan dengan orangtuanya. Akibatnya, akses orangtua untuk secara aktif mengawasi seringkali menjadi terganggu..

Para orangtua perlu mencermati setiap perubahan yang terjadi ketika anak-anak datang dan pergi, sesuai dengan usia dan tahapan pertumbuhan mereka. Untuk mengetahui apakah kita sudah menjadi pengawas yang aktif, cobalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar berikut ini:

§ Dengan siapa anak-anak kita bermain, belajar, kemah bersama, dan sebagainya?

§ Apa saja yang kita ketahui tentang orang-orang yang sering bersama anak-anak kita?

§ Di mana anak-anak kita sekarang, kemana mereka sering pergi?

§ Apa yang sedang anak-anak kita kerjakan sekarang?

§ Kapan anak-anak kita berada di rumah atau pergi keluar ?

§ Bagaimana anak-anak kita sampai di tempat tujuan, bagaimana mereka pulang ke rumah?

Kita mungkin tidak akan memiliki secara detail seluruh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Akan tetapi, sangat penting bagi kita untuk banyak mengetahui jawaban-jawaban atas sebagian besar pertanyaan tersebut setiap saat

Kita juga perlu memperhatikan hal-hal berikut jika ingin menjadi seorang pengawas yang aktif:

1. Kembangkan komunikasi dua arah sejak anak-anak kita masih kecil dan pelihara kejujuran dalam komunikasi terbuka tersebut.

Kelihatannya sepele, tetapi komunikasi yang jujur merupakan sesuatu yang sangat krusial. Ketika anak-anak kita masih kecil, katakan secara terus terang apa saja yang kita lakukan ketika kita tidak bersama-sama mereka; kemudian tanyakanlah kepada anak-anak kita apa saja yang mereka kerjakan selama waktu tersebut. Karena anak-anak kita bertambah tua, pertahankan bentuk komunikasi seperti ini. Kita maupun anak-anak sama-sama harus ambil bagian dalam komunikasi yang terbuka, komunikasi dua arah.

2. Katakan pada anak-anak tentang pikiran-pikiran dan ideal-ideal yang kita anggap berharga dan mengapa kita menganggap demikian.

Sebagai contoh, jika menghormati orang dewasa merupakan sebuah ideal yang kita berharap anak-anak kita memilikinya, katakanlah padanya; bahkan lebih baik jika kita kemukakan alasan mengapa kita menganggap hal tersebut penting. Jangan berasumsi bahwa anak-anak kita tahu alasan-alasan mengapa kita menganggap sebuah kebiasaan atau cara berperilaku tertentu dianggap penting daripada kebiasaan atau cara berperilaku lainnya.

3. Ketahuilah apa saja yang sedang anak-anak kita saksikan, bacakan, mainkan, atau dengarkan

Karena TV, video games, internet, dan musik merupakan bagian besar dari kehidupan kita, maka semua hal tersebut dapat memberi pengaruh besar pada anak-anak. Kita harus mengetahui apa saja yang mempengaruhi anak-anak kita. Kita tidak akan mampu membantu anak-anak kita membuat pilihan positif jika kita tidak tahu website apa yang mereka kunjungi, apa saja yang dia baca, apa saja yang dia dengarkan, atau apa saja yang dia mainkan.

4. Kenali orang-orang yang sering menghabiskan waktu bersama anak–anak kita

Karena kita tidak bisa bersama anak-anak setiap saat, maka sudah seharusnya kita mengenal lebih jauh siapa yang bersama anak-anak ketika kita tidak ada. Teman-teman memiliki pengaruh sangat besar terhadap anak-anak kita, mulai masa prasekolah sampai masa dewasa. Selama rentang waktu ini teman-teman memiliki pengaruh positif, meskipun tidak selalu demikian.

Dengan sedikit usaha dari kita, anak-anak kita mungkin bergabung dengan teman-teman yang memiliki nilai-nilai, minat-minat, dan perilaku-perilaku yang nantinya akan memberi nilai positif bagi kehidupan anak-anak kita.

Anak-anak kita juga banyak menghabiskan waktu dengan guru-gurunya. Para guru memainkan peran penting dalam keseluruhan perkembangan dan kesejahteraan anak-anak kita. Jadi, kenali lebih jauh juga guru-guru anak kita.

5. Memberikan arahan tanpa kita harus menjadi kaku

Dalam sejumlah kasus, tidak mengijinkan anak-anak kita untuk melakukan sesuatu justru mendorong anak-anak lebih ingin melakukannya. Pertanyaan yang mendorong jawaban“ tidak” atau “Ya, tetapi hanya jika…”merupakan sebuah pilihan yang sangat berguna dalam memberikan arahan terhadap anak-anak kita tanpa harus menjadi kaku.

Untuk menemukan bagaimana sejumlah orangtua menggunakan pengawasan dalam praktek-praktek pengasuhan dalam kehidupan sehari-hari, beralihlah ke bagian buku ini yang sesuai dengan usia anak kita.

Mari kita melanjutkan untuk membaca prinsip mentoring. Menjadi mentor bagi anak-anak dapat membuat anak-anak kita terjaga dari terluka dengan mendorongnya untuk bertindak dalam cara-cara yang penuh perhitungan. Sekarang mari kita lanjutkan tentang prinsip mentoring.

Published in:Adventures in Parenting |on March 25th, 2009 |4 Comments »

Responding:Menanggapi anak kita dengan cara-cara yang tepat

Prinsip pertama dalam pendekatan RPM3 ini tampaknya mudah. Akan tetapi, memberi respon lebih dari sekedar memberi anak-anak kita perhatian. Memberikan respon mencakup dua hal. Pertama, kita harus yakin bahwa kita sedang memberi respon terhadap anak-anak, bukan sedang bereaksi. Kedua, kita harus yakin bahwa respon kita tepat, tidak berlebihan atau tidak proporsional, sangat minimal atau sangat terlambat.

Apakah kita bereaksi atau berespon terhadap anak kita?

Banyak orangtua bereaksi terhadap anak-anaknya. Mereka menjawab dengan kata-kata, perasaan, atau tindakan yang pertama kali muncul dalam benaknya. Ini merupakan sesuatu yang normal terjadi, terutama jika semua orang di sekitarnya melakukan hal yang sama setiap harinya.

Waktu yang kita miliki antara menyaksikan sebuah peristiwa dengan bertindak, berbicara, atau berperasaan sangat penting bagi hubungan kita dengan anak-anak k

ketika kita bereaksi, kita tidak memikirkan hasil yang apa kita kehendaki dari sebuah kejadian atau tindakan. Bahkan lebih dari itu, jika kita bereaksi, kita tidak dapat memilih cara terbaik untuk mencapai hasil yang kita inginkan.

Memberikan respon terhadap anak-anak kita itu artinya kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan sebenarnya apa yang sedang terjadi sebelum kita berbicara, berperasaan, atau bertindak sesuatu. Memberikan respon lebih sulit daripada bereaksi karena menuntut lebih banyak waktu dan usaha.

Waktu yang kita ambil antara melihat peristiwa dan bertindak, berbicara, atau berperasaan sangat penting bagi hubungan kita dengan anak-anak kita. Waktu tersebut, apakah beberapa detik, lima menit, satu hari atau dua hari, memungkinkan kita melihat sesuatu dengan lebih jelas, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang kita kehendaki dari anak-anak di masa yang akan datang.

Apakah yang dimaksud dengan sebuah respon yang tepat?

Sebuah respon dikatakan tepat jika respon tersebut sesuai dengan situasi. Usia anak kita dan informasi-informasi khusus dari sebuah peristiwa adalah penting dalam memutuskan apakah sebuah respon dikatakan tepat. Sebagai contoh, respon yang tepat untuk seorang bayi yang sedang menangis menjadi tidak pas jika diberikan respon yang serupa pada anak usia 4 atau 10 tahun yang juga sedang menangis. Ketepatan respon terhadap anak yang sedang berlari tergantung pada situasi, apakah anak tersebut sedang berlari menuju jalan yang ramai kendaraan atau sedang berlari menuju tempat bermain. Kebutuhan-kebutuhan fisik atau emosional anak-anak kita juga mempengaruhi apakah respon yang kita berikan sudah tepat atau tidak.

Berespon terhadap anak kita dalam cara-cara yang tepat memungkinkan kita untuk:

§ Berpikir tentang semua pilihan sebelum kita mengambil sebuah keputusan.

Ini akan membantu kita memilih cara yang terbaik dari situasi sekarang untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Mengambil waktu sejenak untuk melihat sebuah masalah dari berbagai sisi, sebagai contoh, membuat kita memiliki kemungkinan untuk memilih respon yang paling tepat. Jika situasi-situasi seperti ini sering terjadi, maka respon kita—pikiran—dapat menjadi otomatis, seperti halnya saat kita menggendong bayi yang sedang menangis

§ Menjawab sejumlah pertanyaan mendasar:

Apakah ucapan kita sesuai dengan apa yang sedang kita pikirkan? Apakah tindakan kita sesuai dengan ucapan kita? Apakah emosi kita terlibat dalam cara kita mengambil keputusan? Apakah kita tahu alasan-alasan yang mendasari perilaku anak-anak kita?

§ Mempertimbangan peristiwa sebelumnya yang serupa dan mengingatkan kembali bagaimana kita menangani peristiwa tersebut

Mengingatkan kepada anak-anak kita atas kejadian di waktu yang lalu dan bagaimana akibatnya akan menunjukkan kepada mereka bahwa kita benar-benar memikirkan keputusan yang diambil. Kita dapat menggunakan pengalaman masa lalu kita untuk menilai situasi sekarang, memutuskan hasil seperti apa yang kita kehendaki, dan menunjukkan bagaimana cara mencapai hasil tersebut.

§ Menjadi orangtua yang lebih konsisten

Anak-anak akan tahu bahwa kita tidak asal-asalan dalam membuat keputusan, terutama jika kita menjelaskan mengapa kita memilih untuk membuat keputusan tersebut. Anak-anak kemungkinan besar akan datang kepada kita dengan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang mereka hadapi jika mereka tahu apa yang kita harapkan dari mereka. Respon-respon yang penuh kehangatan, kepekaan dan kepedulian akan meningkatkan kemungkinan anak-anak untuk datang kepada kita dengan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah tersebut. Ingat, bahwa menjadi orangtua yang konsisten tidak berarti kita menjadi orangtua yang kaku.

§ Memberikan contoh bagaimana membuat sebuah keputusan yang bermakna

Sejalan dengan bertambahnya usia anak-anak kita, mereka akan mengetahui proses pembuatan keputusan yang kita lakukan dan menghargai waktu yang kita butuhkan dalam membuat keputusan tersebut. Anak-anak kita mungkin menjadikan itu sebagai pola bagi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan.

§ Membangun ikatan kepercayaan yang solid dan fleksibel antara kita dan anak-anak kita

Ikatan yang solid akan tahan terhadap berbagai situasi. Ikatan yang fleksibel memungkinkan anak-anak kita mampu bertahan menghadapi setiap perubahan, termasuk perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam hubungan kita dengan anak-anak.

Sekarang kita bisa melihat contoh-contoh atau lanjutkan untuk mempelajari prinsip Preventing dalam RPM3

Published in:Adventures in Parenting |on February 24th, 2009 |12 Comments »

Preventing: Mencegah Perilaku-perilaku Bermasalah atau Perilaku-Perilaku Beresiko

Kelihatannya cukup mudah. Kita rancang rumah sedemikian rupa sehingga aman bagi anak-anak dan kita yakin bahwa bayi kita yang sedang belajar merangkak atau anak-anak kita yang baru belajar berjalan tidak menyentuh produk-produk pembersih atau outlet listrik. Kita menyaksikan anak kita yang berumur 8 tahun sedang melompat-lompat dari atas tempat tidur dan kemudian memintanya supaya berhenti. Kita meminta anak kita yang berumur 12 tahun memakai helm saat dia mengendarai sepedanya, tanpa memperhatikan bagaimana perasaan anak kita atas penampilannya yang kelihatan’aneh’

Prevensi bukan sekedar mengatakan ’jangan’ atau ‘berhenti’. Ada dua hal penting dalam prevensi: 1) memetakan kemungkinan-kemungkinan permasalahan; dan 2) mengetahui bagaimana memecahkan permasalahan tersebut. Mari kita lihat masing-masing bagian tersebut lebih dekat.

Memetakan kemungkinan-kemungkinan permasalahan

Metode-metode berikut ini dapat kita gunakan untuk memetakan kemungkinan-kemungkinan permasalahan sebelum permasalahan tersebut menjadi krisis yang berat:

§ Libatkan diri secara aktif dalam kehidupan anak-anak kita

Keterlibatan orangtua secara aktif dalam kehidupan anak-anak sangat penting, tidak perduli apa yang menjadi latarbelakang kehidupan kita. Mengapa demikian? Dengan terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari anak-anak, kita akan mengetahui bagaimana biasanya anak-anak kita berpikir, berperasaan, dan bertindak. Pengetahuan ini akan membantu kita dalam mengenali perubahan-perubahan yang terjadi pada anak-anak kita. Sejumlah perubahan merupakan bagian alamiah dari pertumbuhan yang harus dilalui anak-anak kita. Sebagian perubahan lainnya mungkin merupakan tanda-tanda adanya gangguan yang perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius

§ Tentukan batasan-batasan yang realistik dan perkuat batasan-batasan tersebut secara konsisten

Tentukan secara selektif batasan-batasan tentang perilaku-perilaku paling penting apa yang kita harapkan dari anak-anak. Yakinkan bahwa kita dan anak-anak dapat “melihat” batasan-batasan tersebut secara jelas. Jika anak-anak melanggar batasan yang sudah ditetapkan, komunikasikan pada anak-anak dengan cara-cara yang sama jika itu terjadi pada situasi-situasi yang sama. Jika kita memutuskan untuk menghukum anak-anak, gunakan metode-metode yang paling efektif, seperti melarang anak-anak melakukan sesuatu yang menjadi kesukaannya dalam jangka waktu tertentu. Kita juga dapat memperbaiki perilaku anak-anak dengan menyatakan perilaku-perilaku apa yang diharapkan dari mereka.

Satu hal penting yang harus kita perhatikan ketika memutuskan untuk memberi hukuman adalah hukuman yang dikenakan pada anak-anak sesuai dengan kesalahan yang mereka lakukan. Hukuman dikatakan efektif ketika hukuman tersebut memberi kesempatan pada anak-anak untuk belajar bagaimana batasan-batasan tersebut bekerja dan apa yang terjadi ketika ketika mereka melampaui batasan-batasan tersebut. Mereka juga akan belajar bahwa kita telah berlaku adil terhadap mereka.

§ Ajari anak-anak kita cara-cara yang sehat dalam mengekspresikan emosi

Banyak perilaku nakal berasal dari ketidaktahuan anak-anak tentang bagaimana menangani emosi yang mereka alami. Saat-saat tertentu perasaan-perasaan tersebut dapat menjadi sedemikian kuat sehingga metode yang biasa mereka gunakan untuk mengekspresikan emosi menjadi tidak bekerja. Masalah ini juga bisa muncul karena perasaan-perasaan seperti marah atau sedih dianggap sebagai sesuatu yang negatif, sehingga anak-anak kita mungkin tidak ingin mengekspresikannya secara terbuka.

Doronglah anak-anak kita untuk mengekspresikan emosinya dalam cara-cara yang sehat dan positif. Beri mereka contoh cara-cara yang sehat dengan cara memperlihatkan bagaimana kita sendiri mengekspresikan emosi ketika kita mengalami berbagai macam emosi. Ketika mereka mengalami emosi-emosi tertentu, tanyalah mereka apa yang mereka rasakan dan mengapa mereka merasakan demikian. Yakinkan pada mereka bahwa semua emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seseorang, bukan hanya emosi baik atau emosi bahagia. Begitu mereka tahu bahwa emosi memiliki rentangan yang luas, maka mereka dapat belajar bagaimana mengatasi emosi-emosi yang dialami secara sehat dan tepat.

Mengetahui Bagaimana Memecahkan Masalah

Karena masalah yang dihadapi berbeda-beda, maka cara-cara yang kita gunakan untuk memecahkannya pun berbeda-beda. Kita membutuhkan berbagai macam metode yang lebih komplek untuk memecahkan berbagai masalah.

Berikut ini beberapa hal penting yang perlu kita pahami ketika sedang mencoba memecahkan sebuah masalah:

§ Ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian

Bicaralah dengan para orangtua lainnya, teman dekat atau saudara yang bisa dipercaya. Di antara mereka mungkin pernah atau sedang mengalami permasalahan yang sama seperti yang sedang kita hadapi. Mereka mungkin memiliki pemikiran-pemikiran tentang bagaimana memecahkan sebuah masalah dalam cara-cara yang mungkin tidak pernah terlintas dalam benak kita. Atau mereka mungkin bisa menjadi tempat berbagi perasaan-perasaan yang sedang kita alami, sehingga kita merasa menjadi lebih nyaman.

§ Akuilah bahwa memang ada masalah-masalah tertentu yang tidak dapat kita tangani sendiri atau menuntut keahlian khusus.

Penting untuk diingat bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang mengharapkan kita mampu memecahkan setiap masalah keluarga oleh kita sendiri. Sejumlah masalah justru terlalu besar untuk kita tangani sendiri, bukan karena kita adalah orangtua yang ‘buruk’, tetapi karena memang hakikat permasalahannya itu sendiri. Bersikaplah realistis tentang apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan sendiri.

§ Carailah bantuan, jika dibutuhkan

Kepada siapa kita dapat pergi mencari bantuan ?

§ Orangtua lain pekerja dan agen sosial

§ Anggota keluarga dan saudara psikolog dan psikiater

§ Teman-teman ulama/pendeta

§ Ahli pediatrik kelompok komunitas

§ Konselor sekolah dan perawat dukungan self-help

Akan ada waktu ketika kita benar-benar tidak tahu bagaimana menolong anak-anak kita; ketika kita benar-benar tidak mampu membantu anak-anak kita. Hal ini tidak menjadi masalah karena oranglain mungkin dapat menolong kita. Manfaatkan semua sumber daya yang kita miliki untuk memecahkan permasalahan kita, termasuk meminta pertolongan dari luar ketika kita membutuhkannya.

Jika Anda mau, carilah pada buku ini bagian yang sesuai dengan usia anak-anak kita untuk membaca lebih jauh tentang bagaimana sejumlah orangtua telah melakukan prevensi dalam keseharian pengasuhan mereka. Atau, Anda dapat membaca M3 dalam pendekatan RPM3

M3 dalam pendekatan RPM3 menggambarkan tiga prinsip sentral dalam proses pengasuhan: monitoring, mentoring, modelling. Sejumlah orangtua kebingungan oleh prinsip-prinsip ini karena tampak sama, padahal sebenarnya ketiganya benar-benar berbeda. Akan lebih mudah bagi kita untuk memahami prinsip-prinsip tersebut setelah kita membaca penjelasan berikut ini:

§ Menjadi seorang monitor berarti bahwa kita memberi perhatian secara penuh terhadap anak-anak kita dan lingkungan sekitarnya, terutama kelompok temannya dan teman sebaya serta kebiasaan-kebiasaan mereka di sekolah.

§ Menjadi seorang mentor berarti bahwa kita secara aktif membantu anak-anak kita belajar lebih tentang dirinya, bagaimana dunia ini bekerja, dan peran yang dapat mereka mainkan di dunia ini. Sebagai seorang mentor, kita juga akan mendukung apa-apa yang sedang mereka pelajari

§ Menjadi seorang model berarti menggunakan perkataan-perkataan dan perbuatan–perbuatan kita yang memperlihatkan keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, dan sikap-sikap kita sebagai contoh untuk anak-anak kita dalam kehidupan sehari-hari.

Sekarang, mari kita cermati lebih dekat satu persatu ketiga prinsip tersebut.

Published in:Adventures in Parenting |on February 14th, 2009 |5 Comments »

Menjadi Orangtua Yang Aktif, Atentif, Efektif, dan Konsisten

Sudahkah Anda mendengar nasehat terbaru tentang bagaimana menjadi orangtua?

Tentu saja, kami percaya Anda sudah mendengarnya. Mulai dari para ahli sampai para orangtua lainnya, mereka selalu siap memberi kita nasehat-nasehat bagaimana menjadi orangtua yang sukses. Kiat-kiat bagaimana menjadi orangtua, panduan-panduan bagi kesuksesan orangtua, kiat-kiat yang efektif dan tidak efektif, apa-apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan para orangtua—termasuk nasehat-nasehat terbaru selalu bermunculan setiap hari.

Tetapi, dengan begitu banyak informasi yang tersedia, bagaimana kita dapat mengetahui nasehat mana yang benar-benar efektif ? Bagaimana kita mengetahui nasehat siapa yang harus kita ikuti? Tidakkah nasehat bagaimana menjadi orangtua tersebut kebanyakan orangpun mengetahuinya? Bagaimana para ahli dapat mengetahui secara akurat bagaimana menjadi orangtua dalam rumah sesungguhnya?

Apa harus yang dilakukan oleh orangtua?

Cobalah RPM3—sebuah pendekatan terpercaya dan telah teruji tentang bagaimana menjadi orangtua dari National Institute of Child Health and Human Development (NICHD).

Lebih dari 30 tahun, NICHD telah mengadakan dan mendukung penelitian tentang menjadi orangtua dan perkembangan anak. Kami telah berbicara dengan para ahli, para orangtua, dan anak-anak. Kami telah mengumpulkan data-data statistik, melakukan identifikasi terhadap mitos-mitos yang berkembang di masyarakat dan menguji saran-saran yang berdatangan. Hasilnya adalah RPM3.

RPM3

merupakan singkatan untuk:

Responding :

menanggapi secara tepat terhadap anak kita

Preventing:

Mencegah munculnya perilaku-perilaku beresiko atau bermasalah

Monitoring:

Mengawai interaksi anak kita dengan lingkungan sekitar

Mentoring:

Membantu secara aktif anak kita untuk memiliki perilaku-perilaku yang dikehendaki.

Modelling:

Menjadikan diri kita sebagai contoh yang positif dan konsisten bagi anak kita

Pendekatan RPM3 bukan hanya mengatakan kepada kita “bagaimana melakukan sesuatu”. Sebaliknya, RPM3 memisahkan informasi yang sangat berguna dari informasi yang tidak begitu berguna, sehingga kita dapat membuat keputusan sendiri tentang bagaimana menjadi orangtua. RPM3 lebih dari sekedar menjelaskan cerita-cerita tentang apa yang dipikirkan kebanyakan orang tentang bagaimana menjadi orangtua. RPM3 merupakan hasil dari 30 tahun berbagai riset yang dilakukan dan didukung NICHD untuk mengatakan kepada kita tentang nasehat yang benar-benar bekerja secara efektif.

RPM3 sesungguhnya mengkonfirmasikan kepada kita sesuatu yang kita sendiri sudah mengetahui: apa-apa yang dilakukan sebagai orangtua itu sangat bermakna bagi anak-anak. Termasuk kita. Bacalah untuk mendapatkan informasi lebih banyak……

Bagian pertama buku ini menjelaskan setiap aspek dalam RPM3, responding, preventing, monitoring, mentoring, dan modelling secara lebih detail. Bagian-bagian ini menggambarkan bagaimana RPM3 dapat membantu kita membuat keputusan-keputusan harian tentang pengasuhan. Bagian pengingat buku ini memberi contoh-contoh bagaimana sejumlah orangtua telah menggunakan pelajaran RPM3 dengan anak-anak mereka sendiri.

Ketika membaca, kita akan melihat angka-angka tertentu, seperti 1 atau 7 pada kata-kata tertentu. Angka-angkat ini berhubungan dengan riset yang mendukung sebuah ide atau konsep, dan tercantum dalam halaman referensi. Referensi-referensi ini memberi kita lebih banyak informasi tentang riset pengasuhan dari NICHD.

Jadi, dari mana kita memulainya?

Satu hal penting yang perlu kita pahami adalah tidak ada orangtua yang sempurna. Menjadi orangtua bukanlah sesuatu yang bersifat semua atau tidak sama sekali. Kesuksesan-kesuksesan dan kesalahan-kesalahan merupakan bagian dari proses kita menjadi orangtua. Mulailah untuk berpikir tentang tipe-tipe orangtua seperti apa yang kita inginkan. RPM3 menawarkan pedoman-pedoman berdasarkan riset untuk menjadi:

q Orangtua yang efektif. Perkataan-perkataan dan perilaku-perilaku kita mempengaruhi bagaimana seharusnya anak-anak kita bersikap dan berperilaku

q Orangtua yang konsisten. Kita melakukan sesuatu sesuai dengan prinsip-prinsip yang kita ucapkan. Kesesuaian antara kata dengan tindakan

q Orangtua yang aktif. Kita berpartisipasi aktif dalam kehidupan anak-anak kita

q Orangtua yang atentif. Kita menaruh perhatian terhadap kehidupan anak-anak kita dan mengamati apa yang sedang terjadi pada diri mereka

Dengan melakukan responding, preventing, monitoring, mentoring, dan modelling dalam aktivitas-aktivitas pengasuhan sehari-hari, kita dapat menjadi orangtua yang efektif, konsisten, aktif, dan atentif.

Jika kita sudah mempelajari setiap pendekatan RPM3, lanjutkan pada bagian yang sesuai dengan usia anak kita, untuk melihat bagaimana pendekatan RPM3 telah diterapkan oleh sejumlah orangtua dalam pengasuhan mereka sehari-hari. Pikirkan tentang langkah-langkah yang dapat kita ambil guna menerapkan pendekatan tersebut dalam pengasuhan kita sehari hari.

Menjadi orangtua yang efektif, konsisten, aktif, dan atentif merupakan sebuah pilihan dan hanya kita sendiri yang dapat mewujudkannya.

Harap diingat…

Setelah kita membaca dan mempelajari prinsip-prinsip dan contoh-contoh dalam pendekatan RPM3, harap diingat bahwa responding, preventing, monitoring, mentoring, dan modelling memiliki kedudukan yang penting dalam pengasuhan semua anak—termasuk anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau kebutuhan yang berbeda-beda.

Semua anak-anak—baik mereka yang secara mental terganggu, secara mental berbakat, secara fisik memiliki hambatan, secara fisik memiliki bakat atau kombinasi dari keduanya—dapat mengambil manfaat dari prinsip-prinsip dalam pendekatan RPM3. Anak-anak yang digambarkan dalam contoh buku mungkin duduk di kursi roda; mereka mungkin menderita leukemia atau asma; mereka mungkin sedang kuliah; atau mereka mungkin berada di kelas khusus untuk anak-anak yang memiliki gangguan pemusatan perhatian

Cerita-cerita yang muncul tidak secara spesifik menyebutkan karakteristik tertentu tersebut karena pada dasarnya semua anak-anak membutuhkan pengasuhan setiap harinya, termasuk mereka-mereka yang berada dalam situasi khusus. Prinsip-prinsip dalam RPM3 memusatkan perhatian pada bagaimana menangani pilihan-pilihan dalam proses pengasuhan setiap harinya, dimana kemampuan atau kecacatan seorang anak bukanlah faktor yang paling penting. Contoh-contoh dalam buku ini juga dapat diterapkan pada keluarga dengan berbagai latar belakang budaya, agama, tingkat kehidupan, dan status sosial ekonomi. Contoh-contoh yang menggambarkan situasi-situasi di mana semua keluarga mengalaminya, bahkan pada keluarga yang memiliki ciri-ciri spesifik dan benar-benar berbeda.

Mari kita mulai mempelajari prinsip pertama dalam pendekatan RPM3, yaitu Rresponding yaitu menanggapi anak –anak kita dalam cara-cara yang tepat.

Published in:Adventures in Parenting |on February 14th, 2009 |3 Comments »

Petualangan-petualangan Menjadi Orangtua

Sebagai orangtua, kita memiliki tugas yang paling penting di dunia ini. Tidak ada yang lebih bermakna dalam kehidupan kita selain dari bagaimana kita berhasil mendidik anak-anak kita. Ini merupakan sebuah pekerjaan penuh waktu, penuh tantangan, dan berlangsung sepanjang hidup kita, tidak peduli berapapun usia anak kita. Menjadi orangtua, selain menghadirkan kepada kita perjuangan-perjuangan dan ujian-ujian, juga menawarkan kepada kita sejumlah penghargaan. Penghargaan-penghargaan yang juga berlangsung sepanjang hidup kita.

Buku ini memperlihatkan perjuangan-perjuangan dan ujian-ujian tertentu yang akan kita hadapi sebagai orangtua dan menjelaskan sejumlah penghargaan yang akan didapatkan. Informasi-informasi ini didasarkan pada penelitian-penelitian selama satu dekade tentang menjadi orangtua, pengalaman-pengalaman sejumlah orangtua dan para pakar tentang menjadi orangtua. Buku ini dirancang untuk para orangtua dari berbagai latar belakang, sejak pertamakali menjadi orangtua sampai kakek-nenek, sehingga semua orang yang berinteraksi dengan anak akan dapat mengambil keuntungan dari informasi yang sangat berharga ini.

Menjadi orangtua tidak hanya penting bagi keberadaan kita sekarang, tetapi juga bagi masa depan kita, masa depan anak-anak kita, karena kelak mereka juga akan menjadi orangtua. Memiliki anak yang sukses merupakan sebuah petualangan, penuh dengan kejutan-kejutan dan perubahan-perubahan. Kami berharap informasi yang disajikan dalam buku ini membantu kita menentukan praktek-praktek dan keyakinan-keyakinan kita sendiri tentang menjadi orangtua, sejak kita memulai petualangan sendiri menjadi orangtua.

Published in:Adventures in Parenting |on February 14th, 2009 |8 Comments »