Archive for October 20th, 2009

MENDENGARKAN UNTUK MEMAHAMI ANAK

Ketika anak-anak berbicara, mereka tidak selalu mengatakan sesuatu dalam cara-cara yang sama seperti halnya orang-orang dewasa. Jika kita ambil semua kata-kata yang mereka sampaikan, kita kemungkinan beresiko salah memahami apa yang sedang dikatakan mereka. Untuk mencegah kesalahpahaman semacam ini, kita bisa menyatakan kembali dalam kata-kata kita sendiri apa yang kita pikir mereka ingin mengatakannya. Berusaha menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang bersifat menghakimi atau melakukan sejumlah usaha untuk mendisiplinkan mereka. Dengan cara-cara seperti ini, kita akan bisa  memastikan bahwa kita memahami inti apa yang sedang coba mereka ampaikan.

Sebagai contoh, ketika anak kami yang paling besar di suatu sore mengatakan,”Kadang-kadang aku benci sama Hasany” ada dorongan yang kuat untuk segera untuk menegur dia dari mengatakan seperti itu dan mengatakan padanya bahwa kami tidak bisa menerima komentar-komentar seperti itu. Yang perlu kita lakukan adalah pertama, kita menerima terlebih dahulu apa yang mereka katakan. Jangan  tergoda untuk segera menegurnya atas apa yang dia katakan atau cara dia mengatakannya. Kita bisa mengatakan sesuatu padanya seperti,” Sungguh?” atau ”Aulia benar-benar membeci Hasany?”dan kemudian tenang. Dengan melakukan seperti ini kita memberinya kesempatan untuk berbicara apa yang dia rasakan saat-saat tertentu tentang saudara laki-lakinya tersebut. Tanggapan seperti ini sangat sangat menolong kita terhindar dari kesalahpahaman terhadap dia dan membantu dia merasa nyaman untuk mengungkap lebih jauh apa-apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Jika dia tidak  ingin melanjutkan percakapannya, kita bisa meninggalkan dia sendirian. Menjadi tidak mengherankan  jika suatu saat kita mendapati perilaku  dia terhadap saudara laki-lakinya telah berubah  menjadi lebih baik  daripada sebelum percakapan, karena dia merasa didengarkan , meskipun perilaku saudara laki-lakinya tersebut tidak berubah.

Contoh lainnya, ketika kita sedang mengantar anak-anak untuk latihan sepakbola dan mereka mengatakan bahwa sebenarnya mereka tidak pernah ingin untuk berlatih sepakbola lagi, kita mungkin, seperti kebanyakan orangtua, segera merasa tersinggung dan mempertahankan pentingnya latihan sepakbola. Kita mungkin akan mengatakan betapa menyenangkan sepakbola itu, bagaimana anak sahabat terbaik kita terpilih dalam tim sepakbola nasional, atau betapa asyiknya jalan-jalan dan mendapatkan udara segar. Alih-alih menanggapi segera perlunya latihan sepakbola, nyatakan kembali saja apa yang dikatakan anak Anda,”Kedengarannya kalian tidak ingin pergi untuk latihan sepakbola hari ini.” Mereka mungkin mengatakan, ”Ya benar, kami tidak ingin pergi untuk berlatih sepakbola hari ini,” dan dalam banyak kejadian, percakapan biasanya berhenti di sini. Perjalanan tetap dilanjutkan untuk tetap pergi berlatih sepakbola.  Hal ini penting sebagai persiapan yang baik untuk menjadi orang dewasa yang sukses: menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada mereka sebaik mungkin meskipun mereka tidak menyukainya.

Menanggapi setiap komentar yang dibuat anak Anda sungguh tidaklah perlu. Sebagaimana halnya kita, sebagai orang dewasa, kadang-kadang melampiaskan perasaan dengan mengatakan hari yang melelahkan atau berada dalam minggu yang sulit, anak-anak tidak perlu mencari orangtua mereka untuk menanggapi setiap pernyataan yang mereka buat. Berbagi perasaan-perasaan mereka dengan orang dewasa yang mendengarkan tanpa menghakimi atau ”langsung menyimpulkan” memberi mereka peluang untuk merasa didengarkan. Seringkali kita semua merasa senang melampiaskan perasaan-perasaan kita tanpa dinasehati, dipertanyakan, dihakimi, atau bahkan dihibur. Jika selama waktu sunyi kita dapat mendisiplinkan diri kita sendiri untuk mendengarkan anak-anak berbicara tanpa menanggapinya setiap saat, maka insyaallah kita akan mampu untuk mengatakan dengan lebih mendalam, apakah mereka menyebutkan hal yang sama beberapa kali, kapan sebuah topik pembicaraan mereka sukai dan kapan itu hanya sebuah komentar yang berlalu begitu saja.

Published in:Parenting |on October 20th, 2009 |5 Comments »

MENDENGARKAN ANAK BERBICARA

Kebanyakan orang akan sepakat bahwa kepuasan komunikasi terjadi ketika orang yang yang  kita anggap penting dalam kehidupan kita mendengarkan kita dan mencoba untuk memahami apa yang sedang kita sampaikan. Anak-anak juga merasakan hal tidak jauh berbeda. Banyak orangtua yang beranggapan bahwa  berkomunikasi dengan anak intinya adalah mengajukan pertanyaan pada mereka atau menjelaskan sesuatu kepada mereka. Padahal, komunikasi melibatkan percakapan dua arah antara kita  dan anak -anak. Meskipun demikian, percakapan satu arah: saya mendengarkan anak saya berbicara, mencoba untuk memahami apa yang sedang dia katakan dan rasakan, juga sama pentingnya. Dengan melakukan demikian, kita akan mendapatkan lebih banyak informasi  bagaimana perasaan mereka atau hal penting yang coba mereka  sampaikan.

Berlatih mendengarkan anak-anak berbicara dapat kita mulai dengan mencoba membiasan diri  untuk  tidak memulai pembicaraan ketika bertemu dengan anak-anak. Misalnya  memilih satu atau dua situasi dalam seminggu di mana kita tidak memulai sebuah percakapan, misalnya saat kita sedang menjemput anak-anak dari sekolah atau ketika kita sedang mengerjakan tugas tertentu. Jangan gunakan kedua situasi ini untuk menyampaikan pesan kepada mereka atau malah menanyai anak-anak terus menerus tentang kegiatan-kegiatannya minggu yang akan datang. Tetap tenang dan tunggu sampai mereka berbicara.

Pada awalnya kita akan mengalami kesulitan untuk melakukan hal tersebut, sebagaimana kebanyakan orangtua lainnya. Hal ini terjadi karena kebanyakan kita terbiasa ketika menjemput anak-anak kita di sekolah atau tempat penitipan anak, kita segera menanyai mereka apa mereka kerjakan seharian. Daripada demikian, setelah kita menyapa mereka, ”Assalamu'alaikum sayang, senang rasanya ayah bisa menjemput Hasany dan Rasikh sore ini,” berusahalah untuk tetap tenang sampai mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan. Dengan cara seperti ini, jika mereka memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan, mereka punya kesempatan untuk mengungkapkannya.

Tetapi jangan terkejut, meskipun mereka punya kesempatan dan memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, sangat mungkin juga mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Bisa jadi jika mereka lelah setelah seharian beraktivitas di sekolah, mereka mungkin tidak mengatakan apa pun. Dalam situasi seperti ini, tidak mengapa dan kita tetap harus tenang. Kita mungkin akan memiliki beberapa kali perjalanan pulang ke rumah yang sunyi dari penitipan anak atau sekolah sebelum mereka akhirnya  percaya bahwa kita ada untuk mendengarkan mereka, bukan untuk mendominasi waktu dengan pertanyaan-pertanyaan kita

Insyaallah dengan berjalannya waktu, mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa waktu-waktu sunyi  dari sekolah ke rumah tersebut kita siap untuk mendengarkan komentar-komentar dan keprihatinan-keprihatinan mereka. Mereka mungkin mulai untuk membicarakan tentang masalah-masalah penting bagi mereka, menurut mereka itu penting. Sangat mungkin terjadi kita akan menilai banyak sekali percakapan-percakapan mereka dengan kita menyangkut segala sesuatu yang tidak penting. Terlalu sering para orangtua ingin membicarakan apa yang mereka pikir penting, tidak peduli dengan apa yang ingin anak-anak mereka bicarakan. Tidaklah mengherankan ketika kemudian para orangtua merasa heran kenapa anak-anak mereka tidak suka berbicara dengan mereka.

Kuncinya adalah mendengarkan, buka mengevaluasi. Mengevaluasi membuat anak-anak kita semakinmalas untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya.

Published in:Parenting |on October 20th, 2009 |7 Comments »