Konseptualisasi dan Riset tentang Keyakinan Orangtua

Konseptualisasi dan Riset tentang Keyakinan Orangtua

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Sejumlah riset tentang konstrak keyakinan sudah dilakukan dan seringkali label seperti persepsi, ide, atribusi, sikap, nilai, ekspektasi, dan pengetahuan orangtua digunakan secara bergantian dengan konstrak keyakinan. Hal ini terjadi, menurut McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) karena keyakinan orangtua sebagai bagian dari kognisi orang dewasa memiliki berbagai bentuk dan kajian tentang keyakinan tidak didasarkan oleh satu perspektif teoritis tunggal.

Implikasi dari hal ini, menurut McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) adalah konseptualisasi tentang keyakinan menjadi beragam dan riset empirik tentang keyakinan bisa mencakup interview singkat mengenai keyakinan orangtua tentang pentingnya pekerjaan rumah terhadap perolehan pengetahuan anak-anak, sampai dengan interview mendalam tentang hakikat anak-anak dan perkembangannya dalam domain moral, sosial, kognitif, dan kepribadian. Pengukuran pengetahuan tentang apa yang dapat dilakukan anak-anak, proses-proses perkembangan yang bertanggung jawab atas perubahan dalam perkembangan kognitif atau kompetensi sosial anak, atribusi atas kesuksesan dan kegagalan dalam tugas-tugas tertentu, peran para orangtua dalam kehidupan anak-anak, tujuan-tujuan pendidikan, cara-cara pengajaran atau pendisiplinan anak-anak yang tipikal atau yang lebih disukai, hakikat manusia secara umum dan anak secara khusus, merupakan contoh-contoh studi tentang keyakinan orangtua.

McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) mencatat setidaknya ada empat perspektif teoritis yang mengkaji apa dan bagaimana konstraks keyakinan orangtua terbentuk, serta bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku orangtua dan perkembangan anak. Berikut ini adalah uraian singkat tentang keempat perspektif yang banyak memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang konstrak keyakinan orangtua:

1.1. Perspektif Atribusional

Sejumlah peneliti yang memakai perspektif atribusional berasumsi bahwa orangtua, sebagaimana orang dewasa lainnya, secara kognitif aktif memahami dunia melalui proses atribusi. Atribusi orangtua tentang perilaku anak-anak menjadi mediator antara peristiwa-peristiwa lingkungan dengan perilaku orangtua. Para orangtua, dalam model mediasional, mengamati sejumlah peristiwa, membuat atribusi atas peristiwa tersebut, dan kemudian memberikan respon atas peristiwa tersebut. Kognisi orangtua menghubungkan stimulus dengan respon.

McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) mencatat dari penelitian yang dilakukan Parsons dkk tahun 1982, Dix dan Grusec tahun 1985, Dix dkk tahun 1986, Hess dan McDevitt tahun 1986, dan Holloway dan Machida tahun 1992 bahwa atribusi umumnya menunjukkan peran mediasional bagi kognisi orang dewasa. Perilaku-perilaku anak dinilai dan praktek pengasuhan anak tergantung pada penilaian tersebut. Terdapat variabilitas dalam atribusi kausal menurut budaya, gender anak, usia anak dan suasana hati orangtua. Atribusi diyakini mempengaruhi anak-anak karena atribusi mempengaruhi perilaku disiplin dan motivasional afektif orangtua, menguntungkan orangtua melalui proteksi harga diri dan menyediakan sejumlah koherensi dengan perilaku-perilaku lainnya.

1.2. Perspektif Pemrosesan Informasi

Kognisi orangtua dalam perspektif ini kebanyakan dikonseptualisasikan sebagai faktor mediasi yang memfilter pengalaman-pengalaman dengan anak-anak ke dalam strategi-strategi untuk praktek-praktek pengasuhan. Aspek-aspek khusus perilaku anak menjadi lebih jelas sehingga memudahkan orangtua dalam memproses informasi dan mengevaluasi anak-anak. Evaluasi-evaluasi tersebut kemudian mengarahkan respon-respon perilaku. Orangtua dalam perspektif ini dianggap prosesor informasi yang aktif.

McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) memberikan contoh kerja perspektif pemrosesan informasi ini dari penelitian Rubin dan Mills tahun 1990 dan 1992 tentang hubungan keyakinan orangtua dengan kompetensi sosial anak-anak. Para orangtua dalam perspektif ini menetapkan tujuan sosialisasi untuk anak-anaknya, mengatur strategi-strategi sosialisasi yang akan diterapkan. Strategi yang demikian disebut dengan strategi perilaku proaktif. Ketika anak-anak gagal memenuhi tujuan tersebut, maka orangtua memakai strategi perilaku reaktif.

Orangtua melakukan penilaian tentang kepribadian anak, kualitas hubungan orangtua-anak, mengapa anak pulang terlambat, strategi mana yang orangtua anggap paling efektif untuk mengatasi problem perilaku tertentu. Respon-respon afektif terhadap perilaku anak menjadi moderator bagi hubungan antara keyakinan dan strategi. Respon orangtua yang berasal dari keyakinan tersebut dipengaruhi seberapa kuat perasaan orangtua atas perilaku anak. Perilaku-perilaku anak yang dianggap lebih negatif atau sebagai masalah kemungkinan besar akan mendapat respon perilaku yang lebih cepat dan ekstrim dari orangtua.

Peran keyakinan orangtua dalam perspektif pemrosesan informasi, menurut McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) sama dengan peran yang dimainkan kognisi dalam perspektif atribusional, yaitu keyakinan menjadi mediator antara peristiwa-peristiwa eksternal seperti perilaku anak dan setting sosioekologis, dengan strategi-strategi orangtua. Karena kebanyakan perspektif atribusional memasukan sejumlah mekanisme perspektif pemrosesan informasi seperti atensi dan memori, dan kebanyakan perspektif pemrosesan informasi memasukan atribusi kausal dalam salah satu proses mental yang mengarahkan pada sebuah perilaku khusus, maka kemungkinan besar adanya tumpang tindih konstrak yang diacu para peneliti, termasuk yang mereka gambarkan sebagai keyakinan.

1.3. Perspektif Konstrak

Berbeda dengan perspektif atribusional dan perspektif pemrosesan informasi yang melihat kognisi orangtua sebagai mediator antara faktor-faktor lingkungan dan strategi-strategi yang digunakan orangtua, perspektif konstrak menganggap kognisi orangtua sebagai titik awal untuk semua pengalaman yang orangtua miliki dengan anak-anak. Keyakinan merupakan panduan untuk tindakan, telah dikonstruksikan dalam perjalanan pengalaman interaksi sepanjang hidup dengan anak-anak dan orang dewasa.

Keyakinan orangtua tentang anak-anak berasal dari pengalaman dan digunakan untuk memprediksi perilaku orang lain dan memandu perilaku sendiri. Sepanjang hidupnya setiap individu telah dan akan terus menghasilkan ide-ide tentang siapa anak-anak, bagaimana dan mengapa anak-anak berubah dan berkembang. Pada saat yang bersamaan keyakinan yang lain tentang hakikat kemanusiaan, alam semesta, Tuhan dan agama, nilai-nilai dan yang sejenis juga dikonstruksi.

Keyakinan dihasilkan dari sebuah organisasi pengalaman internal ke dalam sebuah sistem yang koheren. Para orangtua menginterpretasikan dan mentransformasikan keyakinan mereka tentang anak-anak berasal dari pengalaman yang beragam, termasuk nasihat para ahli, observasi terhadap orangtua lain, dan observasi terhadap anak-anak lain.

Pengalaman-pengalaman dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain menyediakan konfirmasi untuk sejumlah keyakinan dan tantangan untuk keyakinan lainnya. Strategi orangtua tertentu diyakini berasal dari sistem keyakinan orangtua. McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) memberikan contoh dari penelitian McGillicuddy-De Lisi tahun 1982 bahwa para orangtua yang meyakini anak seperti bejana kosong yang menunggu diisi dengan pengetahuan kemungkinan besar akan melakukan instruksi secara verbal dalam pengajaran terhadap anak-anaknya daripada mendorong anak-anaknya menemukan pengetahuannya sendiri melalui bertanya atau demonstrasi.

1.4. Perspektif Transaksional

Menurut perspektif transaksional, setiap orangtua membawa kognisi-kognisi dan perilaku-perilaku tertentu ke dalam interaksi dan pertukaran sosial dengan orang lain. Pada beberapa model, keyakinan dihasilkan melalui transaksi antara budaya/masyarakat dan individu, sedang pada model lainnya keyakinan dihasilkan melalui pertukaran sosial antar individu.

Secara umum dalam perspektif transaksional ada dua pendekatan yang digunakan untuk mengkaji keyakinan orangtua. Pertama, pendekatan yang memfokuskan pada bagaimana interaksi-interaksi dengan budaya memberikan representasi-representasi tentang anak-anak. Target utama pendekatan pertama ini adalah orangtua dan cara berpikirnya, posisi orangtua dalam masyarakat atau budaya. Kedua, pendekatan yang memfokuskan pada hubungan dan pertukaran mutualisme yang eksis antara orangtua dan anak-anak. Pada pendekatan kedua ini orangtua dan anak-anak masuk ke dalam interaksi dengan sejumlah histori yang mempengaruhi hubungan mereka dan kognisi-kognisi yang menjadi moderator interaksi mereka. Penelitian-penelitian tentang penyimpangan-penyimpangan dalam keluarga, penelantaran, bayi-bayi beresiko, praktek-praktek pengasuhan konstruktif versus praktek-praktek pengasuhan destruktif merupakan penelitian yang menggunakan perspektif transaksional.

Perspektif transaksional, menurut McGillicuddy-De Lisi dan Sigel (Bornstein, 1995) memberikan penekanan yang sangat kuat pada konteks sosial dan interaksi dalam mendeskripsikan tentang keyakinan. Perspektif transaksional memiliki kesamaan dengan perspektif konstrak dalam hal keduanya menganggap bahwa orang dewasa merupakan prosesor informasi yang aktif. Kedua perspektif ini sama-sama meyakini bahwa sebuah dinamika yang terus menerus antara kognisi-kognisi internal orangtua dan dunia luar di mana mereka berperilaku lebih respirokal daripada yang diyakini perspektif atribusional dan perspektif pemrosesan informasi. Kedua perspektif meyakini bahwa keyakinan bukan hasil dari akumulasi atau adopsi dari orang lain atau masyarakat, juga bukan dihasilkan melalui isolasi refleksi diri. Keyakinan pada setiap saat memiliki potensi untuk ditransformasikan, dikreasikan, dan direorganisasikan dengan setiap pengalaman.

Perbedaan-perbedaan dalam keempat perspektif teoritis tersebut tentang keyakinan menyebabkan adanya variabilitas tentang bagaimana keyakinan didefinisikan, domain-domain keyakinan yang diinvestigasi, tipe-tipe sampel yang dikaji, tipe asesmen yang digunakan, tipe fungsi dan efek keyakinan yang diuji, dan tempat keyakinan orangtua dalam konteks keluarga. Perbedaan-perbedaan dalam definisi, penekanan dan pendekatan teoritis penting karena mempengaruhi pemilihan isi keyakinan yang dikaji, bagaimana keyakinan berhubungan dengan kognisi lain, afeksi, dan implikasi-implikasi untuk perubahan dalam keyakinan sebagai orangtua.

Meskipun demikian, menurut McGillicuddy-DeLisi (Brody dan Sigel, 1990), konstrak keyakinan dapat dibedakan dari sikap dan atribusi. Keyakinan tidak terbatas pada suatu objek tunggal atau tidak dapat dibatasi sebagai predisposisi untuk bertindak. Keyakinan tidak menekankan pada inferensi sebab-akibat, terhadap satu kelas peristiwa atau hasil tunggal tertentu.

Menurut Sigel (Sigel dkk, 1992), konstrak keyakinan juga dapat dibedakan dari sikap dan nilai. Konstrak keyakinan dapat dibedakan dari sikap dan nilai di mana keyakinan berisi pengetahuan atau ide-ide yang diterima sebagai sebuah kebenaran. Keyakinan dipandang sebagai konstrak kognitif umum yang dipegang orangtua sebagai sesuatu yang benar. Sikap dan nilai mungkin juga mencakup komponen kognitif, tetapi hal tersebut tidak dilihat sebagai sebuah fakta atau kebenaran. Sebagai contoh, sikap juga meliputi sebuah aspek evaluatif yang menjadi bagian integral dari komponen orientasi kognitif orangtua, sebagai sebuah “sikap positif” atau “sikap negatif”. Nilai, bentuk lain dari kognisi sosial orang dewasa, lebih mengacu pada tujuan jangka panjang yang dipegang orangtua untuk anak-anaknya daripada sebagai sebuah kebenaran. Nilai tampaknya lebih dekat hubungannya dengan hasil akhir seperti apa yang dikehendaki orangtua dari anaknya. Sementara itu, keyakinan berhubungan dengan bagaimana anak beralih dari satu level menuju level lain.

Published in:Parenting |on September 6th, 2008 |10 Comments »

You can leave a response, or trackback from your own site.

10 Responses to “Konseptualisasi dan Riset tentang Keyakinan Orangtua”

  1. Billy Says:

    ....

    сэнкс за инфу!...

  2. duane Says:

    ....

    tnx....

  3. leonard Says:

    ....

    сэнкс за инфу!...

  4. Alexander Says:

    ....

    tnx for info!...

  5. Albert Says:

    ....

    спасибо за инфу!...

  6. arturo Says:

    ....

    благодарствую!...

  7. luis Says:

    ....

    good info!!...

  8. jesus Says:

    ....

    спс!!...

  9. Shannon Says:

    ....

    спс за инфу!!...

  10. jesus Says:

    ....

    благодарен!!...

Leave a Reply

*