Archive for September 3rd, 2008

Seri Keterampilan Pengasuhan

RESPECTING FEELINGS

1. Amati dan dengarkan anak Anda

2. Pikirkan sebuah kata yang menggambarkan apa yang mungkin anak Anda rasakan

3. Pikirkan tentang kemungkinan mengapa anak Anda berperasaan demikian

4. Periksalah pikiran Anda kepada anak Anda

a. Gagasan Kunci

RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan membangun empati (kemampuan untuk memikirkan dan merasakan orang lain sebagaimana orang lain tersebut memikirkan dan merasakannya). Ini akan menolong orang-orang menyadari bahwa setiap orang memiliki perasaan yang berbeda—biasanya dalam sebuah rentangan yang luas. Kadang-kadang perasaan tersebut begitu kuat sehingga mereka sendiri menjadi mengalami kebingungan atau kewalahan. Biasanya ini akan sangat membantu ketika kita membicarakan emosi-emosi tersebut dengan orang lain yang mendengarkan dengan penuh penghargaan. RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan praktis untuk memberi perhatian terhadap oranglain dan mendengarkan perasaan-perasaannya.

Para orangtua dapat membantu seorang anak untuk memahami pentingnya perasaan-perasaan dengan menggunakan keterampilan ini. Menyediakan waktu untuk mendengarkan seorang anak tidak berarti bahwa Anda setuju dengan mereka. Ini mensyaratkan bahwa Anda menghargai hak anak untuk memiliki perasaan-perasaan, bahkan ketika mereka berbeda dengan perasaan yang Anda miliki. Karena terdapat sebuah hubungan antara bagaimana seorang anak merasakan dan bagaimana mereka berperilaku, adalah penting untuk mengamati interaksi mereka dengan yang lain dan bertindak menurut cara mereka sendiri.

Sejumlah orangtua memiliki kesulitan memisahkan cara mereka sendiri merasakan dari apa yang anak-anak mereka katakan kepada Anda. Tantangan dalam keterampilan ini untuk para orangtua adalah mengesampingkan perasaan-perasaan mereka sendiri dan mendengarkan secara hati-hati untuk mendengar apa yang sedang dirasakan anak. RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan “melakukan refleksi”. Pikirkan diri Anda sebagai cermin, membantu anak-anak Anda memahami diri mereka dan emosi-emosi mereka menjadi lebih jelas.

RESPECTING FEELINGS memberi anak-anak kesempatan untuk berpikir lebih cerdas. Mengajari anak-anak untuk menghargai diri mereka sendiri dan menghargai perasaan-perasaan orang lain. Ini menyadarkan pentingnya perasaan-perasan mereka, hak mereka untuk memiliki perasaan tersebut, dan nilai-nilai mereka sebagai mahluk hidup. Para orangtua juga menemukan keterampilan ini membantu mereka menjadi lebih nyaman dan bertanggung jawab atas emosi-emosi mereka sendiri.

b. Tahapan-tahapan

1. Amati dan dengarkan anak Anda

Berikan perhatian terhadap anak-anak, tindakan-tindakannya, kata-kata dan bahasa tubuhnya. Amati wajah anak dan dengarkan suara dari bahasa tersebut. Tindakan-tindakannya mungkin mengatakan kepada Anda lebih banyak daripada kata-kata tentang bagaimana anak Anda merasakan sesuatu. Temukan petunjuk-petunjuk yang mengatakan kepada Anda apa yang sedang dirasakannya. Jika anak Anda meminta maaf untuk tidak pergi sekolah, mengalami sakit perut di pagi hari, atau tidak ingin menceritakan tentang sekolahnya tetapi mengeluh mengenai gurunya, sesuatu yang salah telah terjadi.

2. Pikirkan sebuah kata yang menggambarkan apa yang mungkin anak Anda rasakan

Seorang anak yang berkata, “Saya tidak akan pernah pergi kembali ke sekolah” mungkin merasa marah, takut, atau dipermalukan. RESPECTING FEELINGS adalah belajar memberi nama perasaan-perasaan yang dialami, mengenali emosi-emosi (malu, tidak bahagia, atau kesepian) yang tersembunyi dibalik kemarahan atau frustasi. Seorang anak yang merasa putus asa atau ketakutan kemungkinan menganggu anak-anak yang lain, sementara anak-anak lainnya yang juga putus asa atau ketakutan mungkin berperilaku malu dan pendiam.

3. Pikirkan tentang kemungkinan mengapa anak Anda berperasaan demikian

Menemukan mengapa anak-anak memiliki perasaan-perasaan tertentu menuntut kerja penyelidikan. Ikuti firasat-firasat Anda. Pikirkan bagaimana Anda akan merasakan jika para guru tampaknya memilih Anda. Pikirkan bagaimana perasaan Anda ketika sesuatu yang sejenis terjadi pada Anda. Pikirkan cara-cara anak Anda mengatasi situasi yang sejenis. Cobalah untuk mengingat kembali bagaimana rasanya ketika seusia anak Anda. Setiap usia memiliki tantangan-tantangan khusus dan setiap anak berhubungan dengan pertumbuhan yang sedang dijalani dalam cara-cara khusus miliki mereka sendiri.

4. Cek apa yang Anda pikirkan bersama-sama anak Anda

Anda dapat menggunakan kata-kata untuk menunjukkan bahwa Anda memahinya (“Saya paham betapa marahnya kamu saat ini”) atau mendapatkan persetujuan (“Kedengarannya kamu benar-benar kecewa karena kamu ingin Billy datang ke rumah setelah pulang sekolah. Benarkah demikian?). Jangan berharap bahwa setiap tebakan perasaan yang Anda lakukan benar setiap saat. Kadang-kadang seorang anak akan begitu kecewa dimana tidak ada satupun yang Anda katakan akan benar atau membantunya. Pada saat-saat seperti itu yang dibutuhkan adalah berada di sisinya untuk mendengarkan. Duduk bersama anak atau memberinya pelukan atau menepuk punggungnya mengkomunikasikan bahwa Anda sangat memperhatikan mereka. Dukungan sunyi seperti ini merupakan sebuah tahapan penting dalam proses-proses membangun sebuah hubungan, memahami sebuah permasalahan, atau menemukan apa yang perlu dilakukan di masa mendatang.

RESPECTING FEELINGS tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah keterampilan memecahkan masalah. Memberikan anak-anak kesempatan untuk mengatakan emosi-emosi kuat yang mereka rasakan memberinya udara segar sebelum mereka membuat sebuah perencanaan untuk menangani emosi-emosi tersebut.

c. Outcomes

· Anak-anak menerima dan memahami perasaan yang mereka miliki

· Para orangtua memahami dan menerima bahwa anak-anak memiliki rentang variasi perasaan yang besar

· Para orangtua memperlihatkan bahwa mereka menghormati perasaan-perasaan anak mereka.

Ringkasan

RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan yang Anda gunakan ketika Anda mengamati anak Anda mengalami emosi-emosi yang kuat.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |1 Comment »

Seri Keterampilan Pengasuhan

SELF CONTROL

1. berikan perhatian terhadap pesan-pesan tubuh yang mengatakan bahwa Anda kehilangan kendali

2. pikirkan cara-cara untuk mengendalikan diri Anda sendiri

3. pilihlah sebuah cara dan dapatkan kendali atas diri Anda sendiri

4. putuskan bagaimana bertindak terhadap anak Anda

a. Gagasan-gagasan Kunci

Ketika para orangtua secara efektif menangani emosi-emosi mereka sendiri, mereka mengajarkan anak-anak mereka sendiri untuk melakukan hal yang sama. Cara-cara para orangtua dalam mengatasi dirinya ketika dihadapkan dalam situasi-situasi penuh dengan permasalahan memberikan model terhadap anak-anak tentang cara-cara berperilaku ketika marah atau kecewa. Kontrol Diri merupakan sesuatu yang semua orangtua membutuhkannya. Kontrol Diri merupakan sebuah keterampilan yang membantu para orangtua menghindarkan diri dari tindakan yang menyakiti anak-anak mereka. Dengan mendapatkan kontrol diri sebelum memutuskan bagaimana bertindak kepada anak-anak mereka, para orangtua dapat berinteraksi dengan anak-anak mereka dalam cara-cara bermanfaat, bahkan selama saat-saat yang penuh tekanan.

Seseorang kemungkinan besar kehilangan kontrol diri jika kehidupannya penuh dengan tekanan. Permasalahan-permasalahan keluarga, lingkungan komunitas yang tidak sehat, kemiskinan, dan kesehatan yang buruk merupakan contoh-contoh permasalahan yang memberikan kontribusi terhadap munculnya stress. Perilaku menyimpang anak sangat mungkin menjadi faktor yang menyebabkan orangtua kehilangan kontrol diri. Orang-orang menyerah atas kemampuan mereka untuk berlatih kontrol diri ketika mereka menggunakan alkohol atau obat-obatan. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan merupakan permasalahan yang harus dicermati secara langsung, terpisah dari keterampilan pengasuhan. Sesorang yang menyalahgunakan alkohol atau obat-obatan tidak akan mampu untuk menggunakan KONTROL DIRI atau keterampilan pengasuhan lainnya secara efektif.

Penggunaan KONTROL DIRI akan membantu para orangtua berpikir sebelum bertindak secara berlebihan. Karena para orang dewasa menjadi lebih mampu mengenali tanda-tanda awal frustasi, mereka mulai memperlambat respon pertama mereka dan memikirkan alternatif-alternatif untuk tidak membatasi perilaku ketika sedang merencanakan sebuah respon yang lebih rasional. Keterampilan KONTROL DIRI ditujukan untuk membantu para orangtua memahami pengaruh emosi yang dirasakan terhadap tubuh dan menjadi lebih menyadari tanda-tanda pribadi mereka saat meningkatnya tekanan emosi. Marah merupakan sebuah emosi dasar yang setiap orang dapat memahaminya. Orang-orang dapat mempelajari bagaimana bertindak ketika marah tanpa menyakiti diri mereka sendiri atau orang lain. Kemarahan yang tidak terkendali tidak dapat digunakan sebagai sebuah justifikasi (pembenaran) untuk menyalahkan orang lain atau untuk mengatakan atau untuk melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain. Kemarahan memiliki banyak tujuan; salah satunya untuk mempromosikan tindakan. Kemarahan yang mendorong tindakan destruktif tidak pernah dapat dibenarkan; kemarahan atau frustasi yang menghasilkan sebuah sikap baru, tindakan baru, atau paradigma baru merupakan suatu pencapaian yang berharga. Menerima perasaan-perasaan yang dialami sebagai suatu yang alamiah dan manusia adalah penting. Menerima tanggung jawab atas tindakan kita adalah penting.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan

1. Berikan perhatian terhadap pesan-pesan tubuh yang mengatakan bahwa Anda kehilangan kendali

Emosi-emosi yang kuat mengubah kimiawi tubuh. Tubuh dapat menjadi seperti vulkano di mana tekanan terbangun dan kemudian meledak. Tanpa kontrol diri sebuah ledakan mungkin terjadi sebelum Anda mengetahuinya. Ketika seseorang mengatakan, “ Saya tahun saya telah kehilangan kontrol diri ketika kepalan tangan saya memukul dinding!”, kita dapat membantu dia mengenali tanda-tanda yang mengawali perilaku yang meledak-ledak. Para orangtua mungkin memperhatikan rahang mereka mengetat atau menggertakan gigi mereka. Sejumlah orang mungkin merasa otot-otot perut kencang atau memperhatikan perubahan dalam nada bicara mereka. Sebagian lainnya mungkin meremas-remas tangannya atau mengepalkan tangannya.

Situasi-situasi tertentu memang menekan—seseorang berteriak pada Anda, anak-anak Anda tidak mau bekerjasama untuk belajar di malam hari, atau terlambat untuk sebuah perjanjian. Waktu-waktu sulit seperti ini mungkin memicu tanggapan kemarahan. Setiap orang memiliki sinyal-sinyal pribadi. Adalah penting untuk mempelajari yang dimiliki sendiri dan memberikan perhatian terhadapnya. Semakin baik Anda dapat mengenali pesan-pesan tubuh lebih dini, semakin mudah untuk menanggapi secara efektif dalam situasi-situasi yang sulit tersebut.

2. Pikirkan cara-cara untuk mengendalikan diri Anda sendiri

Ketika pesan-pesan tubuh Anda mengirimkan sebuah peringatan, milikilah sebuah perencanaan yang membantu Anda menenangkan diri dan mendapatkan kembali kontrol diri. Perecanaan kedepan dapat mengurangi perasaan-perasaan terjebak dan memperkecil perasaan-perasaan frustasi atau tidak berdaya.

Gagasan-gasan kontrol diri terbagi ke dalam dua kategori—cara-cara untuk mengontrol diri Anda sendiri tanpa meninggalkan situasi dan cara-cara untuk mengendalikan diri dimana Anda dapat meninggalkannya. Sebagai contoh, ketika Anda tidak dapat menghindarinya, Anda dapat menghitung sampai sepuluh, mengambil nafas dalam-dalam beberapa saat, bicara pada diri sendiri, dan ingatkan diri Anda sendiri bahwa Anda OK. Ketika Anda dapat meninggalkannya, Anda mungkin memilih untuk membicarakan permasalahan dengan teman yang dipercaya, menemukan sebuah tempat tenang, mendengarkan musik, atau pergi jalan-jalan.

3. Pilihlah sebuah cara dan dapatkan kendali atas diri Anda sendiri

Situasi yang berbeda menuntut pilihan yang berbeda. Hal penting dalam tahapan ini adalah ambilah waktu untuk memilih dan jangan bereaksi sebelum berpikir. Hal ini mungkin menuntut kita mengambil waktu beberapa saat untuk menenangkan diri. Anda mungkin memutuskan untuk beristirahat dan mengatakan, “ Saya terlalu kecewa untuk menangani ini saat sekarang. Saya akan kembali ketika saya merasa tenang.” Ketika Anda tenang, kembalilah dan mulai tahapan keempat.

4. Putuskan bagaimana bertindak terhadap anak Anda

Sekali Anda siap, Anda dapat memikirkan tentang keterampilan-keterampilan lain yang telah Anda pelajari dan bagaimana mereka dapat diaplikasikan (diterapkan) terhadap situasi tersebut. Sebagai contoh, Anda mungkin menggunakan CHOICES, membicarakan permasalahan, memikirkan tentang mengapa Anda kecewa atau apa yang ingin Anda lihat terjadi atau mendengarkan anak Anda menjelaskan gagasan-gagasannya. Proses-proses ini kemungkinan membantu mengatasi sebuah situasi yang tampaknya sulit diatasi dengan cara Anda sendiri atau orang lain yang menuntut kerjasama anak Anda dalam menyelesaikan masalah. Kadang-kadang mendengarkan orang lain dan memahami bagaimana mereka merasakan dapat membantu Anda memahami perilaku orang lain tersebut dan memperkecil perasaan marah.

c. Outcomes

· Anak-anak belajar dengan contoh bagaimana menangani perasaan-perasaan mereka

· Orangtua belajar untuk mengelola respon mereka terhadap emosi-emosi yang kuat

d. Ringkasan

SELF CONTROL merupakan sebuah keterampilan yang Anda gunakan ketika Anda memperhatikan pesan tubuh mengatakan bahwa Anda kemungkinan dapat kehilangan kontrol diri.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |No Comments »

Seri Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan CHOICES

  1. bantulah anak Anda memahami permasalahan
  2. anak Anda dan Anda memikirkan dua atau lebih pilihan-pilihan yang masuk akal
  3. mintalah anak Anda untuk memilih dan mengatakannya kepada Anda pilihannya
  4. bantulah anak Anda mengikuti pilihannya

a. Gagasan Kunci

Keterampilan CHOICES—dibangun atas dasar keterampilan ENCOURAGEMENT dan CAN DO—ditujukan untuk mengembangkan kerjasama antara orangtua dan anak. Para orangtua diminta untuk terbuka dan mengijinkan anak-anak menjadi lebih meningkat keterlibatannya dalam menentukan resolusi (penyelesaian) atas sebuah permasalahan yang dibicarakan bersama. Ini merupakan sebuah keterampilan yang digunakan ketika anak-anak dapat membantu dalam mengambil sebuah keputusan atau perencanaan solusi (pilihan penyelesaian). Dengan memberi para orangtua sebuah cara untuk membagi tanggung jawab dengan anak-anak, CHOICES dapat mengurangi kecemasan–kecemasan orangtua tentang perasaan bahwa mereka harus mengendalikan setiap situasi. Anak-anak memperoleh kesempatan untuk belajar tanggung jawab pribadi dan membuat keputusan untuk meningkatkan kemandirian mereka.

CHOICE sangatlah berbeda dari CAN DO dan pembedaan seharusnya dibuat agar lebih jelas. Para orangtua mungkin memberi anak-anaknya alternatif CAN DO (“ Kamu dapat melakukan A atau Kamu dapat mengerjakan B. Mana yang ingin kamu lakukan?”), tetapi ini tidaklah sama dengan CHOICES di mana para orangtua dan anak-anak menemukan sebuah resolusi bersama. Keluarga bekerja bersama-sama untuk mencapai sebuah keputusan. CHOICES merupakan sebuah keterampilan negosiasi yang menghormati hak-hak baik orangtua maupun anak-anak. Kadang-kadang terasa sulit mengijinkan anak-anak memberikan suaranya dalam sebuah proses. Sejumlah orangtua mengakui hal tersebut tidak nyaman atau sulit untuk memahami betapa berharganya jika hal itu dilakukan. Pada saat lain para orangtua menganggap remeh tanggung jawab mereka dalam proses pengambilan keputusan dan membiarkan anak-anak memiliki kebebasan lebih banyak daripada kenyamanan bagi orangtua atau kepantasan untuk anak.

Ada sebuah pemahaman yang perlu digarisbawahi dalam menerapkan keterampilan ini bahwa para orangtua harus yakin suara-suara yang muncul masuk akal dan aman bagi semua pihak yang terlibat. Ini berarti menghargai kebutuhan-kebutuhan sendiri orangtua juga mengakui dan menghargai kebutuhan-kebutuhan anak. Pengasuhan merupakan sebuah tanggung jawab, tetapi dengan keterampilan ini pengambilan keputusan bersifat kolaboratif ( melibatkan pihak lain yang terkait) dan anggota-anggota keluarga memperkuat komitmen mereka untuk berbagi. Karena anggota-angota keluarga bekerja untuk menngatasi ketidaksepakatan, mereka mendapatkan penghormatan, kepercayaan, dan dukungan satu sama lain. Anak-anak mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan dengan orang lain dalam cara yang positif. Keterampilan ini merupakan salah satu fondasi (dasar) disiplin diri. Seorang anak yang belajar bagaimana membuat keputusan secara efektif telah mendapatkan keterampilan-keterampilan yang berguna dalam pengambilan keputusan sepanjang hidup.

Usia dan maturitas anak akan mempengaruhi seberapa banyak opsi (pilihan) dipertimbangkan dan mana di antaranya yang tepat. Semakin muda usia seorang anak, semakin besar diperlukan keterlibatan orangtua dalam mengarahkan proses. Terlalu banyak tanggung jawab bagi anak yang masih kecil dapat membuatnya kewalahan, menjadikan mereka berkecil hati. Meskipun demikian, anak-anak yang lebih tua membutuhkan kesempatan-kesempatan untuk meningkatkan tanggung jawabnya dan akan cenderungan untuk menolak opsi-opsi yang restriktif (bersifat membatasi). Kompleksitas (kerumitan) situasi, usia anak, dan tingkat kenyamanan orangtua kesemuanya mempengaruhi diskusi yang berlangsung.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan

1. Bantulah anak Anda memahami permasalahan

Seringkali situasi-situasi yang menyebabkan konflik (pertentangan) antar orang dilihat secara berbeda oleh mereka yang terlibat di dalamnya. Satu orang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya yang menyebabkan sebuah permasalahan bagi orang lain. Menyatakan secara jelas sebuah permasalahan adalah tahapan pertama bagi sebuah solusi. Adalah penting untuk menyatakan sebuah permasalahan menjadi spesifik, mengatakan sesuatu seperti, “Pakaian-pakaian basah akan kotor jika mereka diletakkan di lantai,” atau “Sudah terlambat, sekarang saatnya untuk berpakaian sekolah.”

Kritikan-kritikan yang bersifat global (umum) “Kamu tidak pernah berpikir sebelum bertindak” tidak mendapat tempat dalam keterampilan ini; hindarkan hal tersebut. Ambilah waktu sejenak untuk menjelaskan keprihatinan Anda, meskipun secara singkat, untuk mengkomunikasikan harapan bahwa ini adalah sebuah permaslahan yang Anda dapat pecahkan bersama-sama. Pesan penting yang Anda sampaikan kepada anak Anda adalah bahwa “kita dapat mengerjakan ini dengan penghargaan yang saling menguntungkan semua pihak.”

2. Anak Anda dan Anda memikirkan dua atau lebih pilihan-pilihan yang masuk akal

Ini merupakan sebuah tahapan curah gagasan. Mendorong proses ini dengan menanyai anak Anda, “ Menurutmu apa yang dapat kita lakukan?” dan membuat daftar yang berisi semua ide yang muncul. Dalam tahap ini semua gagasan diterima. Pada kenyataannya, sebuah gagasan gila yang mungkin memicu sebuah saran muncul dari salah satu atau Anda berdua dapat menjadi solusi terbaik. Sebelum Anda bergerak ke tahapan selanjutnya, pastikan Anda telah menemukan pilihan-pilihan yang dapat diterima oleh Anda berdua.

Sangat penting bahwa anak-anak memberikan kontribusi (sumbangan) ide-ide. Dengan melakukan hal demikian mereka mulai merasakan menjadi bagian dari sebuah perencanaan dan kemudian bagian dari solusi atas sebuah permasalahan. Seorang anak yang memberikan kontribusi ide-ide kreatif menjadi seorang pemecah masalah yang baik, seorang teman bermain yang kooperatif, dan seorang siswa yang banyak akal. Bersama-sama Anda mengambil daftar ide-ide dan menyeleksi mana-mana yang masuk akal dan dapat diterima Anda berdua. Anak-anak yang sangat muda akan terbebani dengan terlalu banyak alternatif. Mereka akan menjadi merasa nyaman dengan daftar yang lebih pendek dan pilihan-pilihan lebih kongkrit. Orangtua dan anak keduanya memiliki hak suara yang sama untuk mengatakan “Tidak”, meskipun orangtua memiliki tanggung jawab akhir untuk memastikan pilihan-pilihan yang ada adalah aman dan masuk akal.

Bersikap fleksibel (luwes) dan berpikiran terbuka juga merupakan sebuah keterampilan. Secara hati-hati pikirkan mengapa Anda mengatakan “Tidak”. Apakah itu masuk akal bagi Anda untuk membiarkan anak Anda yang berusia 16 tahun pergi ke bioskop dengan seorang teman tanpa seorang pengawal? Apakah bertanggung jawab membolehkan anak Anda berusia 8 tahun memilih pakaiannya sendiri? Jika Anda tidak dapat memutuskan paling tidak pilihan-pilihan yang dapat disepakati dan menguntungkan berdua, dapatkan ide-ide dari orang lain, mulai lagi, atau setuju untuk mencoba salah satu dalam jangka pendek sebagai sebuah percobaan. Jangan cepat berkecil hati; ini merupakan sebuah proses yang memungkinkan Anda lebih mudah nantinya daripada biasanya.

3. Mintalah anak Anda untuk memilih dan mengatakan pilihannya kepada Anda

Begitu Anda dan anak Anda telah setuju pada pilihan-pilihan yang diterima Anda berdua, seharusnya tidak menjadi permasalahan bagi Anda pilihan mana yang diikuti anak Anda. Ketika anak-anak Anda mengatakan pilihannya, mereka membuat sebuah komitmen secara verbal dan kemungkinan besar mereka akan melakukannya. Pastikan bahwa keputusan yang diambil jelas bagi Anda berdua. Anda mungkin ingin mengulang keputusan untuk meyakinkan pilihan Anda berdua.

4. Bantulah anak Anda mengikuti pilihannya

Keterampilan ini memiliki sebuah tahapan akhir yang penting. Membuat sebuah pilihan hanyalah bagian dari solusi. Tanggung jawab berarti mengerjakan apa-apa yang Anda katakan Anda akan melakukannya. “Apa yang dapat saya lakukan untuk membantumu?” kemungkinan merupakan pengingat yang baik, memberikan informasi tambahan, atau memberikan dukungan untuk membantu anak Anda melakukan pilihannya. Jika masih ada sebuah masalah, Anda mungkin memutuskan untuk memulai kembali dengan tahapan pertama CHOICES atau menggunakan keterampilan lain. Tetap tenang dan fokus (memusatkan perhatian) pada permasalahan untuk mengurangi sejumlah kemarahan, gangguan, atau frustasi yang mungkin Anda atau anak Anda rasakan.

c. Dampak

  • Anak-anak membuat keputusan dalam batasan-batasan yang masuk akal yang diberikan oleh orang dewasa
  • Para orangtua berbagi proses pengambilan keputusan dengan anak-anak mereka

d. Ringkasan

CHOICES digunakan ketika para orangtua bermaksud memberikan anak-anak mereka kesempatan membuat keputusan dalam batasan-batasan yang masuk akal.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |No Comments »

Seri Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan CAN DO

  1. perhatikan apa yang Anda tidak ingin anak Anda melakukannya
  2. pikirkan sesuatu yang anak Anda dapat melakukannya (alternatif)
  3. katakan pada anak Anda apa yang dapat dia lakukan
  4. bantulah anak Anda jika diperlukan

a. Gagasan Kunci

CAN DO mengajarkan para orangtua bagaimana mengarahkan ulang perilaku anak-anak mereka. Melalui pesan-pesan positif dan bersahabat seperti, “Cobalah ”, “Lakukan ”, “Kamu punya”, “Kemari”, para orangtua mengajari anak-anak untuk bertindak dalam cara-cara yang tepat. Mengubah dari “Jangan letakan pakaianmu di lantai” menjadi “ Ambil pakaianmu dan letakan di keranjang” memberi anak-anak informasi perilaku apa yang diharapkan untuk mereka lakukan. Anak-anak yang masih kecil akan menanggapi hal tersebut secara sama namun akan lebih baik jika orangtua sedikit arahan dengan memberi alternatif perilaku yang lebih pantas. Dengan bertambah tua usia anak, mereka melanjutkan untuk mengapresiasi apa yang dapat mereka lakukan daripada mengatakan apa yang tidak dapat mereka lakukan.

CAN DO membantu para orangtua menentukan batasan-batasan untuk perilaku anak-anak dalam cara-cara yang pantas dan konstruktif (membangun). Pemakaian kata-kata negatif yang berlebihan mengurangi efektivitas pengaruh-pengaruh orangtua terhadap anak-anaknya. “Tidak”, “Jangan”, “Hentikan”, dan “Keluar” ketika digunakan terlalu sering, ketika Anda tidak sabar atau terganggu, atau ketika anak Anda bertindak nakal, segera akan kehilangan pengaruhnya. Kata-kata yang kuat seperti ini seringkali hanya efektif untuk situasi-situasi emergensi. Temukan cara-cara untuk mengubah, “Tidak, Jangan” menjadi, “Ya, kamu dapat melakukannya”.

CAN DO memungkinkan anak-anak menjadi kreatif dan rasa ingin tahu tanpa batasan-batasan keamanan dan penghargaan yang berlebihan dari orang lain. Ini juga banyak membantu untuk menciptakan sebuah lingkungan keluarga yang lebih positif dan suportif. Anak-anak mampu untuk bekerjasama ketika mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka. Mengatakan kepada anak-anak apa yang dapat mereka lakukan daripada apa yang tidak dapat mereka lakukan mengajarkan kepada mereka alternatif cara-cara berperilaku—tahapan pertama dalam menciptakan problem solving (penyelesaian masalah). Mengatakan sesuatu sekali mungkin tidak menjamin terpenuhi. Para orangtua membutuhkan banyak kesabaran dan harus siap untuk membantu anak-anak melewatinya sementara mereka tumbuh dan belajar menjalani rutinitas baru.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan CAN DO

1. Perhatikan apa yang Anda tidak ingin anak Anda melakukannya

Ketika Anda memperhatikan anak Anda sedang mengerjakan sesuatu yang mengganggu atau menjengkelkan atau bahkan menyakiti sesuatu atau seseorang, pikirkan beberapa menit sebelum bereaksi. Putuskan perilaku apa dari anak yang ingin Anda ubah. Tentu saja, ketika seorang anak berada dalam keadaan membahayakan, orang dewasa harus segera mengambil tindakan dengan cepat.

2. Pikirkan sesuatu yang anak Anda dapat melakukannya (alternatif)

Tanyakan pada diri sendiri apa yang dapat anak Anda lakukan atau anak Anda miliki yang Anda setujui. Pikirkan hal-hal yang lebih aman atau lebih pantas daripada memikirkan kegiatan-kegiatan yang Anda ingin menghentikannya. Jika anak Anda sedang melempar sesuatu atau melompat di atas tempat tidur, adakah tempat lain di mana kegiatan-kegiatan tersebut tidak akan mengganggu Anda? Melemparkan sesuatu di dalam ruangan meningkatkan kemungkinan orang-orang terluka atau benda-benda menjadi pecah. Melompat di atas tempat tidur mengecewakan sejumlah orangtua dan dapat membahayakan jika anak terjatuh. Anak-anak dapat bermain secara aktif di luar ruangan dalam lingkungan yang aman.

Memilih kegiatan-kegiatan alternatif yang mensyaratkan perubahan minimal merupakan teknik yang kebanyakan berhasil. Anak-anak membutuhkan penyaluran emosi dan energi. Para orangtua dapat membantu anak-anak belajar bagaimana mengelola kebutuhan tersebut dalam cara-cara yang efektif dan pantas. Mengubah secara drastis dari melompat menjadi mewarnai merupakan sebuah lompatan sangat besar yang bagi sebagian besar anak akan menolaknya.

Jika sebuah situasi menyebabkan frustasi dan seringkali terjadi dalam keluarga Anda, mintalah pendapat pada teman yang mungkin Anda dapat mencobanya seperti CAN DO bersama anak Anda.

3. katakan pada anak Anda apa yang dapat dia lakukan

Menggunakan suara yang bersahabat dan lembut, katakan kepada anak Anda apa yang Anda ingin dia melakukannya. Sebuah pernyataan yang diakhiri dengan “Oke?” atau sebuah pertanyaan seperti “Maukah kamu mewarnai daripada melompat-lompat di atas tempat tidur?” tidak memberikan anak pilihan dan menciptakan kebingungan. Pernyataan-pernyataan seperti “ Melompat di atas tempat tidur tidak aman. Kamu perlu bermain di halaman,” yang diucapkan dalam cara-cara yang mantap dan menghargai akan lebih efektif.

Sejumlah anak-anak akan bekerjasama dengan mudah, akan tetapi jika anak Anda membutuhkan waktu lama untuk membuat penyesuaian, bicaralah pelan-pelan, lakukan kontak mata untuk mendapatkan perhatian anak Anda. Jelas, lembut, dan tenang.

4. Bantulah anak Anda jika diperlukan

Menindaklanjuti merupakan kunci sukses keterampilan ini. Anak-anak Anda akan bekerjasama ketika mereka melihat Anda cukup perhatian untuk membantu mereka. Ini mungkin diperlukan untuk menunjukkan kepada anak Anda apa yang Anda harapkan dan untuk memberi mereka semangat, pelatihan, atau dukungan lainnya. Kadang-kadang anak-anak menghargai keterlibatan Anda. Meskipun hal tersebut tidak mudah atau membutuhkan usaha tambahan, waktu yang Anda gunakan sekarang akan membantu anak Anda menjadi lebih mandiri di masa mendatang.

c. Dampak

· anak-anak memiliki kemampuan untuk mengubah perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima menjadi perilaku-perilaku yang dapat diterima.

· orangtua memperoleh sebuah teknik menentukan batasan yang konstruktif yang mengakui kebutuhan-kebutuhan anak mereka untuk kreatif dan mengeksplorasi dunia mereka

d. Ringkasan

CAN DO merupakan sebuah keterampilan yang Anda gunakan ketika anak-anak Anda melakukan sesuatu yang Anda tidak ingin mereka melakukannya.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |No Comments »

Seri Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan ENCOURAGEMENT

1. perhatikan sesuatu yang Anda sukai

2. perhatikan apa yang Anda rasakan

3. katakan hal tersebut (Saya merasa...bahwa kamu...)

4. perhatikan bagaimana anak Anda merespon

a. Gagasan Kunci

Orangtua adalah guru pertama dan paling bermakna bagi anak. Anak-anak belajar informasi-informasi penting tentang dirinya dari orangtua mereka. Perilaku dan keyakinan anak terhadap diri mereka sendiri sangat dipengaruhi oleh reaksi-reaksi orangtuanya. Ketika orangtua mereka percaya pada dirinya, mereka memperoleh kepercayaan diri. Anak-anak yang merasa diri mereka baik umumnya merasakan baik tentang orang lain dan mudah untuk bersama-sama mereka. Mereka tertarik dalam mempelajari keterampilan-keterampilan baru dan mampu menangani tantangan hidup dengan lebih baik.

ENCOURAGEMENT merupakan sebuah keterampilan sosialisasi yang menjadi dasar dalam menghargai diri sendiri dan orang lain. Dengan menggunakan ENCOURAGEMENT para orangtua belajar untuk mengapresiasi (menghargai) kemampuan-kemampuan anak mereka. ENCOURAGEMENT memberikan para orangtua sebuah cara untuk mengekspresikan (mengungkapkan) perasaan-perasaan positif mereka terhadap anak-anak. Juga membantu mereka mengakui usaha-usaha yang ditunjukkan oleh anak-anak mereka, meskipun ada kesalahan-kesalahan dalam perilaku atau belajar mereka. Keterampilan ini dimaksudkan untuk menjadi sebuah alat bagi orangtua mengenali kemampuan seorang anak dan menghargainya sebagai pribadi, bahwa setiap orang dicintai dan mampu.

b. Tahapan-tahapan Keterampilan ENCOURAGEMENT

1. Perhatikan sesuatu yang Anda sukai

Anak-anak mendapatkan keuntungan dengan mengetahui bahwa orangtua mereka menyetujui mereka. Ketika anak-anak mencoba melakukan sesuatu yang baru atau melakukan sesuatu untuk orang lain, para orangtua dapat menggunakan keterampilan encouragement untuk menunjukkan apresiasinya. Dalam tahapan pertama ini, para orangtua perlu melihat secara seksama anak-anak mereka dan mengamati perilakunya. Dengan mengamati anak-anak mereka dan menggunakan ENCOURAGEMENT, para orangtua menunjukkan kepada anak-anak perilaku-perilaku yang berharga. Para orangtua dapat menamai perilaku yang spesifik dengan kalimat seperti,”Dia suka membantu membereskan celana panjangnya,” Dia mencoba membantu membereskan tempat tidurnya,” Anakku berbicara dengan sopan terhadap saudara laki-laki yang masih bayi.”

Suatu saat orangtua akan perlu memikirkan secara seksama untuk memisahkan perilaku positif—membantu dari perilaku yang mengganggu, perilaku yang membuat frustasi. Sebagai contoh, ketika seorang anak mencoba membantu menyajikan hidangan minuman tetapi minumannya tumpah ke lantai, akui perasaan telah terbantu dan hargai usahanya, kemudian bereskan yang berantakan. Orangtua mungkin mengatakan, “ Saya dapat melihat betapa besar anakku ingin ikut membersihkan setelah makan malam.” Air yang tumpah dapat dikeringkan dengan spon, tetapi perasaan terluka tidak!

Waktu terbaik untuk menggunakan keterampilan ENCOURAGEMENT adalah ketika seorang anak mulai melakukan sesuatu di mana orangtua kemungkinan besar melihat yang dia kerjakan. Para orangtua sangat senang sekali ketika untuk pertamakalinya bayi mereka mulai berjalan. Berjalan membutuhkan banyak usaha dan praktek, banyak jatuh dan bangun. Menyaksikan seorang anak melangkah pertama kali menawan hati. Orangtua merasa sangat senang ketika ini terjadi.

2. Perhatikan apa yang kamu rasakan

Ambilah waktu beberapa menit untuk mengingat bagaimana perasaan Anda ketika Anda melihat anak Anda sungguh-sungguh mencoba atau membuat kemajuan atau memberikan sebuah kontribusi (peran) terhadap keluarga atau melakukan sesuatu yang dia nikmati. Ini dapat menjadi sebuah tantangan. Semua orangtua mengalami perasaan yang beragam ketika mengasuh anak-anak. Para orangtua juga mungkin mengalami kesulitan memisahkan perasaan-perasaan menyenangkan atau memuaskan dari perasaan-perasaan frustasi atau kecemasan. Ambilah waktu beberapa menit untuk memikirkan apa yang sedang Anda rasakan dan menemukan sebuah cara yang positif untuk mengatakan kepada anak apa-apa yang Anda lihat. “Saya suka melihatmu...,” “Saya merasa bangga, bahagia, senang, terhibur ketika....” Sebuah perbendaharaan kata-kata yang banyak dalam mengekspresikan perasaan yang sedang dialami akan membantu Anda bergerak dari hanya “ Saya merasa baik” dan “ Saya merasa buruk”, juga membantu anak-anak mengidentifikasikan (mengenali) perasaan-perasaan mereka sendiri terkait dengan usaha, pencapaian, dan kesuksesan.

3. Katakan (Saya merasa...bahwa kamu...)

Ketika kita mengatakan kepada anak-anak bahwa kita memperhatikan sesuatu yang baik dari yang mereka lakukan, mereka belajar untuk menghargai perilaku terbaik dari diri mereka sendiri. Anak-anak yang merasa nyaman dengan dirinya dan merasa didukung memiliki harga diri yang tinggi. Mudah bagi para orangtua untuk mengakui kebaikan dari perilaku anak dan kehilangan kesempatan untuk mengajari mereka menghargai kualitas-kualitas dan bakat-bakat spesifik mereka. Gambarkan apa yang Anda lihat dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi perasaan Anda. Sebagai contoh,” Saya suka menyaksikanmu belajar ayunan,” “Menakjubkan melihatmu berlatih lompat tali”, “Saya senang melihat begitu menikmatinya ketika menggambar.”

4. Perhatikan bagaimana anak Anda menanggapi

Satu bagian penting dari tahapan ini adalah bahwa para orangtua menaruh perhatian terhadap reaksi anak-anak mereka. Sejumlah anak mungkin memperlihatkan rasa ingin tahu, sebagian lain menjaga diri, sebagian lagi curiga. Kebanyakan anak akan merasa gembira dan senang bahwa orangtua mereka sedang menaruh perhatian kepada mereka dan memiliki waktu untuk mengatakan sesuatu.

c. Dampak

  • Anak-anak belajar untuk menilai siapa dirinya dan apa yang mereka lakukan.
  • Orangtua juga menemukan dan menilai kekuatan-kekuatan anak-anaknya yang sedang berkembang


d. Ringkasan

Apapun perilaku yang ditampilkan anak, kata-kata pendorong dari orangtua membantu seorang anak merasa dirinya baik atas sesuatu yang telah dia kerjakan. Dengan menaruh perhatian dalam cara-cara yang positif, orangtua mengajarkan seorang anak untuk merasa dihargai

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |5 Comments »

Keterampilan Pengasuhan

Keterampilan Pengasuhan

by

Irwan Nuryana Kurniawan

Berbagai hasil penelitian menyimpulkan bahwa salah satu penyebab utama mengapa para orangtua, guru, dan orang dewasa lainya mudah mengalami stress ketika melakukan sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak, menanggapi dan memperlakukan anak-anak secara tidak tepat adalah kurangnya pengetahuan mereka tentang perkembangan anak dan kurangnya keterampilan-keterampilan pengasuhan. Terbatasnya pengetahuan-pengetahuan yang relevan tentang perkembangan anak mengakibatkan mereka memiliki dan mengembangkan harapan-harapan yang tidak realistik terhadap anak-anak/murid-murid dan ini selanjutnya menjadikan mereka rentan mengalami permasalahan (kecewa, tertekan, kebingungan, dll) terkait dengan anak-anak. Ketika pilihan-pilihan yang mereka milik terbatas dan keterampilan-keterampilan pengasuhan yang mereka miliki sangat minim, sangat dapat dipahami mengapa mereka dengan gampang melakukan perlakuan yang tidak tepat terhadap permasalahan yang muncul terkait anak-anak/murid-murid.

Mengingat pentingya pengetahuan tentang perkembangan anak dan keterampilan-keterampilan pengasuhan, maka penulis mencoba mengekplorasi lebih jauh tentang keterampilan-keterampilan pengasuhan yang perlu kita miliki sebagai orangtua, guru maupun orang dewasa yang kerap berinteraksi dan berhubungan dengan anak-anak.

Hal yang perlu kita sadari adalah bahwa kita sebagai orangtua/guru/orang dewasa dan anak-anak berada dalam team yang sama dan bahwa sebuah hubungan kooperatif (kerjasama) dan penuh perhatian merupakan dasar dari sebuah keluarga yang kokoh, dan merupakan cara terbaik bagi para orangtua untuk mengarahkan perilaku anak-anak mereka. Menyediakan anak-anak ekspektasi-ekspektasi (harapan-harapan) yang jelas dan batasan-batasan yang masuk akal memberi mereka rasa aman yang memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang dalam cara-cara yang sehat. Pengasuhan merupakan sebuah proses. Orangtua berubah dan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Adalah penting untuk diingat bahwa perubahan bersifat gradual. Bagi para orangtua mempelajari cara-cara baru yang bisa jadi menakutkan, sulit, dan bahkan membingungkan. Para orangtua mempengaruhi perilaku anak-anak mereka dan anak-anak mempengaruhi perilaku orangtua. Tulisan ini mudah-mudahan dapat membantu para orangtua/guru/orang dewasa lainnya dalam mengubah perilaku anak-anak mereka dengan cara bagaimana mengubah perilaku mereka sendiri.

John Bailey, Susan Perkins, dan Sandra Wilkins dalam publikasi mereka yang berjudul PARENTING SKILLS W O R K S H O P S E R I E S: A Manual for Parent Educators (Media Services, Cornell University, 1995) menyatakan keterampilan-keterampilan pengasuhan dasar yang perlu ditumbuhkembangkan oleh para orangtua adalah sebagai berikut. Pertama, keterampilan ENCOURAGEMENT, yaitu mengembangkan harga diri anak dan membangun kepercayaan di antara orangtua dan anak-anak. ENCOURAGEMENT menekankan pentingnya kita mengatakan sesuatu yang positif kepada anak-anak ketika kita melihat anak-anak sedang melakukan sesuatu yang disukai. Dua keterampilan berikutnya, CAN DO dan CHOICES, merupakan keterampilan bimbingan yang dapat dipelajari menggunakan 4 tahapan yang jelas. Keterampilan CAN DO mengajarkan para orangtua untuk mengajari anak-anak mengembangkan perilaku-perilaku yang dapat diterima. Keterampilan CHOICES mendorong para orangtua dan anak bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Keterampilan SELF CONTROL merupakan sebuah keterampilan manajemen amarah untuk orang dewasa, dan keterampilan RESPECTING FEELINGS merupakan sebuah keterampilan membangun empati.

Published in:Parenting |on September 3rd, 2008 |1 Comment »