Assessment Abuse

Kesalahan-kesalahan mendasar

dalam penilaian belajar dan perkembangan anak

Penggunaan satu alat penilaian sebagai dasar dalam melakukan evaluasi terhadap belajar dan perkembangan siswa dianggap sebagian ahli sebagai abuse and misuse of assessment—kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Apalagi menyangkut keputusan-keputusan yang berpengaruh besar terhadap belajar dan perkembangan anak seperti penentuan kelulusan, jurusan, bakat, minat, kemajuan maupun hambatan belajar, dan perkembangan anak. Menggunakan tes-tes untuk membuat keputusan-keputusan yang mempertaruhkan masa depan seorang anak, seperti apakah seorang siswa akan naik kelas atau menerima ijazah, seharusnya tidak dibuat berdasarkan hanya pada hasil skor satu tes saja. Hasil skor satu alat penilaian hanya dapat menyediakan sebuah rekaman singkat prestasi siswa dan sangat mungkin tidak akurat dalam memberikan sebuah gambaran berharga tentang kemajuan dan prestasi siswa selama bertahun-tahun.

Melakukan penilaian yang menuntut para siswa memberikan respon—jawaban-jawaban atau mengerjakan sesuatu seperti yang dikehendaki dalam ujian—dalam cara-cara yang mereka tidak terbiasa melakukannya juga termasuk kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Apa-apa yang sebenarnya diketahui dan dilakukan para siswa sangat mungkin tidak terungkap karena tertutupi oleh mampu tidaknya mereka menunjukkan apa-apa yang sebelumnya sudah mereka pelajari. Selain itu, melakukan penilaian yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan dari program pembelajaran dan program penilaian menjadi sangat menentukan dan membatasi penerapan kurikulum merupakan bentuk-bentuk lain dari kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Misalnya pembagian sumberdaya (waktu, tenaga, uang, perhatian, dan lain-lain) tidak terbagi sebagaimana seharusnya karena semua sumberdaya dipusatkan pada suksesnya Ujian Nasional atau Ujian Akhir Sekolah Daerah. Akibatnya beberapa mata pelajaran tidak diberikan atau kalau pun diberikan sebatas memenuhi kewajiban administratif.

Beberapa prinsip penting berikut perlu diperhatikan agar proses penilaian yang dilakukan mampu menghindarkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak dikehendaki, yaitu

1. Sejumlah keputusan tentang kelanjutan pendidikan seorang siswa, misalnya pengulangan, promosi, atau kelulusan, seharusnya mempertimbangkan semua informasi penting dari berbagai sumber penilaian yang mengenal secara akurat tentang belajar dan perkembangan anak.

2. Jika hasil penilaian memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak, maka harus dipastikan bahwa semua informasi tersebut bersumber dari alat penilaian yang mampu secara akurat dan handal mengungkap keterampilan-keterampilan dan pengetahuan-pengetahuan spesifik atau umum, yang setiap siswa telah memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.

3. Dalam kasus-kasus tertentu, misalnya penguasaan bahasa Inggris yang rendah, proses penilaian yang sesuai dengan kekhususan kondisi anak diperlukan untuk memperoleh skor-skor penilaian asesmen yang akurat dan dapat dipercaya. Jika siswa-siswa dengan keterampilan bahasa Inggris yang terbatas tersebut dites dalam bahasa Inggris, skor-skor tes mereka seharusnya dimaknai dalam kerangka keterbatasan mereka dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh, ketika seorang siswa menunjukkan penguasaan yang kurang dalam bahasa di mana tes diberikan (misalnya para siswa yang bahasa Inggris merupakan bahasa kedua), hasil tes tersebut sebaiknya dimaknai sebagai sebuah ukuran kemampuan mereka untuk berkomunikasi bahasa Inggris daripada sebagai sebuah ukuran penguasaan dalam pelajaran atau keterampilan tertentu.

4. Sekolah-sekolah yang menggunakan alat-alat penilaian, misalnya tes atau ujian, harusnya memastikan bahwa siswa-siswa mereka yang dites dalam pelajaran, keterampilan, atau perilaku tertentu, memiliki kesempatan belajar yang sama. Bahwa para siswa memiliki banyak kesempatan untuk menunjukkan penguasaan materi melalui prosedur-prosedur penilaian yang sama. Siswa-siswa dari latar belakang tertentu, misalnya siswa-siswa dari keluarga tidak mampu, suku minoritas, para siswa yang memiliki kecacatan, dan atau keterbatasan bahasa tertentu, tidak dirugikan secara sistematis oleh proses penilaian yang demikian.

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |1 Comment »

You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Assessment Abuse”

  1. edwin Says:

    ....

    ñïàñèáî çà èíôó!...

Leave a Reply

*