Memahami Dinamika Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Saudara Kandung

Memahami Dinamika Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Saudara Kandung

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Belsky (Luster dan Okagi,1993) berpendapat bahwa perilaku orangtua ditentukan oleh banyak faktor dan faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori besar, yaitu (1) kepribadian dan kesejateraan psikologis orangtua, (2) kontekstual sumber-sumber stress dan dukungan, dan (3) karakteristik-karakteristik anak-anak.

Mengacu pada model yang dikemukakan Cowan dkk (Sigel dan Renninger, 1998) yang memakai perspektif keluarga sebagai sebuah sistem, penulis berpendapat bahwa pemilihan orangtua atas strategi-strategi manajemen konflik tertentu dipengaruhi oleh (1) karakteristik biologis dan psikologis setiap orangtua dalam keluarga, (2) kualitas hubungan dalam keluarga asal orangtua dan dalam hubungan sekarang di antara para kakek nenek, para orangtua, dan para cucu, (3) kualitas hubungan antara orangtua, dengan penekanan khusus tentang pembagian peran, pola-pola komunikasi, dan peran mereka sebagai orangtua bersama terhadap anak-anaknya, (4) kualitas hubungan antara para saudara kandung, (5) kualitas hubungan antara anggota-anggota keluarga inti dan individu-individu atau institusi-institusi kunci di luar keluarga (teman-teman, kelompok sebaya, tempat-tempat kerja, tempat-tempat penitipan anak, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok etnik, negara) sebagai sumber stress, dukungan, model-model, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan, dan (6) kualitas hubungan antar setiap orangtua dan anak-anak

Strategi manajemen konflik yang digunakan para orangtua dipengaruhi karakteristik perkembangan anak. Perozynski dan Kramer ( 1999) menemukan bahwa para orangtua melihat strategi berpusat pada anak lebih efektif dalam mengatasi konflik saudara kandung pada anak-anak yang lebih tua karena mereka lebih mudah diajak dalam suatu diskusi yang lebih komplek, penalaran, pengambilan perspektif, dan negosiasi.

Jenis kelamin anak juga mempengaruhi strategi manajem konflik apa yang akan digunakan orangtua dalam menangani konflik saudara kandung. Minet, Vandell, dan Santrock (Santrock, 1999) menemukan bahwa perilaku agresif dan dominasi lebih sering terjadi pada hubungan antar saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama dibandingkan hubungan antar saudara kandung dengan jenis kelamin yang berbeda. Grusec dan Goodnow (1994) menemukan bahwa orangtua kemungkinan besar memakai strategi penalaran induktif pada anak wanita dan strategi pemakaian kekuasaan pada anak laki-laki.

Usia dan perbedaan usia antar saudara kandung juga mempengaruhi strategi manajemen konflik yang dipilih orangtua dalam menangani konflik antar saudara kandung. Brody dan Schaffer (Perozynski dan Kramer,1999) mendapati bahwa para orangtua lebih sering memakai strategi penalaran pada anak-anak yang berusia 7 tahun dan di atasnya karena strategi ini berhubungan dengan perkembangan moralnya. Perozynski dan Kramer (1999) juga mendapati bahwa ayah relatif lebih sering memakai strategi berpusat pada anak pada anak yang pertama dan ketika jarak usia antar saudara kandung berdekatan.

Jenis konflik antar saudara kandung juga menentukan strategi manajemen konflik apa yang akan dipilih orangtua dalam menangani konflik yang terjadi. Perozynski dan Kramer (1999) menemukan para ibu meyakini bahwa strategi berpusat pada anak lebih efektif daripada strategi kontrol orangtua dalam menangani konflik verbal. Ayah dan ibu sama-sama merasa lebih efektif menampilkan strategi kontrol orangtua daripada strategi berpusat pada anak dan strategi pasif non intervensi dalam menangani konflik fisik saudara kandung.

Keyakinan orangtua, menurut Rubin, Bukowski, dan Parker (Damon & Eisenberg, 1998) mempengaruhi perilaku orangtua. Para orangtua dari anak-anak yang agresif dan menarik diri ditemukan berbeda dibandingkan dengan orangtua dari anak-anak kebanyakan dalam cara-cara mereka memikirkan bagaimana mensosialisasikan keterampilan sosial pada anak-anaknya dan dalam cara-cara mereka melaporkan reaksi terhadap perilaku-perilaku maladaptif anaknya. Miller (1988) mencatat ada hubungan antara keyakinan para orangtua dengan perilaku mereka terhadap anak-anaknya. Kapan berbagai macam aktivitas pengasuhan dimulai, jenis-jenis stimulasi apa yang harus diberikan, dan bagaimana anak-anak yang berbeda diperlakukan secara berbeda.

Perozynski dan Kramer (1999) menemukan keyakinan orangtua atas kemampuan dirinya untuk menampilkan suatu strategi manajemen konflik dan keyakinan orangtua atas efektivitas suatu strategi manajemen konflik mempengaruhi dipilih tidaknya strategi tersebut oleh orangtua ketika menangani konflik saudara kandung. Orangtua memakai strategi manajemen konflik berpusat pada anak ketika orangtua menilai strategi ini efektif dan orangtua percaya bahwa dirinya mampu untuk menampilkan strategi tersebut.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa budaya mempengaruhi keyakinan pengasuhan anak bagi anggota masyarakatnya, keyakinan dan praktek-praktek orangtua yang bersifat normatif untuk kelompok kultural tertentu. Jose dkk (2000) menemukan para orangtua beretnis Cina yang tinggal di Taiwan dan tinggal di Amerika menunjukkan aspek kontrol dan direktif yang tinggi terhadap anak-anaknya daripada orangtua beretnis Amerika yang menonjolkan aspek kehangatan pada anak-anaknya. Bornstein dan Cote (2001) juga menemukan bahwa budaya asli tetap mempengaruhi perilaku para ibu dalam pengasuhan anak-anaknya meskipun mereka sudah mengalami akulturasi budaya.

Sejumlah penelitian memperlihatkan adanya pengaruh gender orangtua dalam strategi manajemen konflik yang diterapkan orangtua ketika menangani konflik sibling. Vuhinich dkk (1988) menemukan bahwa para ayah cenderung untuk mengadopsi gaya otoriter ketika melakukan intervensi dalam konflik antar saudara kandung, sedangkan para ibu menggunakan pendekatan mediasional. Perozynski dan Kramer (1999) menemukan para ibu lebih meyakini strategi manajemen konflik berpusat pada anak lebih efektif daripada strategi manajemen konflik kontrol orangtua dalam mengatasi konflik antar saudara kandung. Sebaliknya, para ayah menunjukkan konfidensi yang lebih tinggi dalam memakai strategi manajemen konflik kontrol orangtua dibandingkan strategi manajemen konflik berpusat pada anak dalam merespon konflik yang terjadi.

Hoff-Ginsberg (Bornstein, 1995) menyimpulkan bahwa dari bukti-bukti penelitian secara jelas menyatakan bahwa baik gaya pengasuhan orangtua secara umum maupun perilaku pengasuhan orangtua secara spesifik menunjukkan perbedaan menurut status sosial ekonomi. Orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi lebih rendah, menurut Kelley dkk (1993) kemungkinan lebih restriktif dan lebih keras untuk membangun batasan-batasan agar anak-anak mereka terlindung dari lingkungan yang tidak aman. Ibu-ibu yang berasal dari status sosial ekonomi rendah dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka yang lebih muda, lebih menunjukkan kontrol, restriktif, dan mencela daripada ibu-ibu yang berasal dari status sosial ekonomi lebih tinggi.

Published in:Parenting |on September 6th, 2008 |8 Comments »

You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Memahami Dinamika Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Saudara Kandung”

  1. Qinimain Zain Says:

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 4 Januari 2008, dengan judul asli: Strategi Evaluasi Milenium III – Matinya Ilmu Administrasi & Manajemen).

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja - sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta - sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).

    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  2. rocker Says:

    hai friends

  3. Edward Says:

    ....

    good!...

  4. brett Says:

    ....

    tnx for info....

  5. tony Says:

    ....

    благодарствую....

  6. Willie Says:

    ....

    спс....

  7. Jimmie Says:

    ....

    thank you!!...

  8. barry Says:

    ....

    good info!...

Leave a Reply

*