Archive for February 28th, 2010

Tetangga dan Perkembangan Anak

Setiap keluarga tinggal dalam sebuah lingkungan tertentu dengan ciri-ciri fisik dan sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Bentuk dan kondisi perumahan, halaman, jalan, fasilitas umum dan rekreasional dalam sebuah lingkungan ketetanggaan memiliki pengaruh terhadap kegiatan-kegiatan dilakukan anak-anak dan kesempatan-kesempatan perkembangan anak-anak. Sebagai contoh, ketersediaan taman-taman dan tempat-tempat bermain yang aman dapat meningkatkan kegiatan-kegiatan fisik anak. Kegiatan-kegiatan fisik secara teratur pada masa anak-anak dapat memperluas jangkauan perkembangan, mempengaruhi kebugaran, kesehatan, dan emosi.

Bahkan lebih penting lagi, anak-anak juga dipengaruhi oleh orang-orang yang menjadi tetangga dan oleh kondisi sosial ekonomi yang lebih luas. Aber (1994) dan Brooks-Gunn dkk (1993) menemukan bukti bahwa lingkungan tetangga itu sendiri memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak-anak, yang dapat dipisahkan dari pengaruh keluarga pada satu sisi dan kondisi sosial ekonomi pada sisi lainnya.

Sebagai contoh, Brooks-Gunn dkk (1993) menemukan bahwa memiliki tetangga yang kaya/sejahtera berhubungan dengan perkembangan positif anak, baik pada masa anak-anak maupun masa remaja, tidak perduli bagaimana tingkat penghasilan keluarganya. Sebaliknya, Grane (1991) menemukan bahwa para remaja yang tumbuh dalam lingkungan ketetanggaan di mana hanya sedikit tetangga yang kaya/sejahtera dengan status pekerjaan yang tinggi, memiliki resiko tinggi untuk mengalami kehamilan dan dikeluarkan dari sekolah.

Penelitian-penelitian di atas menunjukkan bahwa ketetanggaan memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak-anak dan remaja melalui cara sosialisasi kolektif. Para orang dewasa yang berada di lingkungan tetangga menyediakan contoh peran dan pengawasan terhadap anak-anak dan remaja yang ada di sekitar mereka. Jencks dan Mayer (1990) memberi contoh sejumlah orang dewasa mungkin bertindak sebagai penegak aturan, mengawasi perilaku anak-anak dan remaja, dan memelihara ketertiban. Jaringan sosial yang berbentuk dalam ketetanggaan dapat menyediakan dukungan–dukungan maupun kemudah-kemudahan mendapatkan layanan atas berbagai fasilitas seperti pekerjaan bagi para remaja. Aber (1994) menemukan bahwa tetangga-tetangga yang kaya menurunkan resiko remaja mengalami akibat buruk karena mereka mampu menolong para remaja dengan cara-cara praktis, misalnya bimbingan kerja.

Dengan demikian tetangga kita dapat memainkan peran penting terhadap perkembangan anak-anak dan remaja kita. Sejumlah penelitian, misalnya Sampson dkk (1997), Leventhal dan Brooks-Gunn (2000), Keating dan Hertzmann (1999), menemukan bahwa selain pengaruh individu dan keluarga, tingkat pendapatan tetangga pada masa anak-anak dapat mempengaruhi kesehatan, prestasi sekolah dan prestasi seorang anak di masa yang akan datang.

Jencks dan Mayer (1990) menemukan anak-anak yang saling bertetangga juga mempengaruhi satu sama lain. Sebagai contoh, sejumlah anak mendapatkan keuntungan perkembangan melalui pertemuan-pertemuan dan interaksi-interaksi dengan teman-teman sebaya yang memiliki keterampilan-keterampilan bahasa dan berpikir yang kuat. Klub baca dekat rumah, taman bermain dan taman dapat mendorong pertemuan-pertemua dan interaksi-interaksi semacam ini.

Selain itu ketetanggaan juga berpengaruh terhadap dinamika perkembangan sebuah keluarga. Keluarga yang tinggal di lingkungan ketetanggaan dengan rasa keterlibatan, kepercayaan, dan rasa memiliki yang kuat di antara para tetangga terbukti memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan anak dan bahkan memperbaiki sejumlah dampak buruk dari perilaku pengasuhan (Jencks dan Mayer,1990; Fursternberg, 1993; Silk dkk, 2004). Lingkungan tetangga yang memiliki ikatan kebersamaan sangat kuat tampaknya dapat menyeimbangkan kembali permasalahan-permasalahan sebuah keluarga (seperti stress atau permusuhan orangtua, ketidakstabilan keluarga) dengan menyediakan kemudahan anak-anak mendapatkan layanan dan dukungan sosial (Jencks dan Mayer,1990).

Penyebab-penyebab stress sosial ekonomi yang ada di lingkungan tetangga juga berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak-anak. Sebagai contoh, penelitian Chase-Lansdale dan Gordon (1996) menemukan permasalahan-permasalahan perilaku anak tetangga berhubungan dengan tingkat pengangguran laki-laki di lingkungan tersebut. Penelitian Caughy dkk (2008) juga menemukan bahwa tingginya kecemasan, depresi, dan menarik diri secara emosi pada masa anak-anak dipengaruhi oleh penyebab-penyebab sosial dari stress seperti transaksi obat-obatan dan geng.

Published in:Parenting |on February 28th, 2010 |6 Comments »