Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Antar Saudara Kandung

Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Antar Saudara Kandung

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Interaksi antar saudara kandung, menurut Jolley dan Mitchel (1996) terjadi sebagai konsekuensi alamiah dari adanya perubahan struktur keluarga. Setiap kali ada penambahan jumlah anggota keluarga baru, maka akan terjadi penambahan jumlah interaksi di antara anggota keluarga tersebut. Jika pasangan suami istri belum memiliki anak, maka interaksi yang terjadi berjumlah dua kali, yaitu suami dengan istri, dan istri dengan suami. Ketika sebuah keluarga memiliki satu anak, maka jumlah interaksi menjadi enam kali yaitu ibu dengan anak, anak dengan ibu, ayah dengan anak, anak dengan ayah, suami dengan istri, dan istri dengan suami. Ketika anak kedua lahir, maka jumlah interaksi menjadi 12 kali yaitu ibu dengan anak pertama, anak pertama dengan ibu, ayah dengan anak pertama, anak pertama dengan ayah, ibu dengan anak kedua, anak kedua dengan ibu, ayah dengan anak kedua, anak kedua dengan ayah, anak pertama dengan anak kedua, anak kedua dengan anak pertama, suami dengan istri, istri dengan suami. Ketika anak ketiga lahir, maka jumlah interaksi dalam keluarga menjadi 20 kali, dan begitu seterusnya.

Salah satu konsekuensi logis dari adanya penambahan jumlah interaksi dalam keluarga, lanjut Jolley dan Mitchel (1996) adalah kemungkinan terjadinya konflik dalam keluarga menjadi lebih besar, termasuk konflik antar saudara kandung. Interaksi keluarga menyediakan sebuah kontek yang sangat penting bagi perkembangan individu anggota keluarga karena hampir semua konflik yang umumnya terjadi pada kelompok-kelompok sosial di masyarakat juga terjadi di dalam keluarga.

Sillars dkk (2002) mencatat bahwa frekuensi terjadinya konflik saudara kandung cenderung meningkat dengan bertambahnya frekuensi interaksi di antara anak-anak. Banyaknya waktu yang dihabiskan bersama saudara kandung merupakan prediktor yang lebih baik bagi frekuensi konflik saudara kandung, dibandingkan variabel usia, jenis kelamin, dan ukuran keluarga. Frekuensi konflik antar saudara kandung terjadi lebih dari enam kali per jam. Frekuensi konflik antar saudara kandung pada masa anak-anak usia prasekolah rata-rata mencapai tujuh kali per jamnya.

Para orangtua dalam menghadapi konflik di antara anak-anaknya menggunakan strategi manajemen konflik tertentu agar konflik yang terjadi tidak mengarah pada memburuknya hubungan antar saudara kandung. Sejumlah orangtua lebih suka menghentikan konflik antar saudara kandung dengan cara memberi hukuman kepada mereka, sementara sebagian orangtua lain lebih menyukai menyelesaikan konflik antar saudara kandung dengan cara membiarkan anak-anaknya menyelesaikan sendiri konfliknya. Sebagian orangtua meminta anak-anaknya yang lebih tua untuk mengalah kepada saudaranya yang lebih muda ketika terjadi konflik, sementara sebagian orangtua lainnya memilih mengalihkan perhatian anak-anak yang sedang berkonflik pada hal-hal lain di luar penyebab terjadinya konflik.

Strategi manajemen konflik merupakan strategi-strategi yang digunakan orangtua dalam mengatasi konflik sebagai respon atas terjadinya konflik dalam interaksi antar saudara kandung. Strategi manajemen konflik merupakan prosedur yang digunakan orangtua dalam menangani konflik antar saudara kandung (Perozynski dan Kramer,1999; Howe, Aquan-Assee, dan Bukowski, 2001; Siddiqui, 2002)

Strategi yang digunakan orangtua dalam menangani konflik antar saudara kandung akan berpengaruh pada perkembangan anak-anak. Proses manajemen konflik yang dilakukan para orangtua, menurut Dunn dan Slomkowski (Sillars dkk, 2002) mengajarkan kepada anak-anak berbagai macam peran dan perilaku sesuai peran yang mereka miliki, belajar memperhatikan perasaan dan pikiran orang lain, belajar mengendalikan ekspresi pikiran dan emosi, dan belajar mengadopsi strategi-strategi untuk mencapai tujuan-tujuan yang berharga.

Perozynski dan Kramer (1999) menyatakan bahwa strategi manajemen konflik dalam interaksi saudara kandung berbeda dengan gaya-gaya pendisiplinan orangtua, meskipun bisa digambarkan sebagai sesuatu yang paralel. Pertama, konteks strategi manajemen konflik dan gaya-gaya pendisiplinan tidaklah sama. Strategi manajemen konflik dikaji dalam konteks orangtua-saudara kandung, sementara gaya pendisiplinan orangtua dikaji dalam konteks hubungan orangtua-anak

Kedua, tujuan orangtua dalam menampilkan strategi manajemen konflik dan gaya-gaya pendisiplinan adalah berbeda. Ada perbedaan tujuan ketika orangtua sama-sama menampilkan strategi penalaran (reasoning). Tujuan para orangtua memakai strategi penalaran dalam kontek saudara kandung adalah membuat anak-anak mereka saling berkomunikasi satu sama lain tentang posisi masing-masing dan usaha-usaha mereka untuk memecahkan masalah. Sementara itu, strategi penalaran dalam konteks hubungan orangtua-anak bertujuan membuat anak-anak berkomunikasi dengan orangtuanya tentang perilaku mereka.

Published in:Parenting |on September 6th, 2008 |7 Comments »

You can leave a response, or trackback from your own site.

7 Responses to “Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Antar Saudara Kandung”

  1. Harold Says:

    ....

    ñïñ çà èíôó....

  2. donald Says:

    ....

    tnx!!...

  3. Ryan Says:

    ....

    thanks!...

  4. timothy Says:

    ....

    сэнкс за инфу!...

  5. lewis Says:

    ....

    спс за инфу....

  6. Jimmie Says:

    ....

    thanks for information....

  7. steven Says:

    ....

    tnx....

Leave a Reply

*