Archive for February, 2009

Responding:Menanggapi anak kita dengan cara-cara yang tepat

Prinsip pertama dalam pendekatan RPM3 ini tampaknya mudah. Akan tetapi, memberi respon lebih dari sekedar memberi anak-anak kita perhatian. Memberikan respon mencakup dua hal. Pertama, kita harus yakin bahwa kita sedang memberi respon terhadap anak-anak, bukan sedang bereaksi. Kedua, kita harus yakin bahwa respon kita tepat, tidak berlebihan atau tidak proporsional, sangat minimal atau sangat terlambat.

Apakah kita bereaksi atau berespon terhadap anak kita?

Banyak orangtua bereaksi terhadap anak-anaknya. Mereka menjawab dengan kata-kata, perasaan, atau tindakan yang pertama kali muncul dalam benaknya. Ini merupakan sesuatu yang normal terjadi, terutama jika semua orang di sekitarnya melakukan hal yang sama setiap harinya.

Waktu yang kita miliki antara menyaksikan sebuah peristiwa dengan bertindak, berbicara, atau berperasaan sangat penting bagi hubungan kita dengan anak-anak k

ketika kita bereaksi, kita tidak memikirkan hasil yang apa kita kehendaki dari sebuah kejadian atau tindakan. Bahkan lebih dari itu, jika kita bereaksi, kita tidak dapat memilih cara terbaik untuk mencapai hasil yang kita inginkan.

Memberikan respon terhadap anak-anak kita itu artinya kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan sebenarnya apa yang sedang terjadi sebelum kita berbicara, berperasaan, atau bertindak sesuatu. Memberikan respon lebih sulit daripada bereaksi karena menuntut lebih banyak waktu dan usaha.

Waktu yang kita ambil antara melihat peristiwa dan bertindak, berbicara, atau berperasaan sangat penting bagi hubungan kita dengan anak-anak kita. Waktu tersebut, apakah beberapa detik, lima menit, satu hari atau dua hari, memungkinkan kita melihat sesuatu dengan lebih jelas, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang kita kehendaki dari anak-anak di masa yang akan datang.

Apakah yang dimaksud dengan sebuah respon yang tepat?

Sebuah respon dikatakan tepat jika respon tersebut sesuai dengan situasi. Usia anak kita dan informasi-informasi khusus dari sebuah peristiwa adalah penting dalam memutuskan apakah sebuah respon dikatakan tepat. Sebagai contoh, respon yang tepat untuk seorang bayi yang sedang menangis menjadi tidak pas jika diberikan respon yang serupa pada anak usia 4 atau 10 tahun yang juga sedang menangis. Ketepatan respon terhadap anak yang sedang berlari tergantung pada situasi, apakah anak tersebut sedang berlari menuju jalan yang ramai kendaraan atau sedang berlari menuju tempat bermain. Kebutuhan-kebutuhan fisik atau emosional anak-anak kita juga mempengaruhi apakah respon yang kita berikan sudah tepat atau tidak.

Berespon terhadap anak kita dalam cara-cara yang tepat memungkinkan kita untuk:

§ Berpikir tentang semua pilihan sebelum kita mengambil sebuah keputusan.

Ini akan membantu kita memilih cara yang terbaik dari situasi sekarang untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Mengambil waktu sejenak untuk melihat sebuah masalah dari berbagai sisi, sebagai contoh, membuat kita memiliki kemungkinan untuk memilih respon yang paling tepat. Jika situasi-situasi seperti ini sering terjadi, maka respon kita—pikiran—dapat menjadi otomatis, seperti halnya saat kita menggendong bayi yang sedang menangis

§ Menjawab sejumlah pertanyaan mendasar:

Apakah ucapan kita sesuai dengan apa yang sedang kita pikirkan? Apakah tindakan kita sesuai dengan ucapan kita? Apakah emosi kita terlibat dalam cara kita mengambil keputusan? Apakah kita tahu alasan-alasan yang mendasari perilaku anak-anak kita?

§ Mempertimbangan peristiwa sebelumnya yang serupa dan mengingatkan kembali bagaimana kita menangani peristiwa tersebut

Mengingatkan kepada anak-anak kita atas kejadian di waktu yang lalu dan bagaimana akibatnya akan menunjukkan kepada mereka bahwa kita benar-benar memikirkan keputusan yang diambil. Kita dapat menggunakan pengalaman masa lalu kita untuk menilai situasi sekarang, memutuskan hasil seperti apa yang kita kehendaki, dan menunjukkan bagaimana cara mencapai hasil tersebut.

§ Menjadi orangtua yang lebih konsisten

Anak-anak akan tahu bahwa kita tidak asal-asalan dalam membuat keputusan, terutama jika kita menjelaskan mengapa kita memilih untuk membuat keputusan tersebut. Anak-anak kemungkinan besar akan datang kepada kita dengan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang mereka hadapi jika mereka tahu apa yang kita harapkan dari mereka. Respon-respon yang penuh kehangatan, kepekaan dan kepedulian akan meningkatkan kemungkinan anak-anak untuk datang kepada kita dengan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah tersebut. Ingat, bahwa menjadi orangtua yang konsisten tidak berarti kita menjadi orangtua yang kaku.

§ Memberikan contoh bagaimana membuat sebuah keputusan yang bermakna

Sejalan dengan bertambahnya usia anak-anak kita, mereka akan mengetahui proses pembuatan keputusan yang kita lakukan dan menghargai waktu yang kita butuhkan dalam membuat keputusan tersebut. Anak-anak kita mungkin menjadikan itu sebagai pola bagi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan.

§ Membangun ikatan kepercayaan yang solid dan fleksibel antara kita dan anak-anak kita

Ikatan yang solid akan tahan terhadap berbagai situasi. Ikatan yang fleksibel memungkinkan anak-anak kita mampu bertahan menghadapi setiap perubahan, termasuk perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam hubungan kita dengan anak-anak.

Sekarang kita bisa melihat contoh-contoh atau lanjutkan untuk mempelajari prinsip Preventing dalam RPM3

Published in:Adventures in Parenting |on February 24th, 2009 |12 Comments »

Preventing: Mencegah Perilaku-perilaku Bermasalah atau Perilaku-Perilaku Beresiko

Kelihatannya cukup mudah. Kita rancang rumah sedemikian rupa sehingga aman bagi anak-anak dan kita yakin bahwa bayi kita yang sedang belajar merangkak atau anak-anak kita yang baru belajar berjalan tidak menyentuh produk-produk pembersih atau outlet listrik. Kita menyaksikan anak kita yang berumur 8 tahun sedang melompat-lompat dari atas tempat tidur dan kemudian memintanya supaya berhenti. Kita meminta anak kita yang berumur 12 tahun memakai helm saat dia mengendarai sepedanya, tanpa memperhatikan bagaimana perasaan anak kita atas penampilannya yang kelihatan’aneh’

Prevensi bukan sekedar mengatakan ’jangan’ atau ‘berhenti’. Ada dua hal penting dalam prevensi: 1) memetakan kemungkinan-kemungkinan permasalahan; dan 2) mengetahui bagaimana memecahkan permasalahan tersebut. Mari kita lihat masing-masing bagian tersebut lebih dekat.

Memetakan kemungkinan-kemungkinan permasalahan

Metode-metode berikut ini dapat kita gunakan untuk memetakan kemungkinan-kemungkinan permasalahan sebelum permasalahan tersebut menjadi krisis yang berat:

§ Libatkan diri secara aktif dalam kehidupan anak-anak kita

Keterlibatan orangtua secara aktif dalam kehidupan anak-anak sangat penting, tidak perduli apa yang menjadi latarbelakang kehidupan kita. Mengapa demikian? Dengan terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari anak-anak, kita akan mengetahui bagaimana biasanya anak-anak kita berpikir, berperasaan, dan bertindak. Pengetahuan ini akan membantu kita dalam mengenali perubahan-perubahan yang terjadi pada anak-anak kita. Sejumlah perubahan merupakan bagian alamiah dari pertumbuhan yang harus dilalui anak-anak kita. Sebagian perubahan lainnya mungkin merupakan tanda-tanda adanya gangguan yang perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius

§ Tentukan batasan-batasan yang realistik dan perkuat batasan-batasan tersebut secara konsisten

Tentukan secara selektif batasan-batasan tentang perilaku-perilaku paling penting apa yang kita harapkan dari anak-anak. Yakinkan bahwa kita dan anak-anak dapat “melihat” batasan-batasan tersebut secara jelas. Jika anak-anak melanggar batasan yang sudah ditetapkan, komunikasikan pada anak-anak dengan cara-cara yang sama jika itu terjadi pada situasi-situasi yang sama. Jika kita memutuskan untuk menghukum anak-anak, gunakan metode-metode yang paling efektif, seperti melarang anak-anak melakukan sesuatu yang menjadi kesukaannya dalam jangka waktu tertentu. Kita juga dapat memperbaiki perilaku anak-anak dengan menyatakan perilaku-perilaku apa yang diharapkan dari mereka.

Satu hal penting yang harus kita perhatikan ketika memutuskan untuk memberi hukuman adalah hukuman yang dikenakan pada anak-anak sesuai dengan kesalahan yang mereka lakukan. Hukuman dikatakan efektif ketika hukuman tersebut memberi kesempatan pada anak-anak untuk belajar bagaimana batasan-batasan tersebut bekerja dan apa yang terjadi ketika ketika mereka melampaui batasan-batasan tersebut. Mereka juga akan belajar bahwa kita telah berlaku adil terhadap mereka.

§ Ajari anak-anak kita cara-cara yang sehat dalam mengekspresikan emosi

Banyak perilaku nakal berasal dari ketidaktahuan anak-anak tentang bagaimana menangani emosi yang mereka alami. Saat-saat tertentu perasaan-perasaan tersebut dapat menjadi sedemikian kuat sehingga metode yang biasa mereka gunakan untuk mengekspresikan emosi menjadi tidak bekerja. Masalah ini juga bisa muncul karena perasaan-perasaan seperti marah atau sedih dianggap sebagai sesuatu yang negatif, sehingga anak-anak kita mungkin tidak ingin mengekspresikannya secara terbuka.

Doronglah anak-anak kita untuk mengekspresikan emosinya dalam cara-cara yang sehat dan positif. Beri mereka contoh cara-cara yang sehat dengan cara memperlihatkan bagaimana kita sendiri mengekspresikan emosi ketika kita mengalami berbagai macam emosi. Ketika mereka mengalami emosi-emosi tertentu, tanyalah mereka apa yang mereka rasakan dan mengapa mereka merasakan demikian. Yakinkan pada mereka bahwa semua emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seseorang, bukan hanya emosi baik atau emosi bahagia. Begitu mereka tahu bahwa emosi memiliki rentangan yang luas, maka mereka dapat belajar bagaimana mengatasi emosi-emosi yang dialami secara sehat dan tepat.

Mengetahui Bagaimana Memecahkan Masalah

Karena masalah yang dihadapi berbeda-beda, maka cara-cara yang kita gunakan untuk memecahkannya pun berbeda-beda. Kita membutuhkan berbagai macam metode yang lebih komplek untuk memecahkan berbagai masalah.

Berikut ini beberapa hal penting yang perlu kita pahami ketika sedang mencoba memecahkan sebuah masalah:

§ Ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian

Bicaralah dengan para orangtua lainnya, teman dekat atau saudara yang bisa dipercaya. Di antara mereka mungkin pernah atau sedang mengalami permasalahan yang sama seperti yang sedang kita hadapi. Mereka mungkin memiliki pemikiran-pemikiran tentang bagaimana memecahkan sebuah masalah dalam cara-cara yang mungkin tidak pernah terlintas dalam benak kita. Atau mereka mungkin bisa menjadi tempat berbagi perasaan-perasaan yang sedang kita alami, sehingga kita merasa menjadi lebih nyaman.

§ Akuilah bahwa memang ada masalah-masalah tertentu yang tidak dapat kita tangani sendiri atau menuntut keahlian khusus.

Penting untuk diingat bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang mengharapkan kita mampu memecahkan setiap masalah keluarga oleh kita sendiri. Sejumlah masalah justru terlalu besar untuk kita tangani sendiri, bukan karena kita adalah orangtua yang ‘buruk’, tetapi karena memang hakikat permasalahannya itu sendiri. Bersikaplah realistis tentang apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan sendiri.

§ Carailah bantuan, jika dibutuhkan

Kepada siapa kita dapat pergi mencari bantuan ?

§ Orangtua lain pekerja dan agen sosial

§ Anggota keluarga dan saudara psikolog dan psikiater

§ Teman-teman ulama/pendeta

§ Ahli pediatrik kelompok komunitas

§ Konselor sekolah dan perawat dukungan self-help

Akan ada waktu ketika kita benar-benar tidak tahu bagaimana menolong anak-anak kita; ketika kita benar-benar tidak mampu membantu anak-anak kita. Hal ini tidak menjadi masalah karena oranglain mungkin dapat menolong kita. Manfaatkan semua sumber daya yang kita miliki untuk memecahkan permasalahan kita, termasuk meminta pertolongan dari luar ketika kita membutuhkannya.

Jika Anda mau, carilah pada buku ini bagian yang sesuai dengan usia anak-anak kita untuk membaca lebih jauh tentang bagaimana sejumlah orangtua telah melakukan prevensi dalam keseharian pengasuhan mereka. Atau, Anda dapat membaca M3 dalam pendekatan RPM3

M3 dalam pendekatan RPM3 menggambarkan tiga prinsip sentral dalam proses pengasuhan: monitoring, mentoring, modelling. Sejumlah orangtua kebingungan oleh prinsip-prinsip ini karena tampak sama, padahal sebenarnya ketiganya benar-benar berbeda. Akan lebih mudah bagi kita untuk memahami prinsip-prinsip tersebut setelah kita membaca penjelasan berikut ini:

§ Menjadi seorang monitor berarti bahwa kita memberi perhatian secara penuh terhadap anak-anak kita dan lingkungan sekitarnya, terutama kelompok temannya dan teman sebaya serta kebiasaan-kebiasaan mereka di sekolah.

§ Menjadi seorang mentor berarti bahwa kita secara aktif membantu anak-anak kita belajar lebih tentang dirinya, bagaimana dunia ini bekerja, dan peran yang dapat mereka mainkan di dunia ini. Sebagai seorang mentor, kita juga akan mendukung apa-apa yang sedang mereka pelajari

§ Menjadi seorang model berarti menggunakan perkataan-perkataan dan perbuatan–perbuatan kita yang memperlihatkan keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, dan sikap-sikap kita sebagai contoh untuk anak-anak kita dalam kehidupan sehari-hari.

Sekarang, mari kita cermati lebih dekat satu persatu ketiga prinsip tersebut.

Published in:Adventures in Parenting |on February 14th, 2009 |5 Comments »

Menjadi Orangtua Yang Aktif, Atentif, Efektif, dan Konsisten

Sudahkah Anda mendengar nasehat terbaru tentang bagaimana menjadi orangtua?

Tentu saja, kami percaya Anda sudah mendengarnya. Mulai dari para ahli sampai para orangtua lainnya, mereka selalu siap memberi kita nasehat-nasehat bagaimana menjadi orangtua yang sukses. Kiat-kiat bagaimana menjadi orangtua, panduan-panduan bagi kesuksesan orangtua, kiat-kiat yang efektif dan tidak efektif, apa-apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan para orangtua—termasuk nasehat-nasehat terbaru selalu bermunculan setiap hari.

Tetapi, dengan begitu banyak informasi yang tersedia, bagaimana kita dapat mengetahui nasehat mana yang benar-benar efektif ? Bagaimana kita mengetahui nasehat siapa yang harus kita ikuti? Tidakkah nasehat bagaimana menjadi orangtua tersebut kebanyakan orangpun mengetahuinya? Bagaimana para ahli dapat mengetahui secara akurat bagaimana menjadi orangtua dalam rumah sesungguhnya?

Apa harus yang dilakukan oleh orangtua?

Cobalah RPM3—sebuah pendekatan terpercaya dan telah teruji tentang bagaimana menjadi orangtua dari National Institute of Child Health and Human Development (NICHD).

Lebih dari 30 tahun, NICHD telah mengadakan dan mendukung penelitian tentang menjadi orangtua dan perkembangan anak. Kami telah berbicara dengan para ahli, para orangtua, dan anak-anak. Kami telah mengumpulkan data-data statistik, melakukan identifikasi terhadap mitos-mitos yang berkembang di masyarakat dan menguji saran-saran yang berdatangan. Hasilnya adalah RPM3.

RPM3

merupakan singkatan untuk:

Responding :

menanggapi secara tepat terhadap anak kita

Preventing:

Mencegah munculnya perilaku-perilaku beresiko atau bermasalah

Monitoring:

Mengawai interaksi anak kita dengan lingkungan sekitar

Mentoring:

Membantu secara aktif anak kita untuk memiliki perilaku-perilaku yang dikehendaki.

Modelling:

Menjadikan diri kita sebagai contoh yang positif dan konsisten bagi anak kita

Pendekatan RPM3 bukan hanya mengatakan kepada kita “bagaimana melakukan sesuatu”. Sebaliknya, RPM3 memisahkan informasi yang sangat berguna dari informasi yang tidak begitu berguna, sehingga kita dapat membuat keputusan sendiri tentang bagaimana menjadi orangtua. RPM3 lebih dari sekedar menjelaskan cerita-cerita tentang apa yang dipikirkan kebanyakan orang tentang bagaimana menjadi orangtua. RPM3 merupakan hasil dari 30 tahun berbagai riset yang dilakukan dan didukung NICHD untuk mengatakan kepada kita tentang nasehat yang benar-benar bekerja secara efektif.

RPM3 sesungguhnya mengkonfirmasikan kepada kita sesuatu yang kita sendiri sudah mengetahui: apa-apa yang dilakukan sebagai orangtua itu sangat bermakna bagi anak-anak. Termasuk kita. Bacalah untuk mendapatkan informasi lebih banyak……

Bagian pertama buku ini menjelaskan setiap aspek dalam RPM3, responding, preventing, monitoring, mentoring, dan modelling secara lebih detail. Bagian-bagian ini menggambarkan bagaimana RPM3 dapat membantu kita membuat keputusan-keputusan harian tentang pengasuhan. Bagian pengingat buku ini memberi contoh-contoh bagaimana sejumlah orangtua telah menggunakan pelajaran RPM3 dengan anak-anak mereka sendiri.

Ketika membaca, kita akan melihat angka-angka tertentu, seperti 1 atau 7 pada kata-kata tertentu. Angka-angkat ini berhubungan dengan riset yang mendukung sebuah ide atau konsep, dan tercantum dalam halaman referensi. Referensi-referensi ini memberi kita lebih banyak informasi tentang riset pengasuhan dari NICHD.

Jadi, dari mana kita memulainya?

Satu hal penting yang perlu kita pahami adalah tidak ada orangtua yang sempurna. Menjadi orangtua bukanlah sesuatu yang bersifat semua atau tidak sama sekali. Kesuksesan-kesuksesan dan kesalahan-kesalahan merupakan bagian dari proses kita menjadi orangtua. Mulailah untuk berpikir tentang tipe-tipe orangtua seperti apa yang kita inginkan. RPM3 menawarkan pedoman-pedoman berdasarkan riset untuk menjadi:

q Orangtua yang efektif. Perkataan-perkataan dan perilaku-perilaku kita mempengaruhi bagaimana seharusnya anak-anak kita bersikap dan berperilaku

q Orangtua yang konsisten. Kita melakukan sesuatu sesuai dengan prinsip-prinsip yang kita ucapkan. Kesesuaian antara kata dengan tindakan

q Orangtua yang aktif. Kita berpartisipasi aktif dalam kehidupan anak-anak kita

q Orangtua yang atentif. Kita menaruh perhatian terhadap kehidupan anak-anak kita dan mengamati apa yang sedang terjadi pada diri mereka

Dengan melakukan responding, preventing, monitoring, mentoring, dan modelling dalam aktivitas-aktivitas pengasuhan sehari-hari, kita dapat menjadi orangtua yang efektif, konsisten, aktif, dan atentif.

Jika kita sudah mempelajari setiap pendekatan RPM3, lanjutkan pada bagian yang sesuai dengan usia anak kita, untuk melihat bagaimana pendekatan RPM3 telah diterapkan oleh sejumlah orangtua dalam pengasuhan mereka sehari-hari. Pikirkan tentang langkah-langkah yang dapat kita ambil guna menerapkan pendekatan tersebut dalam pengasuhan kita sehari hari.

Menjadi orangtua yang efektif, konsisten, aktif, dan atentif merupakan sebuah pilihan dan hanya kita sendiri yang dapat mewujudkannya.

Harap diingat…

Setelah kita membaca dan mempelajari prinsip-prinsip dan contoh-contoh dalam pendekatan RPM3, harap diingat bahwa responding, preventing, monitoring, mentoring, dan modelling memiliki kedudukan yang penting dalam pengasuhan semua anak—termasuk anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau kebutuhan yang berbeda-beda.

Semua anak-anak—baik mereka yang secara mental terganggu, secara mental berbakat, secara fisik memiliki hambatan, secara fisik memiliki bakat atau kombinasi dari keduanya—dapat mengambil manfaat dari prinsip-prinsip dalam pendekatan RPM3. Anak-anak yang digambarkan dalam contoh buku mungkin duduk di kursi roda; mereka mungkin menderita leukemia atau asma; mereka mungkin sedang kuliah; atau mereka mungkin berada di kelas khusus untuk anak-anak yang memiliki gangguan pemusatan perhatian

Cerita-cerita yang muncul tidak secara spesifik menyebutkan karakteristik tertentu tersebut karena pada dasarnya semua anak-anak membutuhkan pengasuhan setiap harinya, termasuk mereka-mereka yang berada dalam situasi khusus. Prinsip-prinsip dalam RPM3 memusatkan perhatian pada bagaimana menangani pilihan-pilihan dalam proses pengasuhan setiap harinya, dimana kemampuan atau kecacatan seorang anak bukanlah faktor yang paling penting. Contoh-contoh dalam buku ini juga dapat diterapkan pada keluarga dengan berbagai latar belakang budaya, agama, tingkat kehidupan, dan status sosial ekonomi. Contoh-contoh yang menggambarkan situasi-situasi di mana semua keluarga mengalaminya, bahkan pada keluarga yang memiliki ciri-ciri spesifik dan benar-benar berbeda.

Mari kita mulai mempelajari prinsip pertama dalam pendekatan RPM3, yaitu Rresponding yaitu menanggapi anak –anak kita dalam cara-cara yang tepat.

Published in:Adventures in Parenting |on February 14th, 2009 |3 Comments »

Petualangan-petualangan Menjadi Orangtua

Sebagai orangtua, kita memiliki tugas yang paling penting di dunia ini. Tidak ada yang lebih bermakna dalam kehidupan kita selain dari bagaimana kita berhasil mendidik anak-anak kita. Ini merupakan sebuah pekerjaan penuh waktu, penuh tantangan, dan berlangsung sepanjang hidup kita, tidak peduli berapapun usia anak kita. Menjadi orangtua, selain menghadirkan kepada kita perjuangan-perjuangan dan ujian-ujian, juga menawarkan kepada kita sejumlah penghargaan. Penghargaan-penghargaan yang juga berlangsung sepanjang hidup kita.

Buku ini memperlihatkan perjuangan-perjuangan dan ujian-ujian tertentu yang akan kita hadapi sebagai orangtua dan menjelaskan sejumlah penghargaan yang akan didapatkan. Informasi-informasi ini didasarkan pada penelitian-penelitian selama satu dekade tentang menjadi orangtua, pengalaman-pengalaman sejumlah orangtua dan para pakar tentang menjadi orangtua. Buku ini dirancang untuk para orangtua dari berbagai latar belakang, sejak pertamakali menjadi orangtua sampai kakek-nenek, sehingga semua orang yang berinteraksi dengan anak akan dapat mengambil keuntungan dari informasi yang sangat berharga ini.

Menjadi orangtua tidak hanya penting bagi keberadaan kita sekarang, tetapi juga bagi masa depan kita, masa depan anak-anak kita, karena kelak mereka juga akan menjadi orangtua. Memiliki anak yang sukses merupakan sebuah petualangan, penuh dengan kejutan-kejutan dan perubahan-perubahan. Kami berharap informasi yang disajikan dalam buku ini membantu kita menentukan praktek-praktek dan keyakinan-keyakinan kita sendiri tentang menjadi orangtua, sejak kita memulai petualangan sendiri menjadi orangtua.

Published in:Adventures in Parenting |on February 14th, 2009 |8 Comments »

Anakku,Allah SWT selalu ada dan sangat menyayangi kita

”Anakku, orang yang beriman tidak takut dengan penderitaan hidup, tidak takut dengan kematian, juga tidak takut dengan kehidupan setelah dunia ini karena Allah SWT bersama mereka. Kita tidak sendirian,Anakku. Allah SWT selalu menemani dan membimbing kita. Allah SWT itu nyata, Allah SWT itu sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita. Allah SWT sangat menyayangi kita. Allah SWT mengetahui semua kesukaran yang kita hadapi dalam perjuangan. Bahkan, ketika kita berbuat salah, Allah SWT masih tetap mencintai kita. Anakku, Allah SWTselalu ada untuk kita. ” (Inspired and Modified from Ruqayyah Waris Maqsood's life)

Published in:Parenting |on February 5th, 2009 |5 Comments »