Bentuk-bentuk Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Saudara Kandung

Bentuk-bentuk Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Saudara Kandung

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Grusec dan Goodnow (1994) mengelompokkan bentuk-bentuk strategi manajemen konflik sebagai respon orangtua terhadap konflik yang terjadi dalam interaksi saudara kandung menjadi tiga kategori, yaitu penalaran, pengungkapan kekuasaan (power assertion), dan penarikan kasih sayang (love withdrawal). Strategi penalaran melibatkan anak-anak dalam diskusi tentang mengapa perilaku mereka dikatakan tidak tepat. Sebagai contoh, dengan melihat kembali konsekuensi sebuah perilaku, anak-anak diajak berdiskusi untuk mendeskripsikan bagaimana harapan-harapan normatif telah dilanggar. Strategi pengungkapan kekuasaan mencakup pemberian hukuman fisik pada anak-anak yang terlibat dalam konflik, pemaksaan, pencabutan hak-hak istimewa yang selama ini diberikan kepada anak-anak, pemberian ancaman-ancaman kepada anak jika mereka tetap berkonflik, atau pemberian perintah-perintah tertentu kepada anak-anak untuk menghentikan konflik. Strategi penarikan kasih sayang meliputi cara-cara yang digunakan para orangtua untuk mengekspresikan secara langsung ketidaksukaan, perasaan malu, atau terhina atas konflik saudara kandung yang terjadi.

Vuhinich dkk (1988) mencatat ada lima macam bentuk strategi manajemen konflik yang biasa digunakan para orangtua ketika menghadapi konflik saudara kandung yaitu strategi kontinyuasi konflik (terlibat atau memperluas konflik), strategi otoritas (memakai kekuasaan untuk mengakhiri konflik), strategi mediasi/informasi (memberikan saran-saran, informasi), strategi distraksi (mengubah fokus pada isu-isu non konflik), dan strategi non intervensi.

Perozynski dan Kramer (1999) juga mengkategorikan tiga bentuk strategi manajemen konflik yang biasa dipakai orangtua dalam menangani konflik yang terjadi di antara anak-anaknya. Pertama, strategi berpusat pada anak yaitu perilaku-perilaku responsif orangtua yang secara langsung ditujukan untuk membantu anak-anak berkomunikasi satu sama lain tentang posisi masing-masing atas terjadinya konflik di antara mereka. Termasuk dalam strategi berpusat pada anak ini adalah negosiasi, penalaran, kompromi, dan pemecahan masalah kolaboratif. Pada strategi pemecahan masalah kolaboratif, menurut Kramer (Patten, 1999), orangtua duduk bersama anak-anak, mencoba membantu menengahi konflik, dan menemukan sebuah solusi yang diterima kedua pihak. Kedua, strategi kontrol orangtua yaitu perilaku-perilaku responsif orangtua yang secara langsung ditujukan untuk mengeliminasi konflik yang terjadi di antara saudara kandung. Termasuk dalam strategi kontrol orangtua ini adalah perilaku-perilaku orangtua yang bersifat punitif, ancaman-ancaman, pecabutan hak-hak istimewa, atau tindakan-tindakan kontrol. Ketiga, strategi pasif non intervensi yaitu perilaku-perilaku responsif orangtua yang ditandai oleh tidak adanya intervensi orangtua terhadap konflik sibling. Termasuk dalam strategi pasif non intervensi ini adalah orangtua membiarkan konflik yang terjadi, orangtua membiarkan anak-anak menyelesaikan konflik dengan cara-cara mereka sendiri.

Howe dkk (2001) mencatat tiga bentuk strategi manajemen konflik yang digunakan para orangtua dalam mengatasi konflik antar saudara kandung, yaitu strategi manajemen direktif (secara verbal dan atau fisik membatasi atau mengontrol anak-anak dari konflik yang lebih berbahaya), strategi manajemen antisipatori (melatih kemampuan anak yang lebih muda dalam mengenali perasaan-perasaan dan keinginan-keinginannya ketika berinteraksi dengan saudara kandung yang lebih tua) dan strategi manajemen interaktif (ikut terlibat secara verbal dan atau fisik bersama-sama dengan sibling dalam bermain, permainan, dan ketika mereka membaca buku-buku).

Sementara itu, Samalin & Whitney (2003) mencatat ada lima macam strategi manajemen konflik yang digunakan para orangtua ketika menghadapi konflik saudara kandung. Pertama, strategi konsekuensi, yaitu anak-anak diajari bahwa setiap tindakan, termasuk konflik antar saudara kandung, akan membawa konsekuensi tertentu. Kedua, strategi klarifikasi yaitu meminta penjelasan atas konflik yang terjadi dan menyatakan dengan jelas apa yang diharapkan dari anak-anak. Ketiga, strategi negosiasi yaitu meminta anak-anak melakukan kompromi, mengambil solusi yang disepakati bersama-sama untuk mengatasi konflik yang terjadi. Keempat, strategi distraksi yaitu mengalihkan perhatian anak-anak yang sedang berkonflik pada isu-isu yang netral-tidak menimbulkan konflik. Kelima, strategi pemberdayaan yaitu membantu anak-anak untuk memikirkan terlebih dahulu sebelum bereaksi terhadap sesuatu.

Published in:Parenting |on September 6th, 2008 |

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Bentuk-bentuk Strategi Manajemen Konflik dalam Interaksi Saudara Kandung”

  1. Daniel Says:

    Hi…

    http://www.webcamgirls4.com/...

  2. matt Says:

    perverse@baraclough.besets” rel=”nofollow”>.…

    thanks!!…

Leave a Reply