Archive for August 22nd, 2008

Assessment Abuse

Kesalahan-kesalahan mendasar

dalam penilaian belajar dan perkembangan anak

Penggunaan satu alat penilaian sebagai dasar dalam melakukan evaluasi terhadap belajar dan perkembangan siswa dianggap sebagian ahli sebagai abuse and misuse of assessment—kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Apalagi menyangkut keputusan-keputusan yang berpengaruh besar terhadap belajar dan perkembangan anak seperti penentuan kelulusan, jurusan, bakat, minat, kemajuan maupun hambatan belajar, dan perkembangan anak. Menggunakan tes-tes untuk membuat keputusan-keputusan yang mempertaruhkan masa depan seorang anak, seperti apakah seorang siswa akan naik kelas atau menerima ijazah, seharusnya tidak dibuat berdasarkan hanya pada hasil skor satu tes saja. Hasil skor satu alat penilaian hanya dapat menyediakan sebuah rekaman singkat prestasi siswa dan sangat mungkin tidak akurat dalam memberikan sebuah gambaran berharga tentang kemajuan dan prestasi siswa selama bertahun-tahun.

Melakukan penilaian yang menuntut para siswa memberikan respon—jawaban-jawaban atau mengerjakan sesuatu seperti yang dikehendaki dalam ujian—dalam cara-cara yang mereka tidak terbiasa melakukannya juga termasuk kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Apa-apa yang sebenarnya diketahui dan dilakukan para siswa sangat mungkin tidak terungkap karena tertutupi oleh mampu tidaknya mereka menunjukkan apa-apa yang sebelumnya sudah mereka pelajari. Selain itu, melakukan penilaian yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan dari program pembelajaran dan program penilaian menjadi sangat menentukan dan membatasi penerapan kurikulum merupakan bentuk-bentuk lain dari kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Misalnya pembagian sumberdaya (waktu, tenaga, uang, perhatian, dan lain-lain) tidak terbagi sebagaimana seharusnya karena semua sumberdaya dipusatkan pada suksesnya Ujian Nasional atau Ujian Akhir Sekolah Daerah. Akibatnya beberapa mata pelajaran tidak diberikan atau kalau pun diberikan sebatas memenuhi kewajiban administratif.

Beberapa prinsip penting berikut perlu diperhatikan agar proses penilaian yang dilakukan mampu menghindarkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak dikehendaki, yaitu

1. Sejumlah keputusan tentang kelanjutan pendidikan seorang siswa, misalnya pengulangan, promosi, atau kelulusan, seharusnya mempertimbangkan semua informasi penting dari berbagai sumber penilaian yang mengenal secara akurat tentang belajar dan perkembangan anak.

2. Jika hasil penilaian memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak, maka harus dipastikan bahwa semua informasi tersebut bersumber dari alat penilaian yang mampu secara akurat dan handal mengungkap keterampilan-keterampilan dan pengetahuan-pengetahuan spesifik atau umum, yang setiap siswa telah memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.

3. Dalam kasus-kasus tertentu, misalnya penguasaan bahasa Inggris yang rendah, proses penilaian yang sesuai dengan kekhususan kondisi anak diperlukan untuk memperoleh skor-skor penilaian asesmen yang akurat dan dapat dipercaya. Jika siswa-siswa dengan keterampilan bahasa Inggris yang terbatas tersebut dites dalam bahasa Inggris, skor-skor tes mereka seharusnya dimaknai dalam kerangka keterbatasan mereka dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh, ketika seorang siswa menunjukkan penguasaan yang kurang dalam bahasa di mana tes diberikan (misalnya para siswa yang bahasa Inggris merupakan bahasa kedua), hasil tes tersebut sebaiknya dimaknai sebagai sebuah ukuran kemampuan mereka untuk berkomunikasi bahasa Inggris daripada sebagai sebuah ukuran penguasaan dalam pelajaran atau keterampilan tertentu.

4. Sekolah-sekolah yang menggunakan alat-alat penilaian, misalnya tes atau ujian, harusnya memastikan bahwa siswa-siswa mereka yang dites dalam pelajaran, keterampilan, atau perilaku tertentu, memiliki kesempatan belajar yang sama. Bahwa para siswa memiliki banyak kesempatan untuk menunjukkan penguasaan materi melalui prosedur-prosedur penilaian yang sama. Siswa-siswa dari latar belakang tertentu, misalnya siswa-siswa dari keluarga tidak mampu, suku minoritas, para siswa yang memiliki kecacatan, dan atau keterbatasan bahasa tertentu, tidak dirugikan secara sistematis oleh proses penilaian yang demikian.

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |1 Comment »

Asesmen Perkembangan dan Belajar Siswa: Mengapa Penting

Asesmen Perkembangan dan Belajar Siswa:

Mengapa Penting?

Asesmen merupakan sebuah proses pengumpulan informasi yang terus menerus berlangsung untuk mengukur performansi murid dan proses pembelajaran. Asesmen perkembangan dan belajar anak memiliki nilai penting. Tidak hanya mengukur kemajuan anak-anak sebagai bentuk evaluasi program, asesmen juga berguna untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf dan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang

Asesmen yang tepat berguna untuk membantu anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Asesmen yang tepat juga dapat digunakan untuk mendeteksi keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki anak-anak. Selain itu informasi yang akurat dari sebuah asesmen bermanfaat untuk peningkatan pembelajaran sehingga proses belajar anak-anak membaik dan sebagai informasi bagi para orangtua tentang kemajuan dan hal-hal terkait dengan belajar anak-anak mereka.

Asesmen yang tepat merupakan bagian penting dari program evaluasi dan perbaikan terus menerus kualitas program pendidikan yang sudah dirancang. Dalam program pendidikan yang berkualitas, pihak-pihak terkait dengan pendidikan anak menggunakan informasi dari berbagai macam sumber untuk merencanakan dan membuat keputusan-keputusan tentang anak-anak secara individual.

Prosedur-prosedur dan instrumen-instrumen (alat) asesmen—seperti test, observasi, portofolio, penilaian guru, penilaian orangtua, dan lain sebagainya—dikatakan efektif ketika mereka memenuhi standar validitas (tepat dan akurat), reliabilitas (keajegan), dan kepekaan terhadap isu-isu kultural. Instrument asesmen yang tepat memungkinkan jawaban-jawaban yang khas dari anak-anak menurut kelompok usia, jenis kelamin, latar belakang budaya, dan kondisi geografis. Anak-anak harus diukur secara individual oleh orang-orang yang mengetahui mereka dengan objektif dalam setting dan situasi-situasi yang mencerminkan penampilan mereka yang sesungguhnya. Semakin muda usia anak, maka akan semakin sulit untuk mendapatkan asesmen yang valid. Perkembangan anak-anak usia dini berlangsung sangat cepat dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman. Performansi mereka dalam tes dipengaruhi oleh kondisi-kondisi emosional anak dan kondisi-kondisi saat asesmen dilakukan.

Satu hal yang pasti dalam melakukan asesmen adalah jangan pernah menggunakan satu instrumen asesmen untuk membuat keputusan-keputusan yang memiliki konsekuensi penting bagi anak-anak. Setiap asesmen seharusnya dipilih untuk memenuhi tujuan-tujuan yang spesifik. Asesmen seharusnya diselaraskan dengan kurikulum dan proses pembelajaran di kelas.

Bagaimana bentuk-bentuk asesmen yang tepat, insyallah akan didiskusikan bagian tulisan berikutnya.

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |3 Comments »

Mengapa Orangtua Perlu Terlibat Dalam Pendidikan Anak

Mengapa Orangtua Harus Lebih Terlibat dalam Pendidikan Anak?

Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al-Tahrim ayat 6 berfirman: “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci). Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.”

Firman Allah SWT dan Sabda Rasulullah SAW di atas menggambarkan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab penuh dari kedua orangtua, bukan yang lain. Tanggung jawab bukan sebatas memilihkan sekolah atau membiaya sekolah dan segala keperluanya. Lebih dari itu, tanggung jawab orangtua diwujudkan dalam keterlibatan langsung orangtua dalam pendidikan (kehidupan) anak-anaknya. Ketika orangtua terlibat langsung dalam kehidupan dan pendidikan anak-anaknya, maka mereka akan memberi perlakuan yang lebih tepat kepada anak-anak. Hasil-hasil penelitian (Henderson dan Mapp, 2002; National Standards for Parent/Family Involvement Programs, 2004) membuktikan bahwa keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak berhubungan dengan :

1. Prestasi anak ,

Ketika orangtua terlibat--tanpa melihat status sosial ekonomi, latar belakang etnis/ras atau tingkat pendidikan orangtua--anak-anak menunjukkan prestasi yang lebih tinggi,

Ketika orangtua terlibat dalam pendidikan anak-anaknya, anak-anak mereka memiliki skor tes yang lebih tinggi, lebih sering menyelesaikan pekerjaan rumah, dan lebih tinggi dalam kehadiran di sekolah

Dalam program yang dirancang untuk melibatkan orangtua dalam kemitraan yang penuh, prestasi anak-anak dari keluarga yang tidak beruntung tidak hanya meningkat tetapi juga mampu mencapai level standar seperti yang dipersyaratkan bagi anak-anak dari status sosial ekonomi menengah.

Para siswa kemungkinan besar mengalami kemunduran dalam prestasi akademik jika orangtua tidak berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah, tidak mengembangkan sebuah hubungan yang menguntungkan dengan guru, dan tidak memantau apa yang terjadi di sekolah anak-anak mereka

anak-anaknya lulus dari sekolah dengan nilai yang lebih tinggi,

anak-anaknya memiliki kemungkinan besar untuk memasuki pendidikan tinggi,

2. Perilaku anak

Ketika para siswa melaporkan dirinya merasa mendapat dukungan dari sekolah dan rumah, mereka memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, menganggap sekolah lebih penting, dan cenderung melakukan sesuatu dengan lebih baik

Keterlibatan siswa dalam penyalahgunaan narkoba, perilaku kekerasan, dan perilaku antisosial lainnya menunjukkan penurunan seiring dengan meningkatnya keterlibatan orangtua

Anak-anak memperlihatkan sikap-sikap dan perilaku-perilaku yang lebih positif,

3. Budaya

Sekolah-sekolah yang berhasil adalah sekolah-sekolah yang berhasil melibatkan orangtua dari berbagai latarbelakang sosial-ekonomi-budaya, memusatkan diri pada membangun hubungan kemitraan yang menguntungkan antara para guru, keluarga, dan anggota masyarakat; mengakui, menghargai, dan mempertimbangkan kebutuhan keluarga seperti adanya perbedaan status dan budaya; mengembangkan sebuah pandangan kemitraan bahwa wewenang dan tanggung jawab adalah dipikul bersama-sama.

4. Usia

Keuntungan-keuntungan dari keterlibatan orangtua tidak terbatasi pada anak-anak usia dini; mereka semua mendapatkan keuntungan yang bemakna pada semua kelompok usia dan semua tingkatan pendidikan.

Para siswa SMP dan SMA yang orangtuanya tetap terlibat dalam pendidikan mereka, mampu melakukan peralihan yang lebih baik, memelihara kualitas kerja mereka, dan mengembangkan rencana-rencana yang realistis terkait masa depan mereka. Sebaliknya, para siswa yang orangtuanya tidak terlibat lagi, kemungkinan mengalami drop-out sekolah lebih besar.

5. Kualitas Sekolah

Sekolah-sekolah yang memiliki kerjasama yang baik dengan orangtua menunjukkan semangat guru yang meningkat dan mendapat penilaian yang lebih tinggi dari para orangtua.

Sekolah-sekolah yang para orangtuanya terlibat memiliki dukungan yang lebih banyak dari para orangtua dan memiliki reputasi yang lebih baik di masyarakat.

Sekolah-sekolah yang dinilai bagus dalam program kemitraan dengan orangtua memperlihatkan hasil ujian nasional yang lebih baik.

Oleh karena itu, kata Muhammad Nur Abdul Hafizh dalam bukunya” Mendidik Anak bersama Rasulullah, “Bersegeralah kamu dalam mendidik anak sebelum kesibukanmu melalaikanmu, karena sesungguhnya apabila anakmu telah berumur dewasa dan telah berakal (tetapi tidak berpendidikan), dia akan menyibukkan hatimu (dengan keburukan) (hikmah).”

Published in:Parenting |on August 22nd, 2008 |21 Comments »

Mengembangkan Kepedulian Guru

Mengembangkan Kepedulian Guru

 

“Tidak ada seorang pun yang peduli dengan saya, Ayah dan Ibu maunya nilai saya bagus. Pak Guru dan Bu Guru tahunya kita belajar dan mengerjakan tugas,” merupakan ungkapan keluhan yang akhir-akhir ini kerap kita dengar dari anak-anak dan remaja kita. Mereka merasa tidak ada yang peduli dengan permasalahan yang mereka hadapi, baik di rumah maupun di sekolah Orang-orang yang merasa telah mencoba untuk peduli dan orang-orang yang merasa ingin dipedulikan, belum berhasil membentuk sebuah hubungan timbal balik yang penuh kepedulian.

Dalam konteks sekolah, guru yang peduli mengarahkan energi mereka untuk peduli terhadap para muridnya. Mereka melakukan tindakan-tindakan untuk memenuhi kebutuhan para muridnya yang belum terpenuhi. Guru yang peduli memandang para muridnya lebih penting daripada pelajarannya. Guru memahami bahwa tugas mereka adalah menyediakan sebuah lingkungan di mana para murid dapat belajar isi pengetahuan spesifik sehingga mereka berkembang menjadi pribadi-pribadi yang peduli. Guru yang peduli mengembangkan hubungan-hubungan dengan para muridnya, mendengarkan para muridnya, menciptakan sebuah suasana yang hangat, mengetahui para murid secara individual, memperlihatkan empati, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan akademik dan emosional para muridnya.

Pengajaran yang peduli melibatkan hubungan-hubungan yang tulus dan bermakna antara para guru dan para muridnya yang mempercepat pertumbuhan dan belajar para muridnya. Lingkungan belajar yang peduli memungkinkan para murid merasa aman, memungkinkan para murid membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Bekerja bersama-sama dengan orang lain. Sedangkan para guru dalam kelas-kelas ini bertugas menghubungkan hal-hal tersebut dengan minat, budaya, dan pengalaman belajar terdahulu para muridnya.

Bulach, Brown, and Potter (1998) menyatakan perilaku-perilaku yang perlu dikembangkan oleh para guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang peduli adalah:

1) Kemampuan untuk mengurangi kecemasan

2) Keinginan untuk mendengarkan

3) Menghargai perilaku-perilaku yang pantas

4) Menjadi seorang teman

5) Menggunakan kritikan positif dan negatif secara tepat

Harapannya adalah ketika kita mampu menunjukkan kepedulian kita pada murid di sekolah, maka anak-anak kita di sekolah akan mampu mengembangkan pengetahuan yang kokoh dan terpercaya tentang diri mereka, masyarakat mereka, dan dunia. Untuk mengembangkan pengetahuan yang terpercaya, mereka harus belajar dalam situasi hubungan-hubungan yang juga terpercaya. Mereka harus merasa aman untuk membagi pengetahuan yang mereka miliki sebagaimana mereka percaya pada hubungan segitiga yang terpercaya antara guru, murid dan orangtua. Dalam membangun kepercayaan pada diri sendiri maupun orang lain, mereka bertindak secara politis dengan membagikan dan menyembunyikan pengetahuan berdasarkan pemahaman-pemahaman mereka dalam hubungan-hubungan di dalam kelas. Mereka secara cerdas belajar dari dalam kelas mengapa sebuah sebuah hubungan terputus karena rusaknya sebuah kepercayaan yang sedang mereka bangun. Mereka belajar mengenali gangguan-gangguan hubungan seperti itu dengan mengamati perilaku-perilaku seperti tanggap-tidaknya seorang guru terhadap situasi-situasi yang muncul dalam kelas (Raider-Roth, 2005)

Berikut ini beberapa kiat praktis yang bisa dilakukan para guru di sekolah untuk menumbuhkankan kepedulian antara lain:

1. Secara aktif mendengarkan para murid

2. Melakukan kontak mata dengan para murid

3. Membantu para murid atas pekerjaan rumahnya

4. Menggunakan metode pengajaran yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individual setiap muridnya

5. Memberikan penjelasan-penjelasan yang jelas tentang penugasan-penugasan yang diberikan pada para murid

6. Mengecek dengan tujuan untuk memahami kemampuan murid

7. Menyediakan bahan-bahan yang diperlukan para murid

8. Memajang hasil karya para murid

9. Melakukan penyesuaian-penyesuaian jadwal bila diperlukan

10. Memelihara sebuah lingkungan belajar yang aman

11. Menerapkan manajemen kelas secara konsisten

12. Menghabiskan waktu di luar kelas dengan para murid

13. Bekerjasama dengan rekan kerja lainnya

14. Memanggil nama para murid ketika berhubungan dengan mereka

15. Menggunakan gaya komunikasi yang positif

16. Mengungkapkan harapan yang tinggi bagi semua muridnya

17. Meminta pendapat para murid

18. Mengenali para murid secara individual atas prestasinya di dalam maupun di luar kelas.

19. Melakukan komunikasi dengan para orangtua

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |8 Comments »

Mengenali Profesionalisme Guru

Mengenali Profesionalisme Guru

Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa guru yang profesional merupakan salah satu indikator penting dari sekolah berkualitas. Guru yang profesional akan sangat membantu proses pencapaian visi misi sekolah. Mengingat strategisnya peran yang dimiliki oleh seorang guru, usaha-usaha untuk mengenali dan mengembangkan profesionalisme guru menjadi sangat penting untuk dilakukan.

INTASC, sebuah organisasi yang didirikan sebagai respon terhadap meningkatnya kesadaran tentang pentingnya pengetahuan profesionalisme dalam pengajaran dan bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru-guru pemula, mengembangkan 10 prinsip penting profesionalisme guru, yaitu:

1. Penguasaan terhadap mata pelajaran yang diampu. Seorang guru seharusnya memahami konsep-konsep dasar, instrumen-instrumen untuk menguji, dan struktur-struktur dari mata pelajaran yang diajarkan, serta dapat menciptakan pengalaman-pengalaman belajar yang dapat membuat seluruh aspek mata pelajaran menjadi bermakna bagi para muridnya.

2. Penguasaan terhadap belajar dan perkembangan manusia. Para guru memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang, dan dapat menyediakan kesempatan-kesempatan belajar yang mendukung perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual mereka.

3. Penguasaan strategi pengajaran. Para guru memahami dan menggunakan strategi pengajaran yang bervariasi untuk mendorong perkembangan berpikir kritis, penyelesaian masalah, dan keterampilan-keterampilan penting murid-muridnya.

4. Adaptasi strategi pengajaran. Para guru memahami bagaimana para siswa berbeda dalam pendekatan-pendekatannya ketika belajar sehingga mereka menciptakan strategi-strategi pengajaran yang sesuai dengan keragaman siswanya.

5. Motivasi dan manajemen. Para guru menggunakan pemahaman perilaku dan motivasi individu maupun kelompok untuk menciptakan sebuah lingkungan belajar yang mendorong interaksi sosial yang positif, keterlibatan yang aktif dalam belajar, dan motivasi diri.

6. Keterampilan komunikasi. Para guru menggunakan komunikasi verbal, nonverbal, dan media yang efektif untuk mengembangkan penyelidikan, kolaborasi, dan interaksi yang saling mendukung di dalam kelas.

7. Perencanaan. Para guru merencanakan pengajaran berdasarkan pengetahuan mereka tentang mata pelajaran, murid, komunitas, dan tujuan-tujuan kurikulum.

8. Asesmen. Para guru memahami dan menggunakan strategi-strategi asesmen yang formal maupun informal untuk mengevaluasi dan memastikan perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual para murid.

9. Komitmen. Guru adalah seorang praktisi yang selalu merefleksikan dan mengevaluasi secara terus menerus pengaruh-pengaruh dari pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya terhadap orang lain (murid, orangtua, dan profesional lain dalam komunitas pembelajaran), dan selalu aktif mencari kesempatan-kesempatan menumbuhkan profesionalismenya.

Kemitraan. Para guru mengembangkan hubungan-hubungan dengan rekan profesi, orangtua, dan pihak-pihak lain dalam komunitas yang lebih luas untuk mendukung belajar dan kesejahteraan murid-muridnya.

Published in:Ummat Development |on August 22nd, 2008 |3 Comments »

Perkembangan Anak

Perkembangan Anak

Alhamdulillah pada edisi-edisi sebelumnya kita sudah mencoba mengeksplorasi sejumlah keterampilan penting dalam pengasuhan yang mudah-mudahan membantu kita menjadi orangtua yang lebih baik dalam mengemban amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita, yaitu membantu anak-anak kita berbakti kepada Allah SWT. Anak-anak yang kelak kita banggakan di hadapan Allah SWT.

Rasulullah SAW menempatkan ilmu sebagai prasyarat penting jika kita berkendak sukses hidup di dunia dan akhirat. Termasuk di sini menurut hemat penulis kesuksesan kita menjalankan tugas mengemban amanah sebagai orangtua. Rasulullah SAW bersabda "Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah ia berilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah ia berilmu dan barangsiapa yang menginginkan dunia dan akhirat maka hendaklah ia berilmu."

Pada edisi-edisi yang akan datang insyaallah kita akan mengeksplorasi lebih jauh mengapa kita sebagai orangtua atau pihak-pihak yang berhubungan dengan anak-anak perlu memahami dengan baik dan benar siapa anak , bagaimana anak, dan mengapa anak berpikir, berperasaan, bersikap, dan berperilaku demikian. Pemahaman yang baik dan benar tentang perkembangan anak akan sangat membantu kita dalam menanggapi secara tepat perubahan-perubahan yang memang akan terus menerus terjadi pada anak kita. Perubahan-perubahan yang seringkali membuat kita tergagap dan menanggapinya secara reaktif dan tidak tepat karena ketidaktahuan kita tentang perkembangan anak.

Sebagai contoh, saya pernah dibuat terhenyak oleh pertanyaan yang diajukan anak kami paling besar dalam perjalanan mengantar anak ke sekolah. Waktu itu Aulia Rahma Amalia Ridwan, demikian nama lengkap anak kami yang paling besar, menanyakan kepada saya,”Ayah, Allah itu warnanya apa?” Saya terdiam beberapa saat dan kebingungan harus menjawab bagaimana. Kalau saya jawab warna tertentu, saya membohonginya. Sebenarnya saya bisa saja langsung menanggapi pertanyaan Aulia dengan mengatakan,” Aulia, ndak boleh bertanya hal-hal seperti itu”, atau “Allah SWT itu tidak dapat diserupakan dengan apapun (biar lebih mantap jawabannya saya pakai bahasa arab “ Laisa kamislihi syai’un). Alhamdulillah saat itu saya dengan tenang menanggapi pertanyaan Aulia dengan balik bertanya, “ Menurut Aulia, Allah SWT itu warnanya apa?” Aulia menjawab,” Merah, yah!” Saya terus kejar dengan bertanya lebih lanjut,” Lho, kok Allah SWT warnanya merah?” Dengan enteng Aulia menjawab,” Soalnya aku suka warna merah, yah!”

Seperti itulah anak-anak usia prasekolah berpikir, kata Jean Piaget, tokoh psikologi yang meneliti secara meluas dan mendalam tentang bagaimana proses berpikir yang terjadi sejak bayi sampai anak usia sekolah. Salah satu ciri yang menonjol dalam proses berpikir anak-anak usia prasekolah adalah bahwa semua yang ada di dunia ini, baik benda maupun yang tidak tampak, memiliki kualitas/karakteristik seperti halnya kehidupan manusia. Jean Piaget (Santrock, 1999) mencontohkan bahwa anak-anak usia prasekolah seringkali mengatakan, “Pohon itu mendorong daunnya dan daunnya jatuh” atau “Trotoar itu membuatku gila; Trotoar itu membuatku terjatuh.”

Selain itu, ciri lain yang menonjol dalam berpikir anak-anak prasekolah adalah ketidakmampuan seorang anak-anak usia prasekolah untuk membedakan sudut pandang dirinya dengan sudut pandang orang lain. Belum mampunya anak-anak prasekolah melakukan demikian, disebut Jean Piaget sebagai egosentrisme, menyebabkan mereka belum mampu untuk memahami bahwa orang lain itu, bisa teman-temannya, saudaranya, orangtuanya atau yang lainnya, memiliki keinginan, pikiran, dan perasaan yang berbeda dengan dirinya. Menjadi sangat mahfum bagi kita mengapa anak-anak usia prasekolah sering bertengkar dan berebut mainan bersama temannya, tidak mau mengalah dan ingin menang sendiri.

Memperhatikan sedikit contoh tentang ciri-ciri berpikir anak usia prasekolah tersebut, menjadi tantangan sekaligus ladang amal yang sangat luas bagi kita orangtua untuk terus menerus belajar bagaimana memberikan sikap dan perlakuan terbaik terhadap perkembangan anak-anak kita. Demikian

Published in:Parenting |on August 22nd, 2008 |No Comments »