Archive for September 2nd, 2008

Stop Pacaran: Sebuah Perspektif Psikologis

Stop Pacaran: Sebuah Perspektif Psikologis

By

Irwan Nuryana Kurniawan

Kebanyakan anak-anak muda meyakini dan telah menjadikan pacaran sebagai metode utama—bahkan satu-satunya metode—di dalam menemukan calon pasangan untuk berlanjut ke jenjang pernikahan. Mereka menduga bahwa pacaran akan memberikan mereka kesempatan yang baik untuk mengenal dengan lebih baik kebiasaan-kebiasaan dan karakter-karakter satu sama lain sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Mereka meyakini bahwa pengalaman pacaran yang mereka peroleh akan membantu mereka melakukan penyesuaian pernikahan dengan baik dan pada akhirnya kepuasaan pernikahan mereka akan lebih mudah diraih. Mereka berhipotesis ada hubungan sangat kuat antara pacaran dan kepuasan pernikahan.

Jika hipotesis ini benar, mengapa begitu banyak perceraian dan pernikahan yang tidak bahagia di masyarakat kita? Bahkan sebuah laporan penelitian menginformasikan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik untuk tingkat perceraian.

Temuan-temuan riset secara konsisten menunjukkan bahwa pacaran bukan prediktor yang signifikan bagi sebuah pernikahan yang bahagia. Sebagai contoh, National Marriage Project (2000) menyimpulkan bahwa kohabitasi—satu bentuk pacaran dimana mereka hidup bersama sebelum menikah—memiliki pengaruh negative terhadap masa depan pernikahan. Penjelasannya adalah bahwa dasar pernikahan adalah komitmen etik yang kuat—dalam Islam dikenal sebagai mitsqan ghalizhan- غَلِيظًا مِيثَاقًا –-sementara hubungan kohabitasi jatuh dalam komitmen jangka pendek. Pasangan kohabitasi lebih banyak berorientasi pada kebutuhan otonomi diri sendiri dan kemungkinan besar akan mengakhiri hubungan mereka jika hubungan tersebut sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Semakin lama pasangan ini hidup bersama, semakin besar kemungkinan mereka untuk memiliki sikap komitmen yang rendah. Karenanya sangat mudah diprediksikan bahwa sekali komitmen rendah ini terbentuk dan pola hubungan otonomi tinggi diadopsi, menjadi sangat sulit bagi mereka untuk berubah.

Dalam sebuah ulasan kohabitasi yang komprehensif, David Popenoe and Barbara Whitehead (1999) menyimpulkan bahwa kohabitasi merusak pernikahan dan meningkatkan probabilitas terjadinya perceraian. Hidup bersama meningkatkan resiko kekerasan domestik pada wanita dan resiko perlakuan fisik dan seksual menyimpang terhadap anak-anak. Kohabitasi juga berpotensi tinggi merusak anak-anak karena kemungkinan tingginya kemungkinan pasangan tersebut berpisah, sehingga menyulitkan bagi anak-anak untuk membangun hubungan dekat dengan orang dewasa lainnya. Demikian juga, wanita yang hidup bersama dan memiliki anak menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi. Lebih lanjut ditemukan bahwa pasangan-pasangan yang hidup bersama memiliki tingkat kebahagian dan kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan pasangan-pasangan yang menikah.

Dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, Joshua Harris (1997) menjelaskan dengan sangat jelas sejumlah alas an mengapa pacaran tidak mampu memprediksikan kebahagiaan hubungan pasangan:

1. Pasangan mendorong intimasi (kedekatan fisik emosional) tetapi tidak mencukupi untuk terbentuknya komitmen

2. Pacaran cenderung mengabaikan persahabatan padahal persahabatan menyediakan fondasi yang kuat untuk sebuah hubungan yang stabil

3. Pacaran cenderung fokus pada atraksi romantis, sehingga hubungan akan tetap berlangsung sepanjang perasaan romantis tersebut masih ada

4. Pacaran cenderung fokus pada menikmati cinta dan romantisme hanya untuk kesenangan semata

5. Pacaran seringkali menjadikan hubungan fisik sebagai bentuk pembuktian cinta terhadap pasangan

6. Pacaran seringkali mengisolasi pasangan dari hubungan-hubungan penting lainnya, meninggalkan arti penting persahabatan ketika mengalami kondisi buruk dengan pasangan

7. Pacaran banyak menghabiskan waktu dan tenaga di mana hal tersebut dapat mengganggu mereka dari tanggung jawab utama mereka untuk mempersiapkan masa depan

8. Pacaran seringkali menciptakan sebuah lingkungan artificial untuk mengevaluasi karakter pribadi orang lain

Yang lebih menguatkan lagi bahwa pacaran mestinya tidak perlu lagi dijadikan metode dalam mencari pasangan menikah adalah temuan-temuan yang menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang hidup bersama dan kemudian mereka memutuskan untuk menikah menunjukkan karakteristik pernikahan yang sangat kontradiktif dengan pasangan menikah yang sebelumnya mereka tidak hidup bersama. Sebagai contoh, Cohan and Kleinbaum (2000) menemukan bahwa pasangan menikah yang sebelumnya melakukan kohabitasi memiliki keterampilan-keterampilan komunikasi yang lebih buruk dalam mendikusikan permasalahan-permasalahan yang muncul dibandingkan pasangan menikah yang sebelumnya tidak melakukan kohabitasi. Studi-studi yang dilakukan menyimpulkan bahwa sebuah pernikahan yang didahului kohabitasi kemungkinan besar berakhir dengan perceraian; DeMaris and Roe (1992) menemukan resiko perceraian meningkat sebesar 46%.

Secara singkat, Sydney Harris menyimpulkan bahwa satu alasan utama mengapa banyak pernikahan yang gagal adalah fungsi yang disediakan oleh pacar dan jodoh berbeda secara fundamental—pacar biasanya dipilih karena pacar tersebut secara fisik menarik sementara jodoh dipilih karena jodoh tersebut secara psikologis bertanggung jawab; dan sayangnya, kebanyakan individu-individu yang menarik seringkali tidak cukup bertanggung jawab, sedangkan kebanyakan individu-individu yang bertanggung jawab seringkali secara fisik kurang menarik.

Jadi, bagaimana pendapat Anda sekarang tentang pacaran? Masihkah Anda meyakini bahwa pacaran merupakan metode terbaik untuk menemukan pasangan untuk menjaga kesucian diri dan bersama-sama menyempurnakan separuh agama Anda?

Published in:Ummat Development |on September 2nd, 2008 |12 Comments »

Memahami Strategi Manajemen Konflik Saudara Kandung

Rebutan boneka antara Adin dengan Ayya, adik kakak, berlanjut dengan saling memukul, dan berakhir dengan tangisan yang menggegerkan rumah (Parents Guide, Vol 1, No 01, Oktober 2002); Radya (5 tahun) bertengkar dengan Chika (9 tahun), kakaknya, karena ingin sekali mengajaknya bermain tetapi tidak mau karena sedang belajar belajar dan mengerjakan PR (Parents Guide, Vol 1, No 03, Desember 2002), merupakan contoh dari interaksi antar saudara kandung yang seringkali diwarnai oleh saling menyayangi satu sama lain dan saling membenci satu sama lain. Ambivalensi perasaan positif dan negatif ini merupakan ciri khas yang mewarnai interaksi antar saudara kandung sepanjang rentang kehidupan manusia.

Menurut Santrock (2001), interaksi antar saudara kandung seringkali menunjukkan saat-saat yang positif melalui dukungan sosial dan komunikasi sosial. Kakak menolong adiknya yang lebih muda mengatasi situasi tidak menentu saat orangtua mereka tidak ada. Adik seringkali menjadikan kakaknya sebagai dasar rasa aman untuk melakukan eksplorasi kompetensi yang dimiliki dan melakukan penyesuaian diri ketika teman sebaya mengabaikan dirinya.

Di sisi lain anak yang lebih tua kadang-kadang bereaksi secara negatif terhadap kehadiran adik laki-laki atau adik perempuannya yang baru lahir. Reaksi negatif anak-anak yang lebih tua, yang bersumber pada kecemburuan, seringkali muncul ketika orangtua, terutama ibu, lebih memberikan perhatian terhadap anak yang lebih kecil.

Stewart (Berndt, 1997) mencatat bahwa masalah perilaku anak-anak yang lebih tua lebih jarang terjadi ketika para orangtua tetap memberikan perhatian kepada mereka ketika adiknya lahir. Para orangtua ketika tetap memperhatikan kebutuhan stimulasi dan perhatian anak-anak yang lebih tua sebenarnya tidak hanya mengurangi kemungkinan terjadinya masalah perilaku pada anak-anak yang lebih tua, tapi juga membantu anak-anak yang lebih tua membentuk hubungan yang lebih baik dengan adiknya yang baru lahir.

Apa yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan orangtua mempengaruhi kualitas hubungan antar saudara kandung seperti apa yang akan berkembang nantinya. Hubungan antar saudara kandung yang ditandai oleh persahabatan dan kerjasama atau sebaliknya, hubungan antara saudara kandung yang ditandai oleh konflik dan permusuhan terus menerus.

Favoritisme para orangtua terhadap salah satu anaknya, misalnya, akan membuat hubungan antar saudara kandung lebih banyak diwarnai permusuhan dan agresi. Brody (1998) dalam reviewnya yang berjudul Sibling Relationship Quality: Its Causes and Consequences, mencatat dari sejumlah program riset terdapat data-data yang mendukung hipotesis bahwa hubungan antar saudara kandung akan lebih banyak ditandai oleh negativitas ketika para orangtua memperlihatkan secara langsung campur tangan, responsivitas, afeksi positif dan afeksi negatif, kontrol, dan disiplin yang tidak sama terhadap sejumlah anak-anak mereka sebagai respon atas perilaku yang sama

Sementara itu Dunn dan Kendrick (Damon & Eisenberg, 1998) menemukan ketika para ibu mendiskusikan perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan anak yang baru lahir dengan anak-anak yang lebih tua, maka anak-anak yang lebih tua akan lebih menyayangi adiknya. Bryant dan Crockenberg (Damon & Eisenberg, 1998) juga mendapati bahwa responsivitas para ibu terhadap kebutuhan-kebutuhan anak perempuan yang lebih muda berkorelasi positif dengan kemampuan berbagi dan menghibur anak yang lebih muda terhadap anak yang lebih tua.

Hubungan antar saudara kandung penting bagi anak-anak karena mereka berinteraksi satu sama lain dan mempengaruhi kontek sosial emosional di mana mereka tumbuh dan berkembang. Keterampilan-keterampilan psikososial yang mereka peroleh melalui interaksi antar saudara kandung akan digunakan sepanjang hidup pada hubungan sosial lain yang lebih luas (Brody, 1998).

Pengalaman-pengalaman anak-anak dengan saudara kandung menyediakan sebuah kontek di mana pola-pola interaksi dan keterampilan-keterampilan pemahaman sosial kemungkinan digeneralisasikan dalam hubungan dengan anak-anak yang lain. Sebuah kondisi di mana anak mengembangkan keterampilan-keterampilan pemahaman sosial yang memungkinkan mereka membentuk hubungan persahabatan dengan anak-anak yang lain (McCoy dkk, 1994; Stocker & Dunn, 1990, dalam Damon & Eisenberg, 1998)

Melalui hubungan antar saudara kandung, menurut Hopson dan Hopson (2002) anak-anak akan belajar bagaimana mereka harus menyesuaikan diri dengan orang lain. Anak-anak akan belajar bagaimana bernegosiasi dan berkompromi dengan orang lain. Anak-anak akan belajar bagaimana mengembangkan pemahaman tentang keberadaan orang lain sekaligus menghargai perasaan orang lain. Hubungan antar saudara kandung juga akan mengajarkan kepada anak-anak bahwa hidup ini tidak selalu adil dan membantu mereka untuk menerima kenyataan tersebut. Anak-anak akan belajar kesabaran dan toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Anak-anak akan belajar tentang batasan-batasan orang lain dan bagaimana menerapkan batasan-batasan mereka.

Salah satu tugas tersulit yang dihadapi para orangtua adalah ketika mereka harus memutuskan bagaimana merespon secara cepat dan tepat ketika terjadi konflik di antara anak-anak mereka. Mengapa demikian? Cepat lambatnya dan tepat tidaknya strategi manajemen konflik yang mereka gunakan tidak hanya berdampak pada teratasinya konflik yang muncul, tetapi juga bagi perkembangan dan hubungan di antara anak-anak di masa mendatang.

Goleman (1995) dalam bukunya, Emotional Intelligence, mencatat ada ratusan kajian yang memperlihatkan bahwa bagaimana para orangtua memberi perlakuan terhadap anak-anaknya, apakah dengan disiplin yang keras atau dengan pemahaman yang empatik, dengan acuh tak acuh atau dengan kehangatan,dan lain sebagainya memiliki konsekuensi yang mendalam dan abadi bagi kehidupan emosional anak-anak.

Ada berbagai macam strategi yang dilakukan para orangtua sebagai respon terhadap konflik pada anak-anaknya yang memiliki hubungan saudara kandung. Vuhinich dkk (1988) mencatat sejumlah strategi manajemen konflik yang biasa digunakan para orangtua antara lain kontinyuasi konflik (terlibat atau memperluas konflik), otoritas (memakai kekuasaan untuk mengakhiri konflik), mediasi/informasi (memberikan saran-saran, informasi), distraksi (mengubah fokus pada isu-isu non konflik), dan non intervensi. Howe dkk (2001) mencatat ada tiga strategi yang digunakan para orangtua dalam mengatasi konflik antar saudara kandung, yaitu manajemen direktif (secara verbal dan atau fisik membatasi atau mengontrol anak-anak dari konflik yang lebih berbahaya), manajemen antisipatori (melatih kemampuan anak-anak yang lebih muda dalam mengenali perasaan-perasaan dan keinginan-keinginannya ketika berinteraksi dengan saudara kandungnya yang lebih tua) dan manajemen interaktif (ikut terlibat secara verbal dan/ atau fisik bersama dengan anak-anak dalam bermain, permainan, dan ketika mereka membaca buku-buku.)

Perozynski dan Kramer (1999) menyimpulkan dari penelitian Dunn & Munn tahun 1986, Felson & Russo tahun 1988, Ross dkk tahun 1994, Perlman & Ross tahun 1997 bahwa efektivitas strategi manajemen konflik yang digunakan para orangtua bervariasi secara spesifik. Suatu strategi yang efektif dalam mengatasi konflik antar saudara kandung pada satu situasi, belum tentu efektif untuk jenis konflik yang sama pada situasi yang berbeda.

Perozynski dan Kramer (1999) menemukan bahwa para orangtua tiga kali lebih sering memakai strategi pasif non intervensi (passive non intervention strategy) daripada strategi berpusat pada anak (child-centered strategy) dan kontrol orangtua (parental control strategy) dalam mengatasi konflik antar saudara kandung, meskipun mereka sebenarnya meyakini bahwa strategi berpusat pada anak dan strategi kontrol orangtua lebih efektif.

Temuan tersebut menunjukkan adanya pengaruh keyakinan (belief) yang dimiliki orangtua terhadap perilaku yang dilakukan sebagai respon atas konflik yang terjadi di antara anak-anaknya. Keyakinan yang dimiliki akan mempengaruhi interpretasi orangtua atas situasi yang dihadapi dan interpretasi ini akan mempengaruhi jadi tidaknya sebuah perilaku dilakukan orangtua. Keyakinan orangtua tentang kemampuan dirinya untuk menampilkan dengan baik tugas sosialiasi tertentu, menurut Bugental dan Goodnow (Damon & Eisenberg, 1998) mempengaruhi dilakukan tidaknya suatu tugas sosialisasi tertentu tersebut.

Eccles dkk (1990) dan Goodnow & Collins (1990) menemukan bahwa keyakinan dan stereotip orangtua mempengaruhi harapan-harapan dan tujuan-tujuan yang dikembangkan orangtua atas anak-anaknya, persepsi-persepsi orangtua atas minat dan bakat anak-anaknya, dan cara-cara yang digunakan orangtua dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka.

Sejumlah penelitian memperlihatkan adanya pengaruh jenis kelamin dalam strategi manajemen konflik yang diterapkan orangtua ketika menangani konflik antar saudara kandung. Vuhinich dkk (1988) menemukan bahwa para ayah cenderung untuk mengadopsi gaya otoriter ketika melakukan intervensi konflik yang terjadi di antara anak-anaknya, sedangkan para ibu menggunakan pendekatan mediasional. Perozynski dan Kramer (1999) menemukan bahwa para ibu lebih meyakini strategi berpusat pada anak lebih efektif daripada strategi kontrol orangtua dalam mengatasi konflik di antara anak-anaknya. Sebaliknya, para ayah menunjukkan konfidensi yang lebih tinggi dalam memakai strategi kontrol orangtua dibandingkan strategi berpusat pada anak dalam merespon konflik yang terjadi.

Telaah penulis terhadap tulisan Hoff-Ginsberg (Bornstein, 1995) yang berjudul Socioeconomic Status and Parenting, sebuah tinjauan mendalam terhadap literatur-literatur berisi status sosial ekonomi dan keyakinan orangtua, perilaku pengasuhan, dan hubungan antara keyakinan dengan perilaku orangtua, memunculkan dugaan kemungkinan adanya pengaruh status sosial ekonomi dalam strategi manajemen konflik yang dipakai orangtua ketika menangani konflik antar saudara kandung. Hoff-Ginsberg (Bornstein, 1995) menyimpulkan bahwa para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi yang berbeda—kebanyakan diukur dengan menggunakan dimensi pekerjaan dan pendidikan orangtua—menunjukkan keyakinan dan perilaku pengasuhan yang berbeda.

Para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi lebih rendah lebih menekan pentingnya nilai-nilai konformitas pada anak-anaknya, sedangkan para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi lebih tinggi lebih menekankan nilai-nilai kemandirian bagi anak-anaknya. Para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi lebih tinggi digambarkan lebih demokratis, kecenderungan menghukum yang rendah, dan berpusat pada anak, sedangkan para orangtua yang berasal status sosial ekonomi lebih rendah digambarkan lebih otoriter, kecenderungan menghukum tinggi, dan berpusat pada orangtua.

Berdasarkan survey pendahuluan terhadap tujuh pasangan suami istri yang memiliki anak lebih dari satu orang, anak pertama rata-rata berusia 7 tahun 2 bulan dan anak kedua rata-rata berusia 4 tahun 5 bulan, penulis menemukan bahwa mereka juga pernah mengalami dan menyaksikan sendiri konflik yang terjadi di antara anak-anaknya seperti cemburu/iri ketika melihat saudaranya berbicara atau berada dekat ayah ibunya (100%), saling mengejek satu sama lain (85,71%), menunjukkan kepada saudaranya bahwa dia dapat melakukannya dengan baik atau bahkan lebih baik (85,71), bertengkar (71,41%), dan memukul/menjambak rambut/mendorong hingga saudaranya terjatuh (35,71%).

Permasalahan tentang bagaimana mengatasi konflik antar saudara kandung ini juga dihadapi oleh dua orang ibu sebagaimana yang diungkapkan berikut ini. Ernawati (www.kompas.com/health/psikologi/110901c.htm) menyatakan dirinya mengalami kebingungan bagaimana harus bersikap terhadap anak-anaknya yang kerap terlibat konflik. Anak pertama, laki-laki, berusia 6,5 tahun, dan anak kedua berumur 2,5 tahun. Sifat mereka sangat berbeda. Sang kakak penakut, cerewet, sedangkan si adik sangat temperamental. Begitu ada yang tidak cocok di antara mereka, langsung banting dan lempar barang. Saya sering meminta si kakak mengalah pada adiknya, tetapi tidak jarang pula si adik keterlaluan. Saya pukul di depan kakaknya supaya si kakak tahu bahwa saya berlaku adil. Masalah saya adalah belakangan ini si kakak suka membawa beberapa boneka (ketika dia masih kecil) tidur bersamanya. Kebetulan kami hanya punya dua kamar dan dia memilih tidur ditemani pembantu di kamarnya. Boneka-boneka itu (beruang dan ulat) dijadikan teman tidur, diselimuti dan diberi bantal.; Lusi S (Parents Guide, Vol I, No 7, April 2003) menyatakan kesulitan menangani kecemburuan anak pertama terhadap adiknya. Anak pertama saya seorang anak laki-laki usia 4 tahun 4 bulan. Walaupun masih balita, perilakunya seperti orang dewasa. Misalnya, kalau dimarahi, dia akan menjawab, Mama sudah tidak sayang aku lagi, ya? Bila dilarang melakukan sesuatu, dia akan marah dan membentak orang yang melarangnya itu. Sebagai ibunya, saya pun mengalami hal serupa, bahkan pernah diusir dari kamarnya sambil berkata saya tidak mau lagi dekat dengan saya. Selain itu, si kecil juga pencemburu terhadap adiknya (1 tahun 5 bulan). Sikap ini sudah berlangsung sejak adiknya masih bayi.

Penulis dalam survey pendahuluan juga menemukan bahwa para orangtua yang menjadi subjek penelitian pendahuluan ini melaporkan bahwa mereka pernah memakai cara-cara berikut ini dalam mengatasi konflik yang terjadi di antara anak-anaknya, yaitu meminta penjelasan anak-anaknya sebab-sebab terjadinya konflik guna mencari kemungkinan pemecahannya (100%), meminta salah satu anaknya mengalah (85,71%), meminta anak-anaknya berhenti bertengkar (78,57%), membiarkan anak-anaknya menyelesaikan konflik dengan cara mereka sendiri (71,14%), mengalihkan perhatian anak-anak pada hal yang lain (57,14%) menghukum salah satu anak (42,85%), dan menghukum mereka semuanya (35,71%)

Tepat tidaknya strategi manajemen konflik yang digunakan para orangtua dalam menangani konflik antar saudara kandung seperti tersebut di atas akan mempengaruhi kualitas hubungan antar saudara kandung. Perlakuan yang tidak tepat dalam mengatasi konflik antar saudara kandung, misalnya favoritisme orangtua terhadap salah satu anak, akan berakibat pada buruknya hubungan antar saudara kandung.

Fenomena negativitas hubungan antar saudara kandung akibat perlakuan orangtua yang membeda-bedakan dirasakan oleh Gt (Kompas, 28 Mei 2000) di Lombok, sebagaimana dia ceritakan berikut ini:

“ Saya, 23 tahun, anak ke 9 dari 11 bersaudara, sudah tidak tahan menghadapi, melihat, mendengar sesuatu yang ada hubungannya dengan kakak laki-laki sulung saya, sebut saja B (37 tahun). Dia sudah berkeluarga dan memiliki 3 anak, tetapi masih tinggal bersama orangtua. Dari kecil, sejak saya dapat menyimpan memori, kakak sulung saya ini sudah sangat-sangat-sangat…membuat orang lain merasa tersiksa, menderita, teraniaya batin (pernah juga fisik). Kadang kami bangun malam hari sebab ia berkelahi dengan kakak yang lain. Perkelahian ini bukan yang biasa, tetapi seperti perang saja. Tiap kali berkelahi orangtua menyembunyikan benda-benda tajam. Pernah dia berkelahi dengan kakak yang sudah menikah, yang ketika itu masih tinggal bersama orangtua. B mengusir kakak saya dan bilang kalau sudah menikah harus tahu diri, jangan menumpang terus pada orangtua. Padahal dia sendiri sampai punya anak tiga masih menumpang. Munafik ya Bu. Orangtua sering membantu dia, juga saat membuka swalayan kecil. Tetapi dia malas menjaganya. Kadang-kadang berkelahi dengan istrinya sebab dia mau tidur siang-meski bangunnya sudah siang, padahal toko sedang ramai. Istri B juga sama saja. Pernah mereka berkelahi dengan kakak nomor tiga Ketika B sudah agak tenang, istrinya memanas-manasi. Sampai barang-barang milik kakak nomor tiga dirusak, bajunya disobek-sobek dan alat elektronika dicoret dengan paku. Tetapi orangtua menutupi kejadian itu, bajunya dijahit lagi, dan alat elektronik diperbaiki. Dia juga mau menguasai barang-barang di rumah. Tak terhitung banyaknya barang miliki orangtua, kakak-kakak, bahkan punya saya yang masuk ke paviliun dia dan tidak bisa diambil lagi. Dia menggunakan mobil orangtua sesuka hatinya. Kalau adiknya mau pakai dia bilang manja banget, tidak mau naik kendaraan umum. Pernah dia akan pergi, mobil dipakai orangtua menengok orang sakit dengan diantar kakak. Pulangnya dia marah-marah, padahal yang punya kan orangtua. Sampai anak-anak B menganggap mobil itu punya Papa mereka dan orangtua dianggap meminjam.”

Buruknya hubungan antar saudara kandung pada tingkatan tertentu dapat mengarah pada tindakan kriminal, seperti yang diberitakan dalam media massa berikut ini: “Di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, seorang adik yang pengangguran membunuh kakak kandungnya sendiri. Kejadiannya berawal ketika sang adik mengambil uang milik kakaknya tanpa memberitahu terlebih dulu. Melihat hal tersebut, sang kakak kemudian menampar adiknya dan terjadilah perang mulut dan perkelahian. Perkelahian tersebut berakhir tragis dengan kematian sang kakak, dibunuh adiknya sendiri memakai senjata tajam berupa tatah (Bernas, 7 Mei 2002); Di Kampung Tapos, Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, seorang kakak terbunuh oleh adik kandungnya sendiri. Peristiwa ini bermula ketika korban ingin menjual rumah tetapi ditentang oleh seluruh keluarganya. Kemudian korban bermaksud membunuh ibu kandungnya, tetapi usaha korban dicegah oleh adiknya dan terjadilah perkelahian. Akhirnya korban terbunuh oleh sang adik (Pikiran Rakyat, 5 Juli 2002).”

Published in:Parenting |on September 2nd, 2008 |6 Comments »

Overcoming Child Abuse in Indonesian through Positive Parenting Program and Prophetic Intelligence

Overcoming Child Abuse in Indonesian through Positive Parenting Program and Prophetic Intelligence
by
Irwan Nuryana Kurniawan

A number of facts and data collected by National Commission for Child Protection the year 2004, indicates that condition of Indonesian children residing in at situation of the special protection requires attention of all party sides. Situation portrait and various problems of children in Indonesia are getting concerned day by day. That various sufferings those experienced by Indonesia children has shown that Child’s Right of Life as integral part of human right has been omit and threatened without special handling an solution. Report from Data Centre and Information National Commission for Child Protection is entering through Hotline Service National Commission for Child Protection to indicate that hardness case to child, good of that is sexual hardness, physical, psychological, and economics, what reported, The numbers increasing. Out of 481 hardness cases to child of in the year 2003 reported through direct denunciating and Hotline Service National Commission for Child Protection, increases to become 544 cases in the year 2004. 221 cases is sexual hardness, 140 physical hardness cases, 80 psychical hardness cases, and 103 cases about other problems, as discriminations and others (NCCP, 2005).

Recently National Commission for Child Protection as child protection institution which in de facto way supported by society, along the year 2006 has accepted complain and recorded many kinds of children’s sufferings those happen surround us. Number of children victim violence that is reported and handled by National Commission for Child Protection, in victim of violence sexual, physics, mental are:

Kinds of Violence

Year 2004

Year 2005

Year 2006

Physical

140

233

247

Sexual

221

327

426

Mental

80

176

451

Sum

441

736

1124

Meanwhile, nationally number of violence toward child predicted reach 72.000 cases (NCCP, 2006). According to Seto Mulyadi, Chief of National Commission for Child Protection, most of the actors of violence toward children are them who stay around the children life. Almost 69% the actors are them who know the children well, such as parent, grandparent neighborhood and teacher (NCCP, 2005).

DeHart et al (1996), summarized from several researches, concluded that parental abuse cause negative consequences to children. These include aggression, social withdrawal, and other difficulties with peers. Problems of low self esteem and difficulty maintaining a coherence of self, as well as problems describing one’s own feelings and actions, have been found, as have emotional disturbances ranging from lack of ability to experience pleasure to uncontrollable anger. In addition, there may be serious problems of apathy in the face of challenges, or difficulties in balancing the desire to explore with the need to feel secure. Such problems may persist into later childhood and even adulthood. In adulthood, the most widely reported outcomes of having maltreated as a child are aggression and parenting problems.

Ziegler and Hall (1989), Critenden et al (1991) found that majority of parents who mistreat their children were abused as children. The same seems to be true of harsh parenting practices (Simons et al 1991): when the parents of one generation are harsh, their children tend to be harsh when they become parents. Furthermore Bee (1998) noticed that parents, regardless of depression of history of abuse, are more likely to abuse a child when their current life conditions are highly stressful. So abuse is more likely in families in which at least one parent is alcoholic, in large families, in single parent households, and in families living in poverty or in extremely crowded conditions (Garbarino, & Sherman, 1980; Sack dkk, 1985; Pianta dkk, 1989).

Bostrom (2003) found that child abuse can happen in any segment of society, most point to factors such as parental alcohol and drug abuse, poor parenting skills, a past history of abuse, and economic stress as reasons for child abuse and neglect. Gelles (2000a) noted that abusive parents often have unrealistic expectations of their children, have little knowledge of child development, and demonstrate an inability to bond with infants

In short those lacks of parenting skill become a critical factor that is related to the incidence of child abuse in a family. Furthermore, Walker et al (2006) found that teaching parenting skills can have positive long-term effects in children who, because of their parents’ social circumstances, are at high risk of developing psychological, emotional, or behavioural problems. Kurniawan and Utami (2007) also found that increasing parenting skill significantly can reduce parent’s neglectful behaviours.

Alvy (2007) conclude research study after research study confirms that communities benefit greatly when children are raised effectively. The societal benefits are evident very early, as effectively parented preschool children are more likely to enter school eager and ready to learn. They are also much more likely to achieve at high levels and to be well liked by their peers and teachers. The research also shows that as teenagers, these effectively parented young people make positive contributions to community life and are of service to others. And as adults they are more likely to have productive careers, healthy and stable marriages, and to become effective parents themselves.

Sanders et.al (2003) summarized that there has been a consistent finding across many studies which shows that parenting skills training used in Triple P produces predictable decreases in child behavior problems, which have typically been maintained over time. Furthermore, several studies show that these improvements in child behavior are also paralleled by improvements in parents’, particularly mothers’, adjustment. The primary treatment effects on child and family functioning have been replicated several times in different studies involving different research teams. Similar findings from previous researched by Dembo et. al (1985), Todres and Bunston (1993), and Cowen (2001) revealed that family education programme effectively can change parent attitude and parenting practices, family dynamics, and reduce children behaviour problems.

Sanders et.al (2003) describe The Triple P-Positive Parenting Program is a multi-level, preventively-oriented parenting and family support strategy developed by the authors and colleagues at The University of Queensland in Brisbane, Australia. The program aims to prevent severe behavioral, emotional and developmental problems in children by enhancing the knowledge, skills and confidence of parents.

The Triple P-Positive Parenting Program incorporates five levels of intervention on a tiered continuum of increasing strength. Figure 1 depicts the differing levels of intensity and reach of the Triple P system. Level 1, a universal parent information strategy, provides all interested parents with access to useful information about parenting through a coordinated promotional campaign using print and electronic media as well as user-friendly parenting tip sheets and videotapes that demonstrate specific parenting strategies. This level of intervention aims to increase community awareness of parenting resources and the receptivity of parents to participating in programs, and to create a sense of optimism by depicting solutions to common behavioral and developmental concerns ( Sanders et.al., 2003).

Sanders et.al (2003) explains that Level 2 is a brief, one to two-session primary health care interventions providing early anticipatory developmental guidance to parents of children with mild behavior difficulties or developmental issues. Level 3, a four-session intervention, targets children with mild to moderate behavior difficulties and includes active skills training for parents. Level 4 is an intensive eight to ten-sessions individual, group or self-directed parent training program for children with more severe behavioral difficulties. Level 5 is an enhanced behavioral family intervention program for families where child behavior problems persist or where parenting difficulties are complicated by other sources of family distress (e.g., marital conflict, parental depression or high levels of stress).

Over the past decade, considerable research has emerged that demonstrates the benefits of religious practice within society. Religious practice promotes the well-being of individuals, families, and the community. Of particular note are the studies that indicate the benefits of religion to the poor. Regular attendance at religious services is linked to healthy, stable family life, strong marriages, and well-behaved children. The practice of religion also leads to a reduction in the incidence of domestic abuse, crime, substance abuse, and addiction. In addition, religious practice leads to an increase in physical and mental health, longevity, and education attainment. Moreover, these effects are intergenerational, as grandparents and parents pass on the benefits to the next generations (Kagan, 2006).

In general, religious participation appears to foster an authoritative, warm, active, and expressive style of parenting. In addition, parents who attend religious services are more likely to enjoy a better relationship with their children (Pearce and Axinn, 1998) and are more likely to be involved with their children’s education (Wilcox, 2002). Moreover, the greater a child’s religious involvement, the more likely both the child and parent will agree about the quality of their relationship (Aquilino, 1999) the more similar their values will be, and the greater their emotional closeness will be (Pearce , and Haynie, 2004).

A small but growing body of research has focused on the links between religious practice and decreased family violence. For example, men who attended religious services at least weekly were more than 50 percent less likely to commit an act of violence against their partners than were peers who attended only once a year or less (Ellison et.al, 1999). No matter how the data were analyzed, regular attendance at religious services had a strong and statistically significant inverse association with the incidence of domestic abuse (Ellison and Anderson, 2001). Similarly, after controlling for all other factors, Wilcox (2004) found that of all groups studied (unaffiliated, active conservative Protestant, active mainline Protestant, nominal conservative Protestant, and nominal mainline Protestants), religiously active conservative Protestant men were least likely to engage in domestic violence.

Strong and repeated evidence indicates that the regular practice of religion has beneficial effects in nearly every aspect of social concern and policy. This evidence shows that religious practice protects against social disorder and dysfunction. My previous researches revealed that prophetic intelligence significantly can predict achievement motivation of government employee (Kurniawan, 2006a), has positive and significant correlation with girl adolescence autonomy (Kurniawan, 2006b), authoritative parenting style (Kurniawan, 2006c) and marital satisfaction (Kurniawan, 2007).

Published in:Parenting |on September 2nd, 2008 |11 Comments »