Archive for September, 2008

Seri Keterampilan Pengasuhan

RESPECTING FEELINGS

1. Amati dan dengarkan anak Anda

2. Pikirkan sebuah kata yang menggambarkan apa yang mungkin anak Anda rasakan

3. Pikirkan tentang kemungkinan mengapa anak Anda berperasaan demikian

4. Periksalah pikiran Anda kepada anak Anda

a. Gagasan Kunci

RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan membangun empati (kemampuan untuk memikirkan dan merasakan orang lain sebagaimana orang lain tersebut memikirkan dan merasakannya). Ini akan menolong orang-orang menyadari bahwa setiap orang memiliki perasaan yang berbeda—biasanya dalam sebuah rentangan yang luas. Kadang-kadang perasaan tersebut begitu kuat sehingga mereka sendiri menjadi mengalami kebingungan atau kewalahan. Biasanya ini akan sangat membantu ketika kita membicarakan emosi-emosi tersebut dengan orang lain yang mendengarkan dengan penuh penghargaan. RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan praktis untuk memberi perhatian terhadap oranglain dan mendengarkan perasaan-perasaannya.

Para orangtua dapat membantu seorang anak untuk memahami pentingnya perasaan-perasaan dengan menggunakan keterampilan ini. Menyediakan waktu untuk mendengarkan seorang anak tidak berarti bahwa Anda setuju dengan mereka. Ini mensyaratkan bahwa Anda menghargai hak anak untuk memiliki perasaan-perasaan, bahkan ketika mereka berbeda dengan perasaan yang Anda miliki. Karena terdapat sebuah hubungan antara bagaimana seorang anak merasakan dan bagaimana mereka berperilaku, adalah penting untuk mengamati interaksi mereka dengan yang lain dan bertindak menurut cara mereka sendiri.

Sejumlah orangtua memiliki kesulitan memisahkan cara mereka sendiri merasakan dari apa yang anak-anak mereka katakan kepada Anda. Tantangan dalam keterampilan ini untuk para orangtua adalah mengesampingkan perasaan-perasaan mereka sendiri dan mendengarkan secara hati-hati untuk mendengar apa yang sedang dirasakan anak. RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan “melakukan refleksi”. Pikirkan diri Anda sebagai cermin, membantu anak-anak Anda memahami diri mereka dan emosi-emosi mereka menjadi lebih jelas.

RESPECTING FEELINGS memberi anak-anak kesempatan untuk berpikir lebih cerdas. Mengajari anak-anak untuk menghargai diri mereka sendiri dan menghargai perasaan-perasaan orang lain. Ini menyadarkan pentingnya perasaan-perasan mereka, hak mereka untuk memiliki perasaan tersebut, dan nilai-nilai mereka sebagai mahluk hidup. Para orangtua juga menemukan keterampilan ini membantu mereka menjadi lebih nyaman dan bertanggung jawab atas emosi-emosi mereka sendiri.

b. Tahapan-tahapan

1. Amati dan dengarkan anak Anda

Berikan perhatian terhadap anak-anak, tindakan-tindakannya, kata-kata dan bahasa tubuhnya. Amati wajah anak dan dengarkan suara dari bahasa tersebut. Tindakan-tindakannya mungkin mengatakan kepada Anda lebih banyak daripada kata-kata tentang bagaimana anak Anda merasakan sesuatu. Temukan petunjuk-petunjuk yang mengatakan kepada Anda apa yang sedang dirasakannya. Jika anak Anda meminta maaf untuk tidak pergi sekolah, mengalami sakit perut di pagi hari, atau tidak ingin menceritakan tentang sekolahnya tetapi mengeluh mengenai gurunya, sesuatu yang salah telah terjadi.

2. Pikirkan sebuah kata yang menggambarkan apa yang mungkin anak Anda rasakan

Seorang anak yang berkata, “Saya tidak akan pernah pergi kembali ke sekolah” mungkin merasa marah, takut, atau dipermalukan. RESPECTING FEELINGS adalah belajar memberi nama perasaan-perasaan yang dialami, mengenali emosi-emosi (malu, tidak bahagia, atau kesepian) yang tersembunyi dibalik kemarahan atau frustasi. Seorang anak yang merasa putus asa atau ketakutan kemungkinan menganggu anak-anak yang lain, sementara anak-anak lainnya yang juga putus asa atau ketakutan mungkin berperilaku malu dan pendiam.

3. Pikirkan tentang kemungkinan mengapa anak Anda berperasaan demikian

Menemukan mengapa anak-anak memiliki perasaan-perasaan tertentu menuntut kerja penyelidikan. Ikuti firasat-firasat Anda. Pikirkan bagaimana Anda akan merasakan jika para guru tampaknya memilih Anda. Pikirkan bagaimana perasaan Anda ketika sesuatu yang sejenis terjadi pada Anda. Pikirkan cara-cara anak Anda mengatasi situasi yang sejenis. Cobalah untuk mengingat kembali bagaimana rasanya ketika seusia anak Anda. Setiap usia memiliki tantangan-tantangan khusus dan setiap anak berhubungan dengan pertumbuhan yang sedang dijalani dalam cara-cara khusus miliki mereka sendiri.

4. Cek apa yang Anda pikirkan bersama-sama anak Anda

Anda dapat menggunakan kata-kata untuk menunjukkan bahwa Anda memahinya (“Saya paham betapa marahnya kamu saat ini”) atau mendapatkan persetujuan (“Kedengarannya kamu benar-benar kecewa karena kamu ingin Billy datang ke rumah setelah pulang sekolah. Benarkah demikian?). Jangan berharap bahwa setiap tebakan perasaan yang Anda lakukan benar setiap saat. Kadang-kadang seorang anak akan begitu kecewa dimana tidak ada satupun yang Anda katakan akan benar atau membantunya. Pada saat-saat seperti itu yang dibutuhkan adalah berada di sisinya untuk mendengarkan. Duduk bersama anak atau memberinya pelukan atau menepuk punggungnya mengkomunikasikan bahwa Anda sangat memperhatikan mereka. Dukungan sunyi seperti ini merupakan sebuah tahapan penting dalam proses-proses membangun sebuah hubungan, memahami sebuah permasalahan, atau menemukan apa yang perlu dilakukan di masa mendatang.

RESPECTING FEELINGS tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah keterampilan memecahkan masalah. Memberikan anak-anak kesempatan untuk mengatakan emosi-emosi kuat yang mereka rasakan memberinya udara segar sebelum mereka membuat sebuah perencanaan untuk menangani emosi-emosi tersebut.

c. Outcomes

· Anak-anak menerima dan memahami perasaan yang mereka miliki

· Para orangtua memahami dan menerima bahwa anak-anak memiliki rentang variasi perasaan yang besar

· Para orangtua memperlihatkan bahwa mereka menghormati perasaan-perasaan anak mereka.

Ringkasan

RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan yang Anda gunakan ketika Anda mengamati anak Anda mengalami emosi-emosi yang kuat.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |1 Comment »

Seri Keterampilan Pengasuhan

SELF CONTROL

1. berikan perhatian terhadap pesan-pesan tubuh yang mengatakan bahwa Anda kehilangan kendali

2. pikirkan cara-cara untuk mengendalikan diri Anda sendiri

3. pilihlah sebuah cara dan dapatkan kendali atas diri Anda sendiri

4. putuskan bagaimana bertindak terhadap anak Anda

a. Gagasan-gagasan Kunci

Ketika para orangtua secara efektif menangani emosi-emosi mereka sendiri, mereka mengajarkan anak-anak mereka sendiri untuk melakukan hal yang sama. Cara-cara para orangtua dalam mengatasi dirinya ketika dihadapkan dalam situasi-situasi penuh dengan permasalahan memberikan model terhadap anak-anak tentang cara-cara berperilaku ketika marah atau kecewa. Kontrol Diri merupakan sesuatu yang semua orangtua membutuhkannya. Kontrol Diri merupakan sebuah keterampilan yang membantu para orangtua menghindarkan diri dari tindakan yang menyakiti anak-anak mereka. Dengan mendapatkan kontrol diri sebelum memutuskan bagaimana bertindak kepada anak-anak mereka, para orangtua dapat berinteraksi dengan anak-anak mereka dalam cara-cara bermanfaat, bahkan selama saat-saat yang penuh tekanan.

Seseorang kemungkinan besar kehilangan kontrol diri jika kehidupannya penuh dengan tekanan. Permasalahan-permasalahan keluarga, lingkungan komunitas yang tidak sehat, kemiskinan, dan kesehatan yang buruk merupakan contoh-contoh permasalahan yang memberikan kontribusi terhadap munculnya stress. Perilaku menyimpang anak sangat mungkin menjadi faktor yang menyebabkan orangtua kehilangan kontrol diri. Orang-orang menyerah atas kemampuan mereka untuk berlatih kontrol diri ketika mereka menggunakan alkohol atau obat-obatan. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan merupakan permasalahan yang harus dicermati secara langsung, terpisah dari keterampilan pengasuhan. Sesorang yang menyalahgunakan alkohol atau obat-obatan tidak akan mampu untuk menggunakan KONTROL DIRI atau keterampilan pengasuhan lainnya secara efektif.

Penggunaan KONTROL DIRI akan membantu para orangtua berpikir sebelum bertindak secara berlebihan. Karena para orang dewasa menjadi lebih mampu mengenali tanda-tanda awal frustasi, mereka mulai memperlambat respon pertama mereka dan memikirkan alternatif-alternatif untuk tidak membatasi perilaku ketika sedang merencanakan sebuah respon yang lebih rasional. Keterampilan KONTROL DIRI ditujukan untuk membantu para orangtua memahami pengaruh emosi yang dirasakan terhadap tubuh dan menjadi lebih menyadari tanda-tanda pribadi mereka saat meningkatnya tekanan emosi. Marah merupakan sebuah emosi dasar yang setiap orang dapat memahaminya. Orang-orang dapat mempelajari bagaimana bertindak ketika marah tanpa menyakiti diri mereka sendiri atau orang lain. Kemarahan yang tidak terkendali tidak dapat digunakan sebagai sebuah justifikasi (pembenaran) untuk menyalahkan orang lain atau untuk mengatakan atau untuk melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain. Kemarahan memiliki banyak tujuan; salah satunya untuk mempromosikan tindakan. Kemarahan yang mendorong tindakan destruktif tidak pernah dapat dibenarkan; kemarahan atau frustasi yang menghasilkan sebuah sikap baru, tindakan baru, atau paradigma baru merupakan suatu pencapaian yang berharga. Menerima perasaan-perasaan yang dialami sebagai suatu yang alamiah dan manusia adalah penting. Menerima tanggung jawab atas tindakan kita adalah penting.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan

1. Berikan perhatian terhadap pesan-pesan tubuh yang mengatakan bahwa Anda kehilangan kendali

Emosi-emosi yang kuat mengubah kimiawi tubuh. Tubuh dapat menjadi seperti vulkano di mana tekanan terbangun dan kemudian meledak. Tanpa kontrol diri sebuah ledakan mungkin terjadi sebelum Anda mengetahuinya. Ketika seseorang mengatakan, “ Saya tahun saya telah kehilangan kontrol diri ketika kepalan tangan saya memukul dinding!”, kita dapat membantu dia mengenali tanda-tanda yang mengawali perilaku yang meledak-ledak. Para orangtua mungkin memperhatikan rahang mereka mengetat atau menggertakan gigi mereka. Sejumlah orang mungkin merasa otot-otot perut kencang atau memperhatikan perubahan dalam nada bicara mereka. Sebagian lainnya mungkin meremas-remas tangannya atau mengepalkan tangannya.

Situasi-situasi tertentu memang menekan—seseorang berteriak pada Anda, anak-anak Anda tidak mau bekerjasama untuk belajar di malam hari, atau terlambat untuk sebuah perjanjian. Waktu-waktu sulit seperti ini mungkin memicu tanggapan kemarahan. Setiap orang memiliki sinyal-sinyal pribadi. Adalah penting untuk mempelajari yang dimiliki sendiri dan memberikan perhatian terhadapnya. Semakin baik Anda dapat mengenali pesan-pesan tubuh lebih dini, semakin mudah untuk menanggapi secara efektif dalam situasi-situasi yang sulit tersebut.

2. Pikirkan cara-cara untuk mengendalikan diri Anda sendiri

Ketika pesan-pesan tubuh Anda mengirimkan sebuah peringatan, milikilah sebuah perencanaan yang membantu Anda menenangkan diri dan mendapatkan kembali kontrol diri. Perecanaan kedepan dapat mengurangi perasaan-perasaan terjebak dan memperkecil perasaan-perasaan frustasi atau tidak berdaya.

Gagasan-gasan kontrol diri terbagi ke dalam dua kategori—cara-cara untuk mengontrol diri Anda sendiri tanpa meninggalkan situasi dan cara-cara untuk mengendalikan diri dimana Anda dapat meninggalkannya. Sebagai contoh, ketika Anda tidak dapat menghindarinya, Anda dapat menghitung sampai sepuluh, mengambil nafas dalam-dalam beberapa saat, bicara pada diri sendiri, dan ingatkan diri Anda sendiri bahwa Anda OK. Ketika Anda dapat meninggalkannya, Anda mungkin memilih untuk membicarakan permasalahan dengan teman yang dipercaya, menemukan sebuah tempat tenang, mendengarkan musik, atau pergi jalan-jalan.

3. Pilihlah sebuah cara dan dapatkan kendali atas diri Anda sendiri

Situasi yang berbeda menuntut pilihan yang berbeda. Hal penting dalam tahapan ini adalah ambilah waktu untuk memilih dan jangan bereaksi sebelum berpikir. Hal ini mungkin menuntut kita mengambil waktu beberapa saat untuk menenangkan diri. Anda mungkin memutuskan untuk beristirahat dan mengatakan, “ Saya terlalu kecewa untuk menangani ini saat sekarang. Saya akan kembali ketika saya merasa tenang.” Ketika Anda tenang, kembalilah dan mulai tahapan keempat.

4. Putuskan bagaimana bertindak terhadap anak Anda

Sekali Anda siap, Anda dapat memikirkan tentang keterampilan-keterampilan lain yang telah Anda pelajari dan bagaimana mereka dapat diaplikasikan (diterapkan) terhadap situasi tersebut. Sebagai contoh, Anda mungkin menggunakan CHOICES, membicarakan permasalahan, memikirkan tentang mengapa Anda kecewa atau apa yang ingin Anda lihat terjadi atau mendengarkan anak Anda menjelaskan gagasan-gagasannya. Proses-proses ini kemungkinan membantu mengatasi sebuah situasi yang tampaknya sulit diatasi dengan cara Anda sendiri atau orang lain yang menuntut kerjasama anak Anda dalam menyelesaikan masalah. Kadang-kadang mendengarkan orang lain dan memahami bagaimana mereka merasakan dapat membantu Anda memahami perilaku orang lain tersebut dan memperkecil perasaan marah.

c. Outcomes

· Anak-anak belajar dengan contoh bagaimana menangani perasaan-perasaan mereka

· Orangtua belajar untuk mengelola respon mereka terhadap emosi-emosi yang kuat

d. Ringkasan

SELF CONTROL merupakan sebuah keterampilan yang Anda gunakan ketika Anda memperhatikan pesan tubuh mengatakan bahwa Anda kemungkinan dapat kehilangan kontrol diri.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |No Comments »

Seri Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan CHOICES

  1. bantulah anak Anda memahami permasalahan
  2. anak Anda dan Anda memikirkan dua atau lebih pilihan-pilihan yang masuk akal
  3. mintalah anak Anda untuk memilih dan mengatakannya kepada Anda pilihannya
  4. bantulah anak Anda mengikuti pilihannya

a. Gagasan Kunci

Keterampilan CHOICES—dibangun atas dasar keterampilan ENCOURAGEMENT dan CAN DO—ditujukan untuk mengembangkan kerjasama antara orangtua dan anak. Para orangtua diminta untuk terbuka dan mengijinkan anak-anak menjadi lebih meningkat keterlibatannya dalam menentukan resolusi (penyelesaian) atas sebuah permasalahan yang dibicarakan bersama. Ini merupakan sebuah keterampilan yang digunakan ketika anak-anak dapat membantu dalam mengambil sebuah keputusan atau perencanaan solusi (pilihan penyelesaian). Dengan memberi para orangtua sebuah cara untuk membagi tanggung jawab dengan anak-anak, CHOICES dapat mengurangi kecemasan–kecemasan orangtua tentang perasaan bahwa mereka harus mengendalikan setiap situasi. Anak-anak memperoleh kesempatan untuk belajar tanggung jawab pribadi dan membuat keputusan untuk meningkatkan kemandirian mereka.

CHOICE sangatlah berbeda dari CAN DO dan pembedaan seharusnya dibuat agar lebih jelas. Para orangtua mungkin memberi anak-anaknya alternatif CAN DO (“ Kamu dapat melakukan A atau Kamu dapat mengerjakan B. Mana yang ingin kamu lakukan?”), tetapi ini tidaklah sama dengan CHOICES di mana para orangtua dan anak-anak menemukan sebuah resolusi bersama. Keluarga bekerja bersama-sama untuk mencapai sebuah keputusan. CHOICES merupakan sebuah keterampilan negosiasi yang menghormati hak-hak baik orangtua maupun anak-anak. Kadang-kadang terasa sulit mengijinkan anak-anak memberikan suaranya dalam sebuah proses. Sejumlah orangtua mengakui hal tersebut tidak nyaman atau sulit untuk memahami betapa berharganya jika hal itu dilakukan. Pada saat lain para orangtua menganggap remeh tanggung jawab mereka dalam proses pengambilan keputusan dan membiarkan anak-anak memiliki kebebasan lebih banyak daripada kenyamanan bagi orangtua atau kepantasan untuk anak.

Ada sebuah pemahaman yang perlu digarisbawahi dalam menerapkan keterampilan ini bahwa para orangtua harus yakin suara-suara yang muncul masuk akal dan aman bagi semua pihak yang terlibat. Ini berarti menghargai kebutuhan-kebutuhan sendiri orangtua juga mengakui dan menghargai kebutuhan-kebutuhan anak. Pengasuhan merupakan sebuah tanggung jawab, tetapi dengan keterampilan ini pengambilan keputusan bersifat kolaboratif ( melibatkan pihak lain yang terkait) dan anggota-anggota keluarga memperkuat komitmen mereka untuk berbagi. Karena anggota-angota keluarga bekerja untuk menngatasi ketidaksepakatan, mereka mendapatkan penghormatan, kepercayaan, dan dukungan satu sama lain. Anak-anak mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan dengan orang lain dalam cara yang positif. Keterampilan ini merupakan salah satu fondasi (dasar) disiplin diri. Seorang anak yang belajar bagaimana membuat keputusan secara efektif telah mendapatkan keterampilan-keterampilan yang berguna dalam pengambilan keputusan sepanjang hidup.

Usia dan maturitas anak akan mempengaruhi seberapa banyak opsi (pilihan) dipertimbangkan dan mana di antaranya yang tepat. Semakin muda usia seorang anak, semakin besar diperlukan keterlibatan orangtua dalam mengarahkan proses. Terlalu banyak tanggung jawab bagi anak yang masih kecil dapat membuatnya kewalahan, menjadikan mereka berkecil hati. Meskipun demikian, anak-anak yang lebih tua membutuhkan kesempatan-kesempatan untuk meningkatkan tanggung jawabnya dan akan cenderungan untuk menolak opsi-opsi yang restriktif (bersifat membatasi). Kompleksitas (kerumitan) situasi, usia anak, dan tingkat kenyamanan orangtua kesemuanya mempengaruhi diskusi yang berlangsung.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan

1. Bantulah anak Anda memahami permasalahan

Seringkali situasi-situasi yang menyebabkan konflik (pertentangan) antar orang dilihat secara berbeda oleh mereka yang terlibat di dalamnya. Satu orang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya yang menyebabkan sebuah permasalahan bagi orang lain. Menyatakan secara jelas sebuah permasalahan adalah tahapan pertama bagi sebuah solusi. Adalah penting untuk menyatakan sebuah permasalahan menjadi spesifik, mengatakan sesuatu seperti, “Pakaian-pakaian basah akan kotor jika mereka diletakkan di lantai,” atau “Sudah terlambat, sekarang saatnya untuk berpakaian sekolah.”

Kritikan-kritikan yang bersifat global (umum) “Kamu tidak pernah berpikir sebelum bertindak” tidak mendapat tempat dalam keterampilan ini; hindarkan hal tersebut. Ambilah waktu sejenak untuk menjelaskan keprihatinan Anda, meskipun secara singkat, untuk mengkomunikasikan harapan bahwa ini adalah sebuah permaslahan yang Anda dapat pecahkan bersama-sama. Pesan penting yang Anda sampaikan kepada anak Anda adalah bahwa “kita dapat mengerjakan ini dengan penghargaan yang saling menguntungkan semua pihak.”

2. Anak Anda dan Anda memikirkan dua atau lebih pilihan-pilihan yang masuk akal

Ini merupakan sebuah tahapan curah gagasan. Mendorong proses ini dengan menanyai anak Anda, “ Menurutmu apa yang dapat kita lakukan?” dan membuat daftar yang berisi semua ide yang muncul. Dalam tahap ini semua gagasan diterima. Pada kenyataannya, sebuah gagasan gila yang mungkin memicu sebuah saran muncul dari salah satu atau Anda berdua dapat menjadi solusi terbaik. Sebelum Anda bergerak ke tahapan selanjutnya, pastikan Anda telah menemukan pilihan-pilihan yang dapat diterima oleh Anda berdua.

Sangat penting bahwa anak-anak memberikan kontribusi (sumbangan) ide-ide. Dengan melakukan hal demikian mereka mulai merasakan menjadi bagian dari sebuah perencanaan dan kemudian bagian dari solusi atas sebuah permasalahan. Seorang anak yang memberikan kontribusi ide-ide kreatif menjadi seorang pemecah masalah yang baik, seorang teman bermain yang kooperatif, dan seorang siswa yang banyak akal. Bersama-sama Anda mengambil daftar ide-ide dan menyeleksi mana-mana yang masuk akal dan dapat diterima Anda berdua. Anak-anak yang sangat muda akan terbebani dengan terlalu banyak alternatif. Mereka akan menjadi merasa nyaman dengan daftar yang lebih pendek dan pilihan-pilihan lebih kongkrit. Orangtua dan anak keduanya memiliki hak suara yang sama untuk mengatakan “Tidak”, meskipun orangtua memiliki tanggung jawab akhir untuk memastikan pilihan-pilihan yang ada adalah aman dan masuk akal.

Bersikap fleksibel (luwes) dan berpikiran terbuka juga merupakan sebuah keterampilan. Secara hati-hati pikirkan mengapa Anda mengatakan “Tidak”. Apakah itu masuk akal bagi Anda untuk membiarkan anak Anda yang berusia 16 tahun pergi ke bioskop dengan seorang teman tanpa seorang pengawal? Apakah bertanggung jawab membolehkan anak Anda berusia 8 tahun memilih pakaiannya sendiri? Jika Anda tidak dapat memutuskan paling tidak pilihan-pilihan yang dapat disepakati dan menguntungkan berdua, dapatkan ide-ide dari orang lain, mulai lagi, atau setuju untuk mencoba salah satu dalam jangka pendek sebagai sebuah percobaan. Jangan cepat berkecil hati; ini merupakan sebuah proses yang memungkinkan Anda lebih mudah nantinya daripada biasanya.

3. Mintalah anak Anda untuk memilih dan mengatakan pilihannya kepada Anda

Begitu Anda dan anak Anda telah setuju pada pilihan-pilihan yang diterima Anda berdua, seharusnya tidak menjadi permasalahan bagi Anda pilihan mana yang diikuti anak Anda. Ketika anak-anak Anda mengatakan pilihannya, mereka membuat sebuah komitmen secara verbal dan kemungkinan besar mereka akan melakukannya. Pastikan bahwa keputusan yang diambil jelas bagi Anda berdua. Anda mungkin ingin mengulang keputusan untuk meyakinkan pilihan Anda berdua.

4. Bantulah anak Anda mengikuti pilihannya

Keterampilan ini memiliki sebuah tahapan akhir yang penting. Membuat sebuah pilihan hanyalah bagian dari solusi. Tanggung jawab berarti mengerjakan apa-apa yang Anda katakan Anda akan melakukannya. “Apa yang dapat saya lakukan untuk membantumu?” kemungkinan merupakan pengingat yang baik, memberikan informasi tambahan, atau memberikan dukungan untuk membantu anak Anda melakukan pilihannya. Jika masih ada sebuah masalah, Anda mungkin memutuskan untuk memulai kembali dengan tahapan pertama CHOICES atau menggunakan keterampilan lain. Tetap tenang dan fokus (memusatkan perhatian) pada permasalahan untuk mengurangi sejumlah kemarahan, gangguan, atau frustasi yang mungkin Anda atau anak Anda rasakan.

c. Dampak

  • Anak-anak membuat keputusan dalam batasan-batasan yang masuk akal yang diberikan oleh orang dewasa
  • Para orangtua berbagi proses pengambilan keputusan dengan anak-anak mereka

d. Ringkasan

CHOICES digunakan ketika para orangtua bermaksud memberikan anak-anak mereka kesempatan membuat keputusan dalam batasan-batasan yang masuk akal.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |No Comments »

Seri Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan CAN DO

  1. perhatikan apa yang Anda tidak ingin anak Anda melakukannya
  2. pikirkan sesuatu yang anak Anda dapat melakukannya (alternatif)
  3. katakan pada anak Anda apa yang dapat dia lakukan
  4. bantulah anak Anda jika diperlukan

a. Gagasan Kunci

CAN DO mengajarkan para orangtua bagaimana mengarahkan ulang perilaku anak-anak mereka. Melalui pesan-pesan positif dan bersahabat seperti, “Cobalah ”, “Lakukan ”, “Kamu punya”, “Kemari”, para orangtua mengajari anak-anak untuk bertindak dalam cara-cara yang tepat. Mengubah dari “Jangan letakan pakaianmu di lantai” menjadi “ Ambil pakaianmu dan letakan di keranjang” memberi anak-anak informasi perilaku apa yang diharapkan untuk mereka lakukan. Anak-anak yang masih kecil akan menanggapi hal tersebut secara sama namun akan lebih baik jika orangtua sedikit arahan dengan memberi alternatif perilaku yang lebih pantas. Dengan bertambah tua usia anak, mereka melanjutkan untuk mengapresiasi apa yang dapat mereka lakukan daripada mengatakan apa yang tidak dapat mereka lakukan.

CAN DO membantu para orangtua menentukan batasan-batasan untuk perilaku anak-anak dalam cara-cara yang pantas dan konstruktif (membangun). Pemakaian kata-kata negatif yang berlebihan mengurangi efektivitas pengaruh-pengaruh orangtua terhadap anak-anaknya. “Tidak”, “Jangan”, “Hentikan”, dan “Keluar” ketika digunakan terlalu sering, ketika Anda tidak sabar atau terganggu, atau ketika anak Anda bertindak nakal, segera akan kehilangan pengaruhnya. Kata-kata yang kuat seperti ini seringkali hanya efektif untuk situasi-situasi emergensi. Temukan cara-cara untuk mengubah, “Tidak, Jangan” menjadi, “Ya, kamu dapat melakukannya”.

CAN DO memungkinkan anak-anak menjadi kreatif dan rasa ingin tahu tanpa batasan-batasan keamanan dan penghargaan yang berlebihan dari orang lain. Ini juga banyak membantu untuk menciptakan sebuah lingkungan keluarga yang lebih positif dan suportif. Anak-anak mampu untuk bekerjasama ketika mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka. Mengatakan kepada anak-anak apa yang dapat mereka lakukan daripada apa yang tidak dapat mereka lakukan mengajarkan kepada mereka alternatif cara-cara berperilaku—tahapan pertama dalam menciptakan problem solving (penyelesaian masalah). Mengatakan sesuatu sekali mungkin tidak menjamin terpenuhi. Para orangtua membutuhkan banyak kesabaran dan harus siap untuk membantu anak-anak melewatinya sementara mereka tumbuh dan belajar menjalani rutinitas baru.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan CAN DO

1. Perhatikan apa yang Anda tidak ingin anak Anda melakukannya

Ketika Anda memperhatikan anak Anda sedang mengerjakan sesuatu yang mengganggu atau menjengkelkan atau bahkan menyakiti sesuatu atau seseorang, pikirkan beberapa menit sebelum bereaksi. Putuskan perilaku apa dari anak yang ingin Anda ubah. Tentu saja, ketika seorang anak berada dalam keadaan membahayakan, orang dewasa harus segera mengambil tindakan dengan cepat.

2. Pikirkan sesuatu yang anak Anda dapat melakukannya (alternatif)

Tanyakan pada diri sendiri apa yang dapat anak Anda lakukan atau anak Anda miliki yang Anda setujui. Pikirkan hal-hal yang lebih aman atau lebih pantas daripada memikirkan kegiatan-kegiatan yang Anda ingin menghentikannya. Jika anak Anda sedang melempar sesuatu atau melompat di atas tempat tidur, adakah tempat lain di mana kegiatan-kegiatan tersebut tidak akan mengganggu Anda? Melemparkan sesuatu di dalam ruangan meningkatkan kemungkinan orang-orang terluka atau benda-benda menjadi pecah. Melompat di atas tempat tidur mengecewakan sejumlah orangtua dan dapat membahayakan jika anak terjatuh. Anak-anak dapat bermain secara aktif di luar ruangan dalam lingkungan yang aman.

Memilih kegiatan-kegiatan alternatif yang mensyaratkan perubahan minimal merupakan teknik yang kebanyakan berhasil. Anak-anak membutuhkan penyaluran emosi dan energi. Para orangtua dapat membantu anak-anak belajar bagaimana mengelola kebutuhan tersebut dalam cara-cara yang efektif dan pantas. Mengubah secara drastis dari melompat menjadi mewarnai merupakan sebuah lompatan sangat besar yang bagi sebagian besar anak akan menolaknya.

Jika sebuah situasi menyebabkan frustasi dan seringkali terjadi dalam keluarga Anda, mintalah pendapat pada teman yang mungkin Anda dapat mencobanya seperti CAN DO bersama anak Anda.

3. katakan pada anak Anda apa yang dapat dia lakukan

Menggunakan suara yang bersahabat dan lembut, katakan kepada anak Anda apa yang Anda ingin dia melakukannya. Sebuah pernyataan yang diakhiri dengan “Oke?” atau sebuah pertanyaan seperti “Maukah kamu mewarnai daripada melompat-lompat di atas tempat tidur?” tidak memberikan anak pilihan dan menciptakan kebingungan. Pernyataan-pernyataan seperti “ Melompat di atas tempat tidur tidak aman. Kamu perlu bermain di halaman,” yang diucapkan dalam cara-cara yang mantap dan menghargai akan lebih efektif.

Sejumlah anak-anak akan bekerjasama dengan mudah, akan tetapi jika anak Anda membutuhkan waktu lama untuk membuat penyesuaian, bicaralah pelan-pelan, lakukan kontak mata untuk mendapatkan perhatian anak Anda. Jelas, lembut, dan tenang.

4. Bantulah anak Anda jika diperlukan

Menindaklanjuti merupakan kunci sukses keterampilan ini. Anak-anak Anda akan bekerjasama ketika mereka melihat Anda cukup perhatian untuk membantu mereka. Ini mungkin diperlukan untuk menunjukkan kepada anak Anda apa yang Anda harapkan dan untuk memberi mereka semangat, pelatihan, atau dukungan lainnya. Kadang-kadang anak-anak menghargai keterlibatan Anda. Meskipun hal tersebut tidak mudah atau membutuhkan usaha tambahan, waktu yang Anda gunakan sekarang akan membantu anak Anda menjadi lebih mandiri di masa mendatang.

c. Dampak

· anak-anak memiliki kemampuan untuk mengubah perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima menjadi perilaku-perilaku yang dapat diterima.

· orangtua memperoleh sebuah teknik menentukan batasan yang konstruktif yang mengakui kebutuhan-kebutuhan anak mereka untuk kreatif dan mengeksplorasi dunia mereka

d. Ringkasan

CAN DO merupakan sebuah keterampilan yang Anda gunakan ketika anak-anak Anda melakukan sesuatu yang Anda tidak ingin mereka melakukannya.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |No Comments »

Seri Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan ENCOURAGEMENT

1. perhatikan sesuatu yang Anda sukai

2. perhatikan apa yang Anda rasakan

3. katakan hal tersebut (Saya merasa...bahwa kamu...)

4. perhatikan bagaimana anak Anda merespon

a. Gagasan Kunci

Orangtua adalah guru pertama dan paling bermakna bagi anak. Anak-anak belajar informasi-informasi penting tentang dirinya dari orangtua mereka. Perilaku dan keyakinan anak terhadap diri mereka sendiri sangat dipengaruhi oleh reaksi-reaksi orangtuanya. Ketika orangtua mereka percaya pada dirinya, mereka memperoleh kepercayaan diri. Anak-anak yang merasa diri mereka baik umumnya merasakan baik tentang orang lain dan mudah untuk bersama-sama mereka. Mereka tertarik dalam mempelajari keterampilan-keterampilan baru dan mampu menangani tantangan hidup dengan lebih baik.

ENCOURAGEMENT merupakan sebuah keterampilan sosialisasi yang menjadi dasar dalam menghargai diri sendiri dan orang lain. Dengan menggunakan ENCOURAGEMENT para orangtua belajar untuk mengapresiasi (menghargai) kemampuan-kemampuan anak mereka. ENCOURAGEMENT memberikan para orangtua sebuah cara untuk mengekspresikan (mengungkapkan) perasaan-perasaan positif mereka terhadap anak-anak. Juga membantu mereka mengakui usaha-usaha yang ditunjukkan oleh anak-anak mereka, meskipun ada kesalahan-kesalahan dalam perilaku atau belajar mereka. Keterampilan ini dimaksudkan untuk menjadi sebuah alat bagi orangtua mengenali kemampuan seorang anak dan menghargainya sebagai pribadi, bahwa setiap orang dicintai dan mampu.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan ENCOURAGEMENT

1. Perhatikan sesuatu yang Anda sukai

Anak-anak mendapatkan keuntungan dengan mengetahui bahwa orangtua mereka menyetujui mereka. Ketika anak-anak mencoba melakukan sesuatu yang baru atau melakukan sesuatu untuk orang lain, para orangtua dapat menggunakan keterampilan encouragement untuk menunjukkan apresiasinya. Dalam tahapan pertama ini, para orangtua perlu melihat secara seksama anak-anak mereka dan mengamati perilakunya. Dengan mengamati anak-anak mereka dan menggunakan ENCOURAGEMENT, para orangtua menunjukkan kepada anak-anak perilaku-perilaku yang berharga. Para orangtua dapat menamai perilaku yang spesifik dengan kalimat seperti,”Dia suka membantu membereskan celana panjangnya,” Dia mencoba membantu membereskan tempat tidurnya,” Anakku berbicara dengan sopan terhadap saudara laki-laki yang masih bayi.”

Suatu saat orangtua akan perlu memikirkan secara seksama untuk memisahkan perilaku positif—membantu dari perilaku yang mengganggu, perilaku yang membuat frustasi. Sebagai contoh, ketika seorang anak mencoba membantu menyajikan hidangan minuman tetapi minumannya tumpah ke lantai, akui perasaan telah terbantu dan hargai usahanya, kemudian bereskan yang berantakan. Orangtua mungkin mengatakan, “ Saya dapat melihat betapa besar anakku ingin ikut membersihkan setelah makan malam.” Air yang tumpah dapat dikeringkan dengan spon, tetapi perasaan terluka tidak!

Waktu terbaik untuk menggunakan keterampilan ENCOURAGEMENT adalah ketika seorang anak mulai melakukan sesuatu di mana orangtua kemungkinan besar melihat yang dia kerjakan. Para orangtua sangat senang sekali ketika untuk pertamakalinya bayi mereka mulai berjalan. Berjalan membutuhkan banyak usaha dan praktek, banyak jatuh dan bangun. Menyaksikan seorang anak melangkah pertama kali menawan hati. Orangtua merasa sangat senang ketika ini terjadi.

2. Perhatikan apa yang kamu rasakan

Ambilah waktu beberapa menit untuk mengingat bagaimana perasaan Anda ketika Anda melihat anak Anda sungguh-sungguh mencoba atau membuat kemajuan atau memberikan sebuah kontribusi (peran) terhadap keluarga atau melakukan sesuatu yang dia nikmati. Ini dapat menjadi sebuah tantangan. Semua orangtua mengalami perasaan yang beragam ketika mengasuh anak-anak. Para orangtua juga mungkin mengalami kesulitan memisahkan perasaan-perasaan menyenangkan atau memuaskan dari perasaan-perasaan frustasi atau kecemasan. Ambilah waktu beberapa menit untuk memikirkan apa yang sedang Anda rasakan dan menemukan sebuah cara yang positif untuk mengatakan kepada anak apa-apa yang Anda lihat. “Saya suka melihatmu...,” “Saya merasa bangga, bahagia, senang, terhibur ketika....” Sebuah perbendaharaan kata-kata yang banyak dalam mengekspresikan perasaan yang sedang dialami akan membantu Anda bergerak dari hanya “ Saya merasa baik” dan “ Saya merasa buruk”, juga membantu anak-anak mengidentifikasikan (mengenali) perasaan-perasaan mereka sendiri terkait dengan usaha, pencapaian, dan kesuksesan.

3. Katakan (Saya merasa...bahwa kamu...)

Ketika kita mengatakan kepada anak-anak bahwa kita memperhatikan sesuatu yang baik dari yang mereka lakukan, mereka belajar untuk menghargai perilaku terbaik dari diri mereka sendiri. Anak-anak yang merasa nyaman dengan dirinya dan merasa didukung memiliki harga diri yang tinggi. Mudah bagi para orangtua untuk mengakui kebaikan dari perilaku anak dan kehilangan kesempatan untuk mengajari mereka menghargai kualitas-kualitas dan bakat-bakat spesifik mereka. Gambarkan apa yang Anda lihat dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi perasaan Anda. Sebagai contoh,” Saya suka menyaksikanmu belajar ayunan,” “Menakjubkan melihatmu berlatih lompat tali”, “Saya senang melihat begitu menikmatinya ketika menggambar.”

4. Perhatikan bagaimana anak Anda menanggapi

Satu bagian penting dari tahapan ini adalah bahwa para orangtua menaruh perhatian terhadap reaksi anak-anak mereka. Sejumlah anak mungkin memperlihatkan rasa ingin tahu, sebagian lain menjaga diri, sebagian lagi curiga. Kebanyakan anak akan merasa gembira dan senang bahwa orangtua mereka sedang menaruh perhatian kepada mereka dan memiliki waktu untuk mengatakan sesuatu.

c. Dampak

  • Anak-anak belajar untuk menilai siapa dirinya dan apa yang mereka lakukan.
  • Orangtua juga menemukan dan menilai kekuatan-kekuatan anak-anaknya yang sedang berkembang


d. Ringkasan

Apapun perilaku yang ditampilkan anak, kata-kata pendorong dari orangtua membantu seorang anak merasa dirinya baik atas sesuatu yang telah dia kerjakan. Dengan menaruh perhatian dalam cara-cara yang positif, orangtua mengajarkan seorang anak untuk merasa dihargai

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |5 Comments »

Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan Pengasuhan

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Berbagai hasil penelitian menyimpulkan bahwa salah satu penyebab utama mengapa para orangtua, guru, dan orang dewasa lainya mudah mengalami stress ketika melakukan sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak, menanggapi dan memperlakukan anak-anak secara tidak tepat adalah kurangnya pengetahuan mereka tentang perkembangan anak dan kurangnya keterampilan-keterampilan pengasuhan. Terbatasnya pengetahuan-pengetahuan yang relevan tentang perkembangan anak mengakibatkan mereka memiliki dan mengembangkan harapan-harapan yang tidak realistik terhadap anak-anak/murid-murid dan ini selanjutnya menjadikan mereka rentan mengalami permasalahan (kecewa, tertekan, kebingungan, dll) terkait dengan anak-anak. Ketika pilihan-pilihan yang mereka milik terbatas dan keterampilan-keterampilan pengasuhan yang mereka miliki sangat minim, sangat dapat dipahami mengapa mereka dengan gampang melakukan perlakuan yang tidak tepat terhadap permasalahan yang muncul terkait anak-anak/murid-murid.

Mengingat pentingya pengetahuan tentang perkembangan anak dan keterampilan-keterampilan pengasuhan, maka penulis mencoba mengekplorasi lebih jauh tentang keterampilan-keterampilan pengasuhan yang perlu kita miliki sebagai orangtua, guru maupun orang dewasa yang kerap berinteraksi dan berhubungan dengan anak-anak.

Hal yang perlu kita sadari adalah bahwa kita sebagai orangtua/guru/orang dewasa dan anak-anak berada dalam team yang sama dan bahwa sebuah hubungan kooperatif (kerjasama) dan penuh perhatian merupakan dasar dari sebuah keluarga yang kokoh, dan merupakan cara terbaik bagi para orangtua untuk mengarahkan perilaku anak-anak mereka. Menyediakan anak-anak ekspektasi-ekspektasi (harapan-harapan) yang jelas dan batasan-batasan yang masuk akal memberi mereka rasa aman yang memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang dalam cara-cara yang sehat. Pengasuhan merupakan sebuah proses. Orangtua berubah dan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Adalah penting untuk diingat bahwa perubahan bersifat gradual. Bagi para orangtua mempelajari cara-cara baru yang bisa jadi menakutkan, sulit, dan bahkan membingungkan. Para orangtua mempengaruhi perilaku anak-anak mereka dan anak-anak mempengaruhi perilaku orangtua. Tulisan ini mudah-mudahan dapat membantu para orangtua/guru/orang dewasa lainnya dalam mengubah perilaku anak-anak mereka dengan cara bagaimana mengubah perilaku mereka sendiri.

John Bailey, Susan Perkins, dan Sandra Wilkins dalam publikasi mereka yang berjudul PARENTING SKILLS W O R K S H O P S E R I E S: A Manual for Parent Educators (Media Services, Cornell University, 1995) menyatakan keterampilan-keterampilan pengasuhan dasar yang perlu ditumbuhkembangkan oleh para orangtua adalah sebagai berikut. Pertama, keterampilan ENCOURAGEMENT, yaitu mengembangkan harga diri anak dan membangun kepercayaan di antara orangtua dan anak-anak. ENCOURAGEMENT menekankan pentingnya kita mengatakan sesuatu yang positif kepada anak-anak ketika kita melihat anak-anak sedang melakukan sesuatu yang disukai. Dua keterampilan berikutnya, CAN DO dan CHOICES, merupakan keterampilan bimbingan yang dapat dipelajari menggunakan 4 tahapan yang jelas. Keterampilan CAN DO mengajarkan para orangtua untuk mengajari anak-anak mengembangkan perilaku-perilaku yang dapat diterima. Keterampilan CHOICES mendorong para orangtua dan anak bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Keterampilan SELF CONTROL merupakan sebuah keterampilan manajemen amarah untuk orang dewasa, dan keterampilan RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan membangun empati.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |1 Comment »

Stop Pacaran: Sebuah Perspektif Psikologis

Stop Pacaran: Sebuah Perspektif Psikologis

By

Irwan Nuryana Kurniawan

Kebanyakan anak-anak muda meyakini dan telah menjadikan pacaran sebagai metode utama—bahkan satu-satunya metode—di dalam menemukan calon pasangan untuk berlanjut ke jenjang pernikahan. Mereka menduga bahwa pacaran akan memberikan mereka kesempatan yang baik untuk mengenal dengan lebih baik kebiasaan-kebiasaan dan karakter-karakter satu sama lain sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Mereka meyakini bahwa pengalaman pacaran yang mereka peroleh akan membantu mereka melakukan penyesuaian pernikahan dengan baik dan pada akhirnya kepuasaan pernikahan mereka akan lebih mudah diraih. Mereka berhipotesis ada hubungan sangat kuat antara pacaran dan kepuasan pernikahan.

Jika hipotesis ini benar, mengapa begitu banyak perceraian dan pernikahan yang tidak bahagia di masyarakat kita? Bahkan sebuah laporan penelitian menginformasikan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik untuk tingkat perceraian.

Temuan-temuan riset secara konsisten menunjukkan bahwa pacaran bukan prediktor yang signifikan bagi sebuah pernikahan yang bahagia. Sebagai contoh, National Marriage Project (2000) menyimpulkan bahwa kohabitasi—satu bentuk pacaran dimana mereka hidup bersama sebelum menikah—memiliki pengaruh negative terhadap masa depan pernikahan. Penjelasannya adalah bahwa dasar pernikahan adalah komitmen etik yang kuat—dalam Islam dikenal sebagai mitsqan ghalizhan- غَلِيظًا مِيثَاقًا –-sementara hubungan kohabitasi jatuh dalam komitmen jangka pendek. Pasangan kohabitasi lebih banyak berorientasi pada kebutuhan otonomi diri sendiri dan kemungkinan besar akan mengakhiri hubungan mereka jika hubungan tersebut sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Semakin lama pasangan ini hidup bersama, semakin besar kemungkinan mereka untuk memiliki sikap komitmen yang rendah. Karenanya sangat mudah diprediksikan bahwa sekali komitmen rendah ini terbentuk dan pola hubungan otonomi tinggi diadopsi, menjadi sangat sulit bagi mereka untuk berubah.

Dalam sebuah ulasan kohabitasi yang komprehensif, David Popenoe and Barbara Whitehead (1999) menyimpulkan bahwa kohabitasi merusak pernikahan dan meningkatkan probabilitas terjadinya perceraian. Hidup bersama meningkatkan resiko kekerasan domestik pada wanita dan resiko perlakuan fisik dan seksual menyimpang terhadap anak-anak. Kohabitasi juga berpotensi tinggi merusak anak-anak karena kemungkinan tingginya kemungkinan pasangan tersebut berpisah, sehingga menyulitkan bagi anak-anak untuk membangun hubungan dekat dengan orang dewasa lainnya. Demikian juga, wanita yang hidup bersama dan memiliki anak menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi. Lebih lanjut ditemukan bahwa pasangan-pasangan yang hidup bersama memiliki tingkat kebahagian dan kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan pasangan-pasangan yang menikah.

Dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, Joshua Harris (1997) menjelaskan dengan sangat jelas sejumlah alas an mengapa pacaran tidak mampu memprediksikan kebahagiaan hubungan pasangan:

1. Pasangan mendorong intimasi (kedekatan fisik emosional) tetapi tidak mencukupi untuk terbentuknya komitmen

2. Pacaran cenderung mengabaikan persahabatan padahal persahabatan menyediakan fondasi yang kuat untuk sebuah hubungan yang stabil

3. Pacaran cenderung fokus pada atraksi romantis, sehingga hubungan akan tetap berlangsung sepanjang perasaan romantis tersebut masih ada

4. Pacaran cenderung fokus pada menikmati cinta dan romantisme hanya untuk kesenangan semata

5. Pacaran seringkali menjadikan hubungan fisik sebagai bentuk pembuktian cinta terhadap pasangan

6. Pacaran seringkali mengisolasi pasangan dari hubungan-hubungan penting lainnya, meninggalkan arti penting persahabatan ketika mengalami kondisi buruk dengan pasangan

7. Pacaran banyak menghabiskan waktu dan tenaga di mana hal tersebut dapat mengganggu mereka dari tanggung jawab utama mereka untuk mempersiapkan masa depan

8. Pacaran seringkali menciptakan sebuah lingkungan artificial untuk mengevaluasi karakter pribadi orang lain

Yang lebih menguatkan lagi bahwa pacaran mestinya tidak perlu lagi dijadikan metode dalam mencari pasangan menikah adalah temuan-temuan yang menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang hidup bersama dan kemudian mereka memutuskan untuk menikah menunjukkan karakteristik pernikahan yang sangat kontradiktif dengan pasangan menikah yang sebelumnya mereka tidak hidup bersama. Sebagai contoh, Cohan and Kleinbaum (2000) menemukan bahwa pasangan menikah yang sebelumnya melakukan kohabitasi memiliki keterampilan-keterampilan komunikasi yang lebih buruk dalam mendikusikan permasalahan-permasalahan yang muncul dibandingkan pasangan menikah yang sebelumnya tidak melakukan kohabitasi. Studi-studi yang dilakukan menyimpulkan bahwa sebuah pernikahan yang didahului kohabitasi kemungkinan besar berakhir dengan perceraian; DeMaris and Roe (1992) menemukan resiko perceraian meningkat sebesar 46%.

Secara singkat, Sydney Harris menyimpulkan bahwa satu alasan utama mengapa banyak pernikahan yang gagal adalah fungsi yang disediakan oleh pacar dan jodoh berbeda secara fundamental—pacar biasanya dipilih karena pacar tersebut secara fisik menarik sementara jodoh dipilih karena jodoh tersebut secara psikologis bertanggung jawab; dan sayangnya, kebanyakan individu-individu yang menarik seringkali tidak cukup bertanggung jawab, sedangkan kebanyakan individu-individu yang bertanggung jawab seringkali secara fisik kurang menarik.

Jadi, bagaimana pendapat Anda sekarang tentang pacaran? Masihkah Anda meyakini bahwa pacaran merupakan metode terbaik untuk menemukan pasangan untuk menjaga kesucian diri dan bersama-sama menyempurnakan separuh agama Anda?

Published in:Ummat Development |on September 2nd, 2008 |12 Comments »

Memahami Strategi Manajemen Konflik Saudara Kandung

Rebutan boneka antara Adin dengan Ayya, adik kakak, berlanjut dengan saling memukul, dan berakhir dengan tangisan yang menggegerkan rumah (Parents Guide, Vol 1, No 01, Oktober 2002); Radya (5 tahun) bertengkar dengan Chika (9 tahun), kakaknya, karena ingin sekali mengajaknya bermain tetapi tidak mau karena sedang belajar belajar dan mengerjakan PR (Parents Guide, Vol 1, No 03, Desember 2002), merupakan contoh dari interaksi antar saudara kandung yang seringkali diwarnai oleh saling menyayangi satu sama lain dan saling membenci satu sama lain. Ambivalensi perasaan positif dan negatif ini merupakan ciri khas yang mewarnai interaksi antar saudara kandung sepanjang rentang kehidupan manusia.

Menurut Santrock (2001), interaksi antar saudara kandung seringkali menunjukkan saat-saat yang positif melalui dukungan sosial dan komunikasi sosial. Kakak menolong adiknya yang lebih muda mengatasi situasi tidak menentu saat orangtua mereka tidak ada. Adik seringkali menjadikan kakaknya sebagai dasar rasa aman untuk melakukan eksplorasi kompetensi yang dimiliki dan melakukan penyesuaian diri ketika teman sebaya mengabaikan dirinya.

Di sisi lain anak yang lebih tua kadang-kadang bereaksi secara negatif terhadap kehadiran adik laki-laki atau adik perempuannya yang baru lahir. Reaksi negatif anak-anak yang lebih tua, yang bersumber pada kecemburuan, seringkali muncul ketika orangtua, terutama ibu, lebih memberikan perhatian terhadap anak yang lebih kecil.

Stewart (Berndt, 1997) mencatat bahwa masalah perilaku anak-anak yang lebih tua lebih jarang terjadi ketika para orangtua tetap memberikan perhatian kepada mereka ketika adiknya lahir. Para orangtua ketika tetap memperhatikan kebutuhan stimulasi dan perhatian anak-anak yang lebih tua sebenarnya tidak hanya mengurangi kemungkinan terjadinya masalah perilaku pada anak-anak yang lebih tua, tapi juga membantu anak-anak yang lebih tua membentuk hubungan yang lebih baik dengan adiknya yang baru lahir.

Apa yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan orangtua mempengaruhi kualitas hubungan antar saudara kandung seperti apa yang akan berkembang nantinya. Hubungan antar saudara kandung yang ditandai oleh persahabatan dan kerjasama atau sebaliknya, hubungan antara saudara kandung yang ditandai oleh konflik dan permusuhan terus menerus.

Favoritisme para orangtua terhadap salah satu anaknya, misalnya, akan membuat hubungan antar saudara kandung lebih banyak diwarnai permusuhan dan agresi. Brody (1998) dalam reviewnya yang berjudul Sibling Relationship Quality: Its Causes and Consequences, mencatat dari sejumlah program riset terdapat data-data yang mendukung hipotesis bahwa hubungan antar saudara kandung akan lebih banyak ditandai oleh negativitas ketika para orangtua memperlihatkan secara langsung campur tangan, responsivitas, afeksi positif dan afeksi negatif, kontrol, dan disiplin yang tidak sama terhadap sejumlah anak-anak mereka sebagai respon atas perilaku yang sama

Sementara itu Dunn dan Kendrick (Damon & Eisenberg, 1998) menemukan ketika para ibu mendiskusikan perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan anak yang baru lahir dengan anak-anak yang lebih tua, maka anak-anak yang lebih tua akan lebih menyayangi adiknya. Bryant dan Crockenberg (Damon & Eisenberg, 1998) juga mendapati bahwa responsivitas para ibu terhadap kebutuhan-kebutuhan anak perempuan yang lebih muda berkorelasi positif dengan kemampuan berbagi dan menghibur anak yang lebih muda terhadap anak yang lebih tua.

Hubungan antar saudara kandung penting bagi anak-anak karena mereka berinteraksi satu sama lain dan mempengaruhi kontek sosial emosional di mana mereka tumbuh dan berkembang. Keterampilan-keterampilan psikososial yang mereka peroleh melalui interaksi antar saudara kandung akan digunakan sepanjang hidup pada hubungan sosial lain yang lebih luas (Brody, 1998).

Pengalaman-pengalaman anak-anak dengan saudara kandung menyediakan sebuah kontek di mana pola-pola interaksi dan keterampilan-keterampilan pemahaman sosial kemungkinan digeneralisasikan dalam hubungan dengan anak-anak yang lain. Sebuah kondisi di mana anak mengembangkan keterampilan-keterampilan pemahaman sosial yang memungkinkan mereka membentuk hubungan persahabatan dengan anak-anak yang lain (McCoy dkk, 1994; Stocker & Dunn, 1990, dalam Damon & Eisenberg, 1998)

Melalui hubungan antar saudara kandung, menurut Hopson dan Hopson (2002) anak-anak akan belajar bagaimana mereka harus menyesuaikan diri dengan orang lain. Anak-anak akan belajar bagaimana bernegosiasi dan berkompromi dengan orang lain. Anak-anak akan belajar bagaimana mengembangkan pemahaman tentang keberadaan orang lain sekaligus menghargai perasaan orang lain. Hubungan antar saudara kandung juga akan mengajarkan kepada anak-anak bahwa hidup ini tidak selalu adil dan membantu mereka untuk menerima kenyataan tersebut. Anak-anak akan belajar kesabaran dan toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Anak-anak akan belajar tentang batasan-batasan orang lain dan bagaimana menerapkan batasan-batasan mereka.

Salah satu tugas tersulit yang dihadapi para orangtua adalah ketika mereka harus memutuskan bagaimana merespon secara cepat dan tepat ketika terjadi konflik di antara anak-anak mereka. Mengapa demikian? Cepat lambatnya dan tepat tidaknya strategi manajemen konflik yang mereka gunakan tidak hanya berdampak pada teratasinya konflik yang muncul, tetapi juga bagi perkembangan dan hubungan di antara anak-anak di masa mendatang.

Goleman (1995) dalam bukunya, Emotional Intelligence, mencatat ada ratusan kajian yang memperlihatkan bahwa bagaimana para orangtua memberi perlakuan terhadap anak-anaknya, apakah dengan disiplin yang keras atau dengan pemahaman yang empatik, dengan acuh tak acuh atau dengan kehangatan,dan lain sebagainya memiliki konsekuensi yang mendalam dan abadi bagi kehidupan emosional anak-anak.

Ada berbagai macam strategi yang dilakukan para orangtua sebagai respon terhadap konflik pada anak-anaknya yang memiliki hubungan saudara kandung. Vuhinich dkk (1988) mencatat sejumlah strategi manajemen konflik yang biasa digunakan para orangtua antara lain kontinyuasi konflik (terlibat atau memperluas konflik), otoritas (memakai kekuasaan untuk mengakhiri konflik), mediasi/informasi (memberikan saran-saran, informasi), distraksi (mengubah fokus pada isu-isu non konflik), dan non intervensi. Howe dkk (2001) mencatat ada tiga strategi yang digunakan para orangtua dalam mengatasi konflik antar saudara kandung, yaitu manajemen direktif (secara verbal dan atau fisik membatasi atau mengontrol anak-anak dari konflik yang lebih berbahaya), manajemen antisipatori (melatih kemampuan anak-anak yang lebih muda dalam mengenali perasaan-perasaan dan keinginan-keinginannya ketika berinteraksi dengan saudara kandungnya yang lebih tua) dan manajemen interaktif (ikut terlibat secara verbal dan/ atau fisik bersama dengan anak-anak dalam bermain, permainan, dan ketika mereka membaca buku-buku.)

Perozynski dan Kramer (1999) menyimpulkan dari penelitian Dunn & Munn tahun 1986, Felson & Russo tahun 1988, Ross dkk tahun 1994, Perlman & Ross tahun 1997 bahwa efektivitas strategi manajemen konflik yang digunakan para orangtua bervariasi secara spesifik. Suatu strategi yang efektif dalam mengatasi konflik antar saudara kandung pada satu situasi, belum tentu efektif untuk jenis konflik yang sama pada situasi yang berbeda.

Perozynski dan Kramer (1999) menemukan bahwa para orangtua tiga kali lebih sering memakai strategi pasif non intervensi (passive non intervention strategy) daripada strategi berpusat pada anak (child-centered strategy) dan kontrol orangtua (parental control strategy) dalam mengatasi konflik antar saudara kandung, meskipun mereka sebenarnya meyakini bahwa strategi berpusat pada anak dan strategi kontrol orangtua lebih efektif.

Temuan tersebut menunjukkan adanya pengaruh keyakinan (belief) yang dimiliki orangtua terhadap perilaku yang dilakukan sebagai respon atas konflik yang terjadi di antara anak-anaknya. Keyakinan yang dimiliki akan mempengaruhi interpretasi orangtua atas situasi yang dihadapi dan interpretasi ini akan mempengaruhi jadi tidaknya sebuah perilaku dilakukan orangtua. Keyakinan orangtua tentang kemampuan dirinya untuk menampilkan dengan baik tugas sosialiasi tertentu, menurut Bugental dan Goodnow (Damon & Eisenberg, 1998) mempengaruhi dilakukan tidaknya suatu tugas sosialisasi tertentu tersebut.

Eccles dkk (1990) dan Goodnow & Collins (1990) menemukan bahwa keyakinan dan stereotip orangtua mempengaruhi harapan-harapan dan tujuan-tujuan yang dikembangkan orangtua atas anak-anaknya, persepsi-persepsi orangtua atas minat dan bakat anak-anaknya, dan cara-cara yang digunakan orangtua dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka.

Sejumlah penelitian memperlihatkan adanya pengaruh jenis kelamin dalam strategi manajemen konflik yang diterapkan orangtua ketika menangani konflik antar saudara kandung. Vuhinich dkk (1988) menemukan bahwa para ayah cenderung untuk mengadopsi gaya otoriter ketika melakukan intervensi konflik yang terjadi di antara anak-anaknya, sedangkan para ibu menggunakan pendekatan mediasional. Perozynski dan Kramer (1999) menemukan bahwa para ibu lebih meyakini strategi berpusat pada anak lebih efektif daripada strategi kontrol orangtua dalam mengatasi konflik di antara anak-anaknya. Sebaliknya, para ayah menunjukkan konfidensi yang lebih tinggi dalam memakai strategi kontrol orangtua dibandingkan strategi berpusat pada anak dalam merespon konflik yang terjadi.

Telaah penulis terhadap tulisan Hoff-Ginsberg (Bornstein, 1995) yang berjudul Socioeconomic Status and Parenting, sebuah tinjauan mendalam terhadap literatur-literatur berisi status sosial ekonomi dan keyakinan orangtua, perilaku pengasuhan, dan hubungan antara keyakinan dengan perilaku orangtua, memunculkan dugaan kemungkinan adanya pengaruh status sosial ekonomi dalam strategi manajemen konflik yang dipakai orangtua ketika menangani konflik antar saudara kandung. Hoff-Ginsberg (Bornstein, 1995) menyimpulkan bahwa para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi yang berbeda—kebanyakan diukur dengan menggunakan dimensi pekerjaan dan pendidikan orangtua—menunjukkan keyakinan dan perilaku pengasuhan yang berbeda.

Para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi lebih rendah lebih menekan pentingnya nilai-nilai konformitas pada anak-anaknya, sedangkan para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi lebih tinggi lebih menekankan nilai-nilai kemandirian bagi anak-anaknya. Para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi lebih tinggi digambarkan lebih demokratis, kecenderungan menghukum yang rendah, dan berpusat pada anak, sedangkan para orangtua yang berasal status sosial ekonomi lebih rendah digambarkan lebih otoriter, kecenderungan menghukum tinggi, dan berpusat pada orangtua.

Berdasarkan survey pendahuluan terhadap tujuh pasangan suami istri yang memiliki anak lebih dari satu orang, anak pertama rata-rata berusia 7 tahun 2 bulan dan anak kedua rata-rata berusia 4 tahun 5 bulan, penulis menemukan bahwa mereka juga pernah mengalami dan menyaksikan sendiri konflik yang terjadi di antara anak-anaknya seperti cemburu/iri ketika melihat saudaranya berbicara atau berada dekat ayah ibunya (100%), saling mengejek satu sama lain (85,71%), menunjukkan kepada saudaranya bahwa dia dapat melakukannya dengan baik atau bahkan lebih baik (85,71), bertengkar (71,41%), dan memukul/menjambak rambut/mendorong hingga saudaranya terjatuh (35,71%).

Permasalahan tentang bagaimana mengatasi konflik antar saudara kandung ini juga dihadapi oleh dua orang ibu sebagaimana yang diungkapkan berikut ini. Ernawati (www.kompas.com/health/psikologi/110901c.htm) menyatakan dirinya mengalami kebingungan bagaimana harus bersikap terhadap anak-anaknya yang kerap terlibat konflik. Anak pertama, laki-laki, berusia 6,5 tahun, dan anak kedua berumur 2,5 tahun. Sifat mereka sangat berbeda. Sang kakak penakut, cerewet, sedangkan si adik sangat temperamental. Begitu ada yang tidak cocok di antara mereka, langsung banting dan lempar barang. Saya sering meminta si kakak mengalah pada adiknya, tetapi tidak jarang pula si adik keterlaluan. Saya pukul di depan kakaknya supaya si kakak tahu bahwa saya berlaku adil. Masalah saya adalah belakangan ini si kakak suka membawa beberapa boneka (ketika dia masih kecil) tidur bersamanya. Kebetulan kami hanya punya dua kamar dan dia memilih tidur ditemani pembantu di kamarnya. Boneka-boneka itu (beruang dan ulat) dijadikan teman tidur, diselimuti dan diberi bantal.; Lusi S (Parents Guide, Vol I, No 7, April 2003) menyatakan kesulitan menangani kecemburuan anak pertama terhadap adiknya. Anak pertama saya seorang anak laki-laki usia 4 tahun 4 bulan. Walaupun masih balita, perilakunya seperti orang dewasa. Misalnya, kalau dimarahi, dia akan menjawab, Mama sudah tidak sayang aku lagi, ya? Bila dilarang melakukan sesuatu, dia akan marah dan membentak orang yang melarangnya itu. Sebagai ibunya, saya pun mengalami hal serupa, bahkan pernah diusir dari kamarnya sambil berkata saya tidak mau lagi dekat dengan saya. Selain itu, si kecil juga pencemburu terhadap adiknya (1 tahun 5 bulan). Sikap ini sudah berlangsung sejak adiknya masih bayi.

Penulis dalam survey pendahuluan juga menemukan bahwa para orangtua yang menjadi subjek penelitian pendahuluan ini melaporkan bahwa mereka pernah memakai cara-cara berikut ini dalam mengatasi konflik yang terjadi di antara anak-anaknya, yaitu meminta penjelasan anak-anaknya sebab-sebab terjadinya konflik guna mencari kemungkinan pemecahannya (100%), meminta salah satu anaknya mengalah (85,71%), meminta anak-anaknya berhenti bertengkar (78,57%), membiarkan anak-anaknya menyelesaikan konflik dengan cara mereka sendiri (71,14%), mengalihkan perhatian anak-anak pada hal yang lain (57,14%) menghukum salah satu anak (42,85%), dan menghukum mereka semuanya (35,71%)

Tepat tidaknya strategi manajemen konflik yang digunakan para orangtua dalam menangani konflik antar saudara kandung seperti tersebut di atas akan mempengaruhi kualitas hubungan antar saudara kandung. Perlakuan yang tidak tepat dalam mengatasi konflik antar saudara kandung, misalnya favoritisme orangtua terhadap salah satu anak, akan berakibat pada buruknya hubungan antar saudara kandung.

Fenomena negativitas hubungan antar saudara kandung akibat perlakuan orangtua yang membeda-bedakan dirasakan oleh Gt (Kompas, 28 Mei 2000) di Lombok, sebagaimana dia ceritakan berikut ini:

“ Saya, 23 tahun, anak ke 9 dari 11 bersaudara, sudah tidak tahan menghadapi, melihat, mendengar sesuatu yang ada hubungannya dengan kakak laki-laki sulung saya, sebut saja B (37 tahun). Dia sudah berkeluarga dan memiliki 3 anak, tetapi masih tinggal bersama orangtua. Dari kecil, sejak saya dapat menyimpan memori, kakak sulung saya ini sudah sangat-sangat-sangat…membuat orang lain merasa tersiksa, menderita, teraniaya batin (pernah juga fisik). Kadang kami bangun malam hari sebab ia berkelahi dengan kakak yang lain. Perkelahian ini bukan yang biasa, tetapi seperti perang saja. Tiap kali berkelahi orangtua menyembunyikan benda-benda tajam. Pernah dia berkelahi dengan kakak yang sudah menikah, yang ketika itu masih tinggal bersama orangtua. B mengusir kakak saya dan bilang kalau sudah menikah harus tahu diri, jangan menumpang terus pada orangtua. Padahal dia sendiri sampai punya anak tiga masih menumpang. Munafik ya Bu. Orangtua sering membantu dia, juga saat membuka swalayan kecil. Tetapi dia malas menjaganya. Kadang-kadang berkelahi dengan istrinya sebab dia mau tidur siang-meski bangunnya sudah siang, padahal toko sedang ramai. Istri B juga sama saja. Pernah mereka berkelahi dengan kakak nomor tiga Ketika B sudah agak tenang, istrinya memanas-manasi. Sampai barang-barang milik kakak nomor tiga dirusak, bajunya disobek-sobek dan alat elektronika dicoret dengan paku. Tetapi orangtua menutupi kejadian itu, bajunya dijahit lagi, dan alat elektronik diperbaiki. Dia juga mau menguasai barang-barang di rumah. Tak terhitung banyaknya barang miliki orangtua, kakak-kakak, bahkan punya saya yang masuk ke paviliun dia dan tidak bisa diambil lagi. Dia menggunakan mobil orangtua sesuka hatinya. Kalau adiknya mau pakai dia bilang manja banget, tidak mau naik kendaraan umum. Pernah dia akan pergi, mobil dipakai orangtua menengok orang sakit dengan diantar kakak. Pulangnya dia marah-marah, padahal yang punya kan orangtua. Sampai anak-anak B menganggap mobil itu punya Papa mereka dan orangtua dianggap meminjam.”

Buruknya hubungan antar saudara kandung pada tingkatan tertentu dapat mengarah pada tindakan kriminal, seperti yang diberitakan dalam media massa berikut ini: “Di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, seorang adik yang pengangguran membunuh kakak kandungnya sendiri. Kejadiannya berawal ketika sang adik mengambil uang milik kakaknya tanpa memberitahu terlebih dulu. Melihat hal tersebut, sang kakak kemudian menampar adiknya dan terjadilah perang mulut dan perkelahian. Perkelahian tersebut berakhir tragis dengan kematian sang kakak, dibunuh adiknya sendiri memakai senjata tajam berupa tatah (Bernas, 7 Mei 2002); Di Kampung Tapos, Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, seorang kakak terbunuh oleh adik kandungnya sendiri. Peristiwa ini bermula ketika korban ingin menjual rumah tetapi ditentang oleh seluruh keluarganya. Kemudian korban bermaksud membunuh ibu kandungnya, tetapi usaha korban dicegah oleh adiknya dan terjadilah perkelahian. Akhirnya korban terbunuh oleh sang adik (Pikiran Rakyat, 5 Juli 2002).”

Published in:Parenting |on September 2nd, 2008 |6 Comments »

Overcoming Child Abuse in Indonesian through Positive Parenting Program and Prophetic Intelligence

Overcoming Child Abuse in Indonesian through Positive Parenting Program and Prophetic Intelligence
by
Irwan Nuryana Kurniawan

A number of facts and data collected by National Commission for Child Protection the year 2004, indicates that condition of Indonesian children residing in at situation of the special protection requires attention of all party sides. Situation portrait and various problems of children in Indonesia are getting concerned day by day. That various sufferings those experienced by Indonesia children has shown that Child’s Right of Life as integral part of human right has been omit and threatened without special handling an solution. Report from Data Centre and Information National Commission for Child Protection is entering through Hotline Service National Commission for Child Protection to indicate that hardness case to child, good of that is sexual hardness, physical, psychological, and economics, what reported, The numbers increasing. Out of 481 hardness cases to child of in the year 2003 reported through direct denunciating and Hotline Service National Commission for Child Protection, increases to become 544 cases in the year 2004. 221 cases is sexual hardness, 140 physical hardness cases, 80 psychical hardness cases, and 103 cases about other problems, as discriminations and others (NCCP, 2005).

Recently National Commission for Child Protection as child protection institution which in de facto way supported by society, along the year 2006 has accepted complain and recorded many kinds of children’s sufferings those happen surround us. Number of children victim violence that is reported and handled by National Commission for Child Protection, in victim of violence sexual, physics, mental are:

Kinds of Violence

Year 2004

Year 2005

Year 2006

Physical

140

233

247

Sexual

221

327

426

Mental

80

176

451

Sum

441

736

1124

Meanwhile, nationally number of violence toward child predicted reach 72.000 cases (NCCP, 2006). According to Seto Mulyadi, Chief of National Commission for Child Protection, most of the actors of violence toward children are them who stay around the children life. Almost 69% the actors are them who know the children well, such as parent, grandparent neighborhood and teacher (NCCP, 2005).

DeHart et al (1996), summarized from several researches, concluded that parental abuse cause negative consequences to children. These include aggression, social withdrawal, and other difficulties with peers. Problems of low self esteem and difficulty maintaining a coherence of self, as well as problems describing one’s own feelings and actions, have been found, as have emotional disturbances ranging from lack of ability to experience pleasure to uncontrollable anger. In addition, there may be serious problems of apathy in the face of challenges, or difficulties in balancing the desire to explore with the need to feel secure. Such problems may persist into later childhood and even adulthood. In adulthood, the most widely reported outcomes of having maltreated as a child are aggression and parenting problems.

Ziegler and Hall (1989), Critenden et al (1991) found that majority of parents who mistreat their children were abused as children. The same seems to be true of harsh parenting practices (Simons et al 1991): when the parents of one generation are harsh, their children tend to be harsh when they become parents. Furthermore Bee (1998) noticed that parents, regardless of depression of history of abuse, are more likely to abuse a child when their current life conditions are highly stressful. So abuse is more likely in families in which at least one parent is alcoholic, in large families, in single parent households, and in families living in poverty or in extremely crowded conditions (Garbarino, & Sherman, 1980; Sack dkk, 1985; Pianta dkk, 1989).

Bostrom (2003) found that child abuse can happen in any segment of society, most point to factors such as parental alcohol and drug abuse, poor parenting skills, a past history of abuse, and economic stress as reasons for child abuse and neglect. Gelles (2000a) noted that abusive parents often have unrealistic expectations of their children, have little knowledge of child development, and demonstrate an inability to bond with infants

In short those lacks of parenting skill become a critical factor that is related to the incidence of child abuse in a family. Furthermore, Walker et al (2006) found that teaching parenting skills can have positive long-term effects in children who, because of their parents’ social circumstances, are at high risk of developing psychological, emotional, or behavioural problems. Kurniawan and Utami (2007) also found that increasing parenting skill significantly can reduce parent’s neglectful behaviours.

Alvy (2007) conclude research study after research study confirms that communities benefit greatly when children are raised effectively. The societal benefits are evident very early, as effectively parented preschool children are more likely to enter school eager and ready to learn. They are also much more likely to achieve at high levels and to be well liked by their peers and teachers. The research also shows that as teenagers, these effectively parented young people make positive contributions to community life and are of service to others. And as adults they are more likely to have productive careers, healthy and stable marriages, and to become effective parents themselves.

Sanders et.al (2003) summarized that there has been a consistent finding across many studies which shows that parenting skills training used in Triple P produces predictable decreases in child behavior problems, which have typically been maintained over time. Furthermore, several studies show that these improvements in child behavior are also paralleled by improvements in parents’, particularly mothers’, adjustment. The primary treatment effects on child and family functioning have been replicated several times in different studies involving different research teams. Similar findings from previous researched by Dembo et. al (1985), Todres and Bunston (1993), and Cowen (2001) revealed that family education programme effectively can change parent attitude and parenting practices, family dynamics, and reduce children behaviour problems.

Sanders et.al (2003) describe The Triple P-Positive Parenting Program is a multi-level, preventively-oriented parenting and family support strategy developed by the authors and colleagues at The University of Queensland in Brisbane, Australia. The program aims to prevent severe behavioral, emotional and developmental problems in children by enhancing the knowledge, skills and confidence of parents.

The Triple P-Positive Parenting Program incorporates five levels of intervention on a tiered continuum of increasing strength. Figure 1 depicts the differing levels of intensity and reach of the Triple P system. Level 1, a universal parent information strategy, provides all interested parents with access to useful information about parenting through a coordinated promotional campaign using print and electronic media as well as user-friendly parenting tip sheets and videotapes that demonstrate specific parenting strategies. This level of intervention aims to increase community awareness of parenting resources and the receptivity of parents to participating in programs, and to create a sense of optimism by depicting solutions to common behavioral and developmental concerns ( Sanders et.al., 2003).

Sanders et.al (2003) explains that Level 2 is a brief, one to two-session primary health care interventions providing early anticipatory developmental guidance to parents of children with mild behavior difficulties or developmental issues. Level 3, a four-session intervention, targets children with mild to moderate behavior difficulties and includes active skills training for parents. Level 4 is an intensive eight to ten-sessions individual, group or self-directed parent training program for children with more severe behavioral difficulties. Level 5 is an enhanced behavioral family intervention program for families where child behavior problems persist or where parenting difficulties are complicated by other sources of family distress (e.g., marital conflict, parental depression or high levels of stress).

Over the past decade, considerable research has emerged that demonstrates the benefits of religious practice within society. Religious practice promotes the well-being of individuals, families, and the community. Of particular note are the studies that indicate the benefits of religion to the poor. Regular attendance at religious services is linked to healthy, stable family life, strong marriages, and well-behaved children. The practice of religion also leads to a reduction in the incidence of domestic abuse, crime, substance abuse, and addiction. In addition, religious practice leads to an increase in physical and mental health, longevity, and education attainment. Moreover, these effects are intergenerational, as grandparents and parents pass on the benefits to the next generations (Kagan, 2006).

In general, religious participation appears to foster an authoritative, warm, active, and expressive style of parenting. In addition, parents who attend religious services are more likely to enjoy a better relationship with their children (Pearce and Axinn, 1998) and are more likely to be involved with their children’s education (Wilcox, 2002). Moreover, the greater a child’s religious involvement, the more likely both the child and parent will agree about the quality of their relationship (Aquilino, 1999) the more similar their values will be, and the greater their emotional closeness will be (Pearce , and Haynie, 2004).

A small but growing body of research has focused on the links between religious practice and decreased family violence. For example, men who attended religious services at least weekly were more than 50 percent less likely to commit an act of violence against their partners than were peers who attended only once a year or less (Ellison et.al, 1999). No matter how the data were analyzed, regular attendance at religious services had a strong and statistically significant inverse association with the incidence of domestic abuse (Ellison and Anderson, 2001). Similarly, after controlling for all other factors, Wilcox (2004) found that of all groups studied (unaffiliated, active conservative Protestant, active mainline Protestant, nominal conservative Protestant, and nominal mainline Protestants), religiously active conservative Protestant men were least likely to engage in domestic violence.

Strong and repeated evidence indicates that the regular practice of religion has beneficial effects in nearly every aspect of social concern and policy. This evidence shows that religious practice protects against social disorder and dysfunction. My previous researches revealed that prophetic intelligence significantly can predict achievement motivation of government employee (Kurniawan, 2006a), has positive and significant correlation with girl adolescence autonomy (Kurniawan, 2006b), authoritative parenting style (Kurniawan, 2006c) and marital satisfaction (Kurniawan, 2007).

Published in:Parenting |on September 2nd, 2008 |11 Comments »