Perkembangan Anak

Perkembangan Anak

Alhamdulillah pada edisi-edisi sebelumnya kita sudah mencoba mengeksplorasi sejumlah keterampilan penting dalam pengasuhan yang mudah-mudahan membantu kita menjadi orangtua yang lebih baik dalam mengemban amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita, yaitu membantu anak-anak kita berbakti kepada Allah SWT. Anak-anak yang kelak kita banggakan di hadapan Allah SWT.

Rasulullah SAW menempatkan ilmu sebagai prasyarat penting jika kita berkendak sukses hidup di dunia dan akhirat. Termasuk di sini menurut hemat penulis kesuksesan kita menjalankan tugas mengemban amanah sebagai orangtua. Rasulullah SAW bersabda "Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah ia berilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah ia berilmu dan barangsiapa yang menginginkan dunia dan akhirat maka hendaklah ia berilmu."

Pada edisi-edisi yang akan datang insyaallah kita akan mengeksplorasi lebih jauh mengapa kita sebagai orangtua atau pihak-pihak yang berhubungan dengan anak-anak perlu memahami dengan baik dan benar siapa anak , bagaimana anak, dan mengapa anak berpikir, berperasaan, bersikap, dan berperilaku demikian. Pemahaman yang baik dan benar tentang perkembangan anak akan sangat membantu kita dalam menanggapi secara tepat perubahan-perubahan yang memang akan terus menerus terjadi pada anak kita. Perubahan-perubahan yang seringkali membuat kita tergagap dan menanggapinya secara reaktif dan tidak tepat karena ketidaktahuan kita tentang perkembangan anak.

Sebagai contoh, saya pernah dibuat terhenyak oleh pertanyaan yang diajukan anak kami paling besar dalam perjalanan mengantar anak ke sekolah. Waktu itu Aulia Rahma Amalia Ridwan, demikian nama lengkap anak kami yang paling besar, menanyakan kepada saya,”Ayah, Allah itu warnanya apa?” Saya terdiam beberapa saat dan kebingungan harus menjawab bagaimana. Kalau saya jawab warna tertentu, saya membohonginya. Sebenarnya saya bisa saja langsung menanggapi pertanyaan Aulia dengan mengatakan,” Aulia, ndak boleh bertanya hal-hal seperti itu”, atau “Allah SWT itu tidak dapat diserupakan dengan apapun (biar lebih mantap jawabannya saya pakai bahasa arab “ Laisa kamislihi syai’un). Alhamdulillah saat itu saya dengan tenang menanggapi pertanyaan Aulia dengan balik bertanya, “ Menurut Aulia, Allah SWT itu warnanya apa?” Aulia menjawab,” Merah, yah!” Saya terus kejar dengan bertanya lebih lanjut,” Lho, kok Allah SWT warnanya merah?” Dengan enteng Aulia menjawab,” Soalnya aku suka warna merah, yah!”

Seperti itulah anak-anak usia prasekolah berpikir, kata Jean Piaget, tokoh psikologi yang meneliti secara meluas dan mendalam tentang bagaimana proses berpikir yang terjadi sejak bayi sampai anak usia sekolah. Salah satu ciri yang menonjol dalam proses berpikir anak-anak usia prasekolah adalah bahwa semua yang ada di dunia ini, baik benda maupun yang tidak tampak, memiliki kualitas/karakteristik seperti halnya kehidupan manusia. Jean Piaget (Santrock, 1999) mencontohkan bahwa anak-anak usia prasekolah seringkali mengatakan, “Pohon itu mendorong daunnya dan daunnya jatuh” atau “Trotoar itu membuatku gila; Trotoar itu membuatku terjatuh.”

Selain itu, ciri lain yang menonjol dalam berpikir anak-anak prasekolah adalah ketidakmampuan seorang anak-anak usia prasekolah untuk membedakan sudut pandang dirinya dengan sudut pandang orang lain. Belum mampunya anak-anak prasekolah melakukan demikian, disebut Jean Piaget sebagai egosentrisme, menyebabkan mereka belum mampu untuk memahami bahwa orang lain itu, bisa teman-temannya, saudaranya, orangtuanya atau yang lainnya, memiliki keinginan, pikiran, dan perasaan yang berbeda dengan dirinya. Menjadi sangat mahfum bagi kita mengapa anak-anak usia prasekolah sering bertengkar dan berebut mainan bersama temannya, tidak mau mengalah dan ingin menang sendiri.

Memperhatikan sedikit contoh tentang ciri-ciri berpikir anak usia prasekolah tersebut, menjadi tantangan sekaligus ladang amal yang sangat luas bagi kita orangtua untuk terus menerus belajar bagaimana memberikan sikap dan perlakuan terbaik terhadap perkembangan anak-anak kita. Demikian

Published in:Parenting |on August 22nd, 2008 |No Comments »

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*