Perkembangan Konflik Antar Saudara Kandung

Perkembangan Konflik Antar Saudara Kandung

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Berndt (1997) dan Vandel dan Bailey (Shantz dan Hartup, 1995) mencatat adanya pola-pola normatif konflik antar saudara kandung menurut tahapan perkembangan. Konflik antar saudara kandung menunjukkan sebab, bentuk, dan frekuensi yang berbeda-beda untuk setiap tahapan perkembangan. Sheehan (1996), misalnya, mencatat konflik antar saudara kandung menunjukkan peningkatan pada masa anak-anak tengah sampai masa remaja, dengan ciri-ciri frekuensi konflik verbal meningkat dan konflik yang melibatkan kekerasan fisik menurun.

Pada tahun-tahun pertama kehidupan, konflik antar saudara kandung disebabkan oleh kebutuhan anak-anak akan perhatian yang sama dari orangtuanya. Adanya konflik ini sering diperlihatkan oleh anak-anak yang lebih tua, berwujud meningkatnya masalah perilaku yang berkaitan dengan tidur, makan, dan temper tantrum. Menginjak usia satu tahun, karena bayi menjadi lebih mampu melakukan manipulasi barang-barang dan bergerak mengelilingi rumah, bayi yang masih muda ini sering dipersepsi saudaranya yang lebih tua menjadi lebih sering melakukan penentangan secara langsung. Pada rentang usia satu sampai dua tahun, konflik antar saudara kandung menunjukkan peningkatan karena anak yang lebih muda lebih asertif terhadap saudara kandungnya yang lebih tua dan mulai menunjukkan penolakan terhadap usaha saudara tuanya untuk mengendalikan sumber daya yang ada.

Saat anak-anak berumur dua sampai tiga tahun, konflik antar saudara kandung muncul karena perebutan kontrol atas sumber daya yang ada di rumah. Konflik antar saudara kandung pada tahapan ini terfokus pada isu keadilan dan ekualitas distribusi barang-barang yang ada. Rebutan mainan dan barang menunjukkan frekuensi yang meningkat. Pola konflik yang khas terjadi adalah anak-anak yang lebih tua mencoba untuk mengambil mainan dari saudaranya yang lebih muda, dan akhirnya menyerah pada tuntutan saudaranya yang lebih tua. Pada tahapan ini juga, sehubungan dengan perkembangan emosi yang terjadi, konflik yang terjadi lebih bersifat verbal dan potensi konflik menjadi konstruktif menunjukkan peningkatan.

Pada masa prasekolah, konflik antar saudara kandung disebabkan perebutan atas properti, hak, dan kepemilikan. Konflik terfokus pada gangguan sosial, ruang pribadi, dan aturan keluarga. Pada masa sekolah, frekuensi konflik antar saudara kandung menunjukkan penurunan. Konflik yang terjadi lebih banyak yang bersifat verbal, dan penyelesaian konflik lebih sering memakai cara menarik diri atau mengabaikan satu sama lain.

Pada masa remaja, konflik antar saudara kandung dipicu oleh isu kontrol atas televisi, telepon, perilaku, dan kepemilikan pribadi. Konflik yang terjadi melibatkan pemaksaan, berlangsung singkat, intensitas afeksi negatif tinggi, dan kompromi rendah. Pada tahap remaja akhir, konflik antar saudara kandung menjadi jarang terjadi.

Published in:Parenting |on September 6th, 2008 |3 Comments »

You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Perkembangan Konflik Antar Saudara Kandung”

  1. wadi Says:

    berapa ya persentase kasus pembunuhan antar saudara kandung di Sul-sel sampe pada tahun 2009 ?

  2. wadi Says:

    Berapa ya persentase kasus pembunuhan antar saudara kandung di Sul-sel sampe pada tahun 2009 ?
    Penting bangt nih, buat skripsi.....

  3. troy Says:

    ....

    ñýíêñ çà èíôó!!...

Leave a Reply

*