Bagaimana Membesarkan Hati Anak?

Alhamdulillahirobbil'aalamiin. Membesarkan hati anak-anak bukan semata menunjukkan kehangatan dan penerimaan, tetapi juga membantu mereka belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Membesarkan hati membantu mereka untuk percaya pada diri mereka dan pada kemampuan yang mereka miliki. Sebagai contoh, seorang yang anak menjawab salah pada 5 soal dari 25 soal yang dia kerjakan. Orangtua yang membesarkan hati akan memberikan penekanan pada 20 soal yang dijawab benar oleh anaknya daripada 5 jawaban yang salah. Dengan memberi penekanan pada yang positif, orangtua memberi anaknya umpanbalik bahwa dia oke. Penerimaan menumbuhkan perasaan berharga dalam diri anak.

Pendekatan membesarkan hati juga penting bagi para orangtua yang terbiasa mematahkan semangat anak. Kita mematahkan semangat anak ketika menetapkan standar tinggi yang tidak masuk akal, seperti mengharapkan anak-anak untuk mengerjakan dengan baik dalam semua usaha atau mengharapkan kamar mereka selalu rapi. Kita juga mengecilkan hati anak ketika kita mempromosikan kompetisi di antara anak-anak laki dan anak perempuan kita atau kita menggunakan standar ganda ketika kita mengharapkan kebersihan ruangan pada satu anak, sementara pada anak lainnya tidak.

Membesarkan hati artinya menekankan pada hal yang positif. Menggunakan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan penerimaan dan mengakui usaha-usaha dan pencapaian-pencapaian anak, seperti,"Ayah suka cara Mbak Lia menangani masalah tersebut!","Ibu senang Hasany dan Rasikh menikmati kegiatan tadi!","Tampaknya Kak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh menikmati perjalanan liburan  ke rumah kakek-nenek di Ciamis!

Membesarkan hati juga melibatkan penggunaan komunikasi dan ungkapan yang menunjukkan kepercayaan orangtua terhadap anak-anak, misalnya,"Tahu Kak Lia yang terpilih, ayah percaya semua akan berjalan sebagaimana yang direncanakan!","Mas Hasany dan Mas Rasikh pasti bisa membuatnya!", "Ibu percaya pada keputusan yang Kak Lia ambil.","Ini tampaknya sulit, tapi Ibu percaya kalian bisa mencari jalan keluarnya!"

Membesarkan hati juga menekankan pada kontribusi yang dibuat anak dan menunjukkan apresiasi terhadap anak melalui pernyataan-pernyataan seperti,"Terima kasih Mbak Lia sayang, ibu sangat terbantu!","Kak Hasany baik hati mau berbagi mainannya sama Dek Rasikh!","Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh sayang, terima kasih, ayah dan ibu benar-benar menghargai kesediaan kalian untuk tinggal bersama kakek-nenek sementara waktu karena itu membuat tugas ayah dan ibu jadi lebih mudah.","Ibu membutuhkan bantuan Kak Lia untuk membersihkan halaman depan rumah!"

Bagian terpenting dari membesarkan hati adalah mengakui usaha-usaha dan kemajuan-kemajuan yang ditunjukkan anak melalui ungkapan-ungkapan seperti,"Ayah lihat Kak Hasany benar-benar bekerja keras membuat istana pasir!","Ibu perhatikan Mas Rasikh menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan jalan keluar dari persoalan ini!","Lihat kemajuan yang sudah Kak Lia buat!","Kak Lia mungkin merasa belum mencapai apa yang diimpikan, tapi coba lihat seberapa jauh Kak Lia sudah melangkah!"

Alasan utama menggunakan pendekatan ini (membesarkan hati anak) adalah untuk menunjukkan kepercayaan orangtua terhadap anak-anak agar mereka percaya pada diri mereka sendiri, menerima diri mereka apa adanya, menekankan aspek positif dari perilaku mereka sendiri, mengakui usaha-usaha dan kemajuan-kemajuan yang mereka tunjukkan, dan memperlihatkan apresiasi terhadap kontribusi yang mereka buat.

Alhamdulillahirobbil'aalamiin.

Published in: |on September 10th, 2011 |10 Comments »

Tetangga dan Perkembangan Anak

Setiap keluarga tinggal dalam sebuah lingkungan tertentu dengan ciri-ciri fisik dan sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Bentuk dan kondisi perumahan, halaman, jalan, fasilitas umum dan rekreasional dalam sebuah lingkungan ketetanggaan memiliki pengaruh terhadap kegiatan-kegiatan dilakukan anak-anak dan kesempatan-kesempatan perkembangan anak-anak. Sebagai contoh, ketersediaan taman-taman dan tempat-tempat bermain yang aman dapat meningkatkan kegiatan-kegiatan fisik anak. Kegiatan-kegiatan fisik secara teratur pada masa anak-anak dapat memperluas jangkauan perkembangan, mempengaruhi kebugaran, kesehatan, dan emosi.

Bahkan lebih penting lagi, anak-anak juga dipengaruhi oleh orang-orang yang menjadi tetangga dan oleh kondisi sosial ekonomi yang lebih luas. Aber (1994) dan Brooks-Gunn dkk (1993) menemukan bukti bahwa lingkungan tetangga itu sendiri memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak-anak, yang dapat dipisahkan dari pengaruh keluarga pada satu sisi dan kondisi sosial ekonomi pada sisi lainnya.

Sebagai contoh, Brooks-Gunn dkk (1993) menemukan bahwa memiliki tetangga yang kaya/sejahtera berhubungan dengan perkembangan positif anak, baik pada masa anak-anak maupun masa remaja, tidak perduli bagaimana tingkat penghasilan keluarganya. Sebaliknya, Grane (1991) menemukan bahwa para remaja yang tumbuh dalam lingkungan ketetanggaan di mana hanya sedikit tetangga yang kaya/sejahtera dengan status pekerjaan yang tinggi, memiliki resiko tinggi untuk mengalami kehamilan dan dikeluarkan dari sekolah.

Penelitian-penelitian di atas menunjukkan bahwa ketetanggaan memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak-anak dan remaja melalui cara sosialisasi kolektif. Para orang dewasa yang berada di lingkungan tetangga menyediakan contoh peran dan pengawasan terhadap anak-anak dan remaja yang ada di sekitar mereka. Jencks dan Mayer (1990) memberi contoh sejumlah orang dewasa mungkin bertindak sebagai penegak aturan, mengawasi perilaku anak-anak dan remaja, dan memelihara ketertiban. Jaringan sosial yang berbentuk dalam ketetanggaan dapat menyediakan dukungan–dukungan maupun kemudah-kemudahan mendapatkan layanan atas berbagai fasilitas seperti pekerjaan bagi para remaja. Aber (1994) menemukan bahwa tetangga-tetangga yang kaya menurunkan resiko remaja mengalami akibat buruk karena mereka mampu menolong para remaja dengan cara-cara praktis, misalnya bimbingan kerja.

Dengan demikian tetangga kita dapat memainkan peran penting terhadap perkembangan anak-anak dan remaja kita. Sejumlah penelitian, misalnya Sampson dkk (1997), Leventhal dan Brooks-Gunn (2000), Keating dan Hertzmann (1999), menemukan bahwa selain pengaruh individu dan keluarga, tingkat pendapatan tetangga pada masa anak-anak dapat mempengaruhi kesehatan, prestasi sekolah dan prestasi seorang anak di masa yang akan datang.

Jencks dan Mayer (1990) menemukan anak-anak yang saling bertetangga juga mempengaruhi satu sama lain. Sebagai contoh, sejumlah anak mendapatkan keuntungan perkembangan melalui pertemuan-pertemuan dan interaksi-interaksi dengan teman-teman sebaya yang memiliki keterampilan-keterampilan bahasa dan berpikir yang kuat. Klub baca dekat rumah, taman bermain dan taman dapat mendorong pertemuan-pertemua dan interaksi-interaksi semacam ini.

Selain itu ketetanggaan juga berpengaruh terhadap dinamika perkembangan sebuah keluarga. Keluarga yang tinggal di lingkungan ketetanggaan dengan rasa keterlibatan, kepercayaan, dan rasa memiliki yang kuat di antara para tetangga terbukti memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan anak dan bahkan memperbaiki sejumlah dampak buruk dari perilaku pengasuhan (Jencks dan Mayer,1990; Fursternberg, 1993; Silk dkk, 2004). Lingkungan tetangga yang memiliki ikatan kebersamaan sangat kuat tampaknya dapat menyeimbangkan kembali permasalahan-permasalahan sebuah keluarga (seperti stress atau permusuhan orangtua, ketidakstabilan keluarga) dengan menyediakan kemudahan anak-anak mendapatkan layanan dan dukungan sosial (Jencks dan Mayer,1990).

Penyebab-penyebab stress sosial ekonomi yang ada di lingkungan tetangga juga berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak-anak. Sebagai contoh, penelitian Chase-Lansdale dan Gordon (1996) menemukan permasalahan-permasalahan perilaku anak tetangga berhubungan dengan tingkat pengangguran laki-laki di lingkungan tersebut. Penelitian Caughy dkk (2008) juga menemukan bahwa tingginya kecemasan, depresi, dan menarik diri secara emosi pada masa anak-anak dipengaruhi oleh penyebab-penyebab sosial dari stress seperti transaksi obat-obatan dan geng.

Published in: |on February 28th, 2010 |6 Comments »

Pendidikan Pengasuhan

Pendidikan pengasuhan, menurut Harman and Brim (1980), merupakan sebuah usaha yang terorganisasi dengan isi, target populasi, dan tujuan yang jelas yaitu meningkatkan atau mengubah performansi pengasuhan. Pendidikan pengasuhan merupakan usaha-usaha pendidikan yang bertujuan meningkatkan atau memfasilitasi perilaku-perilaku orangtua yang pada akhirnya berpengaruh positif terhadap perkembangan anak-anak mereka. Pendidikan pengasuhan didasarkan pada prinsip bahwa pengasuhan merupakan pekerjaan yang kompleks, sulit sekaligus menjanjikan kepuasan, dan karenanya pendidikan dapat membantu para orangtua melakukan tugas-tugas pengasuhannya dengan lebih efektif.

Einzig (1996) mendefinisikan pendidikan pengasuhan sebagai serangkaian program pengajaran dan pendukung yang memfokuskan pada keterampilan-keterampilan, perasaan-perasaan, dan tugas-tugas sebagai orangtua. Pendidikan pengasuhan mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang memberikan para orangtua pengetahuan dan pemahaman tambahan. Pendidikan pengasuhan, menurut Hammer and Turner (1985) dapat mempengaruhi secara positif kepuasan dan keberfungsian keluarga dengan mengkomunikasikan pengetahuan tentang perkembangan anak dan hubungan-hubungan yang meningkatkan kesepahaman, menyediakan alternatif model-model pengasuhan sehingga orangtua memiliki pilihan-pilihan luas, mengajari keterampilan-keterampilan pengasuhan yang baru, dan memfasilitasi akses terhadap layanan-layanan komunitas .

Einzig (1996) melakukan ulasan terhadap pendidikan pengasuhan di Inggris dan mencatat bahwa pendidikan pengasuhan bersifat multifaset dan universal. Pendidikan pengasuhan di Inggris, meskipun berbeda-beda dalam tujuannya, seringkali memiliki kesamaan komponen-komponennya dengan program pengasuhan yang lebih modern. Termasuk di dalamnya adalah meningkatkan konfidensi para orangtua dalam peran-peran mereka sebagai orangtua, menekankan pentingnya keterampilan-keterampilan pengasuhan dimaksimalkan, mengakui keunikan-keunikan atau temperamen setiap anak, mengijinkan para orangtua untuk mengeksplorasi pengasuhan yang mereka miliki dengan para orangtua lainnya, dan mendorong para orangtua untuk mempertimbangkan praktek-praktek pengasuhan yang berbeda yang mungkin dapat meningkatkan efektivitas pengasuhan mereka.

Pendidikan pengasuhan berbeda dari pendekatan-pendekatan klinis atau konseling untuk membantu para orangtua dalam hal fokus pada membangun kekuatan-kekuatan dalam agar mampu melakukan prevensi permasalahan-permasalahan selanjutnya. Pendidikan pengasuhan dan pendekatan-pendekatan klinis mungkin menggunakan teknik-teknik dan bentuk-bentuk program yang sama, sebagai contoh, pelatihan keterampilan manajemen perilaku (Dangel and Polster, 1984) atau pelatihan komunikasi (Gordon, 1975). Meskipun demikian, pendidikan pengasuhan berbeda dari terapi dalam penekanannya pada isu-isu perkembangan dan keluarga daripada psikopatologi.

Pendidikan pengasuhan merupakan sebuah strategi yang dalam kontek lebih luas sebagai layanan-layanan pendukung yang dapat ditawarkan pada keluarga-keluarga dan dalam banyak kasus terintegrasi dengan layanan tersebut. Weissbourd and Kagan (1994) mencatat di Amerika Serikat keluarga-keluarga membutuhkan dukungan dan program dukungan keluarga memandang pendidikan pengasuhan sebagai salah satu komponen dari layanan tersebut. Program layanan ini sangat dipengaruhi oleh model ekologis Bronfenbrenner (1986). Program-program dukungan keluarga ini meyakini bahwa keluarga merupakan sistem yang kompleks dan masing-masing berfungsi sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar.

Dunst (1995) mendefinisikan program dukungan keluarga sebagai menempatkan penekanan utama pada penguatan individu dan keberfungsian keluarga dalam cara-cara yang membuat setiap orang dalam keluarga mampu untuk bertindak dalam cara-cara mereka sendiri, dan terutama usaha-usaha untuk memperkuat dan mendukung kompetensi-kompetensi pengasuhan anak. Penekanan ini tercermin dalam kehati-hatian pemilihan istilah seperti enhance, promote, nurture dan enable untuk menggambarkan proses-proses dari usaha-usaha yang ada dalam program dan istilah-istilah seperti strengthen dan empower untuk menggambarkan dampak dari usaha-usaha tersebut” (Pew Charitable Trust, 1996).

Tidak ada model tunggal dalam pendidikan pengasuhan. Pendidikan pengasuhan melibatkan serangkaian strategi yang luas, termasuk di dalamnya buku saku dan manual; seri television, video, dan audio; kelas-kelas perkembangan anak dan pengasuhan berbasis kelompok; dan kombinasi dari strategi-strategi tersebut di atas. Pendidikan pengasuhan dimungkinkan dirancang sebagai program di mana semua orangtua memiliki akses atau kelompok-kelompok orangtua tertentu yang teridentifikasi memiliki resiko.

Published in: |on February 21st, 2010 |6 Comments »

Menjadi Anak-anak Unggul Melalui Hidup Berjamaah

Potensi kehidupan berjamaah untuk menumbuhkembangkan keunggulan anak-anak kita sejak dini dapat kita ambil dari anjuran Rasulullah Muhammad Shallallaahu’Alaihi Wasallam untuk berteman dengan orang-orang shalih. Duduk dan berdekatan dengan orang-orang shalih akan menularkan kebaikan. Bersanding dengan penjual minyak wangi, akan terimbas wanginya. Sebaliknya, duduk dan berdekatan dengan orang-orang yang tidak baik, maka bisa tertular keburukan. Bersanding dengan tukang las, bisa-bisa terbakar, atau terkena pekatnya asap.

Anak-anak kita terlahir dengan sebuah dorongan sosial. Alfred Adler (Dreikurs, 1989), pendiri Psikologi Individual, menegaskan bahwa setiap anak terlahir dengan sebuah minat sosial—ketertarikan pada orang lain—dan memiliki keunikan. Anak-anak terlahir dengan sebuah kebutuhan untuk terikat pada komunitas manusia, untuk bergerak maju, untuk berhasil dalam menyelesaikan tujuan hidup mereka, dan untuk merasa aman di dunia.

Anak-anak belajar hal-hal penting dalam hidup dari orang lain. Sebagai orangtua, kita adalah guru mereka yang paling penting. Kita adalah lukisan kehidupan jamaah pertama dan paling berpengaruh bagi mereka. Kita sedang dan akan selalu mengajari hal-hal penting dalam hidup melalui contoh yang kita tunjukkan sendiri. Anak-anak menyaksikan secara seksama, menunjukkan ketertarikan bagaimana perilaku kita berhubungan dengan mereka, dengan teman-teman kita, dengan saudara-saudara kita, dan dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Anak-anak kita seringkali akan meniru begitu saja apa yang kita katakan dan kerjakan.

Bayi-bayi mulai menanggapi orang-orang penting dalam hidupnya sejak jam-jam pertama dalam kehidupannya. Mereka dengan cepat belajar untuk menarik perhatian orang-orang dewasa dengan senyuman, ocehan, dan gerakan. Meskipun mereka menunjukkan ketertarikan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, mereka belum menyadari akan perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang-orang tersebut. Menurut pandangan mereka, setiap orang dan segala sesuatu yang ada bertugas untuk memuaskan setiap keinginan mereka. Seiring waktu, mereka akan menemukan bahwa perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang lain mungkin bertentangan dengan atau berbeda dari yang mereka miliki.

Anak-anak batita menginginkan apa pun yang mereka lihat, tetapi mereka harus belajar untuk menghargai hak milik orang lain. Kadang-kadang mereka mengalami kesulitan untuk memahami tindakan-tindakan anak-anak yang lain dan mempertimbangkan perasaan-perasaan orang lain. Karena kenikmatan yang mereka rasakan bersama-sama dengan orang lain dan kebutuhan mereka untuk diterima dan dicintai, anak-anak belajar pentingnya kehidupan berjamaah. Kehidupan berjamaah yang biasa diikuti orangtua, misalnya, akan mempermudah proses anak-anak batita yang mulai belajar berbagi dengan orang lain, untuk menunggu giliran orang lain, dan untuk mengungkapkan kemarahan dalam cara-cara yang tepat.

Anak-anak prasekolah dapat bekerja bersama-sama dengan orang lain dan menjadi lebih selektif terhadap teman-teman mereka. Mereka secara bertahap belajar untuk bermain dengan anak-anak lain dan berteman dengan anak-anak tersebut. Mereka belajar untuk memahami konsep berbagi dan menunggu giliran dan mulai menggunakan kata-kata daripada kekuatan fisik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan melindungi kepemilikan mereka. Mereka belajar untuk “membaca perasaan-perasan orang lain”, berpura-pura menjadi orang lain dan menjadi lebih perhatian terhadap orang lain. Mereka menjadi lebih mampu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan mereka dan berhubungan baik dengan orang lain.

Kita dapat membantu anak-anak dengan memperluas lingkaran pertemanan mereka. Mengajak anak-anak untuk menghadiri kegiatan jamaah yang biasa diikuti orangtua akan memberi anak-anak prasekolah pengalaman-pengalaman sukses berhubungan dengan orang-orang dewasa dan anak-anak yang beragam dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mereka seharusnya bertindak dan mengapa demikian. Kehidupan berjamaah akan menyediakan kesempatan bagi anak-anak kita untuk belajar bagaimana sukses berhubungan dengan orang lain—harapannya tentu bukan hanya kesuksesan di dunia tetapi juga insyaallah kesuksesan di akhirat.

Sebagai contoh, kehidupan berjamaah menyediakan pengalaman-pengalaman penting yang sangat diperlukan untuk menjadi anggota yang efektif dari sebuah kelompok—keluarga, tetangga, sekolah, kerja, atau komunitas organisasi: memperlihatkan ketertarikan kepada orang lain, memberi dan menerima, menyatakan kebutuhan-kebutuhan dan hak-hak dalam cara-cara yang tepat, menunjukkan perhatian dan simpati, dan berkomunikasi efektif.

Lebih dari itu, melalui setiap perjumpaan dalam kehidupan berjamaah, anak-anak kita memperluas pemahaman dan keyakinan mereka tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Dengan hidup bersama jama’ah, mudah-mudahan kita dan anak-anak kita terhindar dari kerugian sebagaimana yang ditegaskan Allah Ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al Ashr. Kehidupan berjamaah memungkinan kita pertama meningkatkan dan memelihara keimanan, kedua beramal shalih meningkat dan terpelihara, ketiga saling menasihati dalam kebenaran, dan keempat saling menasihati dalam kesabaran.

Meminjam ungkapan dari Hugh Prather dalam Catatan tentang Cinta dan Keberanian, kehidupan berjamaah memproses anak-anak kita menjadi manusia unggul. ”We need Jama’ah, not in order to stay alive, but to be fully human”.

Published in: |on February 11th, 2010 |4 Comments »

Memahami Pengasuhan Anak

Dalam mempelajari teori-teori klasik tentang hubungan orangtua-anak, penganut paham perilaku seperti Watson (1928) mempercayai bahwa anak-anak dapat dipengaruhi lingkungan mereka, termasuk orangtua mereka yang, dapat mengubah anak-anak mereka menjadi apa pun yang diinginkan orangtua mereka. Anak-anak dipandang seperti papan tulis kosong dan para ahli akan mengajarkan kepada para orangtua bagaimana sebaiknya mengasuh anak-anak mereka. Hanya terdapat sedikit ruang yang tersedia bagi pengaruh anak-anak terhadap perkembangan mereka sendiri atau bagi pemikiran dan pengalaman orangtua mereka. Bagi Watson, apa yang ada dalam pikiran anak-anak atau orang dewasa secara ilmiah tidak diakui dan karenanya tidaklah penting.

Freud (1936) mempercayai bahwa orangtua (biasanya ibu) memiliki tanggung jawab utama untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikoseksual anak-anak mereka dan bertanggung jawab terhadap perkembangan mereka. Pemikiran Freud merupakan sebuah model pengasuhan satu arah dan banyak berpengaruh terhadap program-program pengasuhan awal yang berkembang. Para penganut psikoanalisa memfokuskan pada bagaimana para orangtua yang belum memenuhi kebutuhan emosional mereka sendiri sebagai seorang anak dan bagaimana kekurangan-kekurangan ini akan berpengaruh negatif terhadap anak-anak mereka.

Deutsch (1945) meyakini bahwa perempuan-perempuan yang sehat tidak membutuhkan bantuan untuk belajar bagaimana menjadi orangtua, karena mereka seharusnya sudah tahu itu secara instingtif. Benedek (1970) mempercayai bahwa selain insting, bagaimana seseorang diasuh, apa yang dipelajari seseorang dari pengasuhan tersebut, dan bagaimana pengasuhan dilakukan menjadi faktor yang penting. Ketika sedang mengasuh, para orangtua seharusnya bisa merefleksikan hubungan yang mereka miliki dengan orangtua mereka sendiri, mempertimbangkan bagaimana hubungan orangtua-anak yang mereka miliki sendiri saat ini berlangsung, dan menggunakan informasi tersebut untuk mengembangkan identitas keorangtuaan mereka yang sedang berubah. Kepercayaan diri orangtua dalam pengasuhan tergantung pada keberhasilan mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak mereka. Hubungan dua arah yang saling mempengaruhi antara orangtua dan anak menjadi penting.

Adler (Dreikurs, 1989) memisahkan diri dari Freud dan memfokuskan bukan pada pada konflik-konflik dan dorongan-dorongan internal tetapi pada dimensi interpersonal. Adler, pendiri Psikologi Individual, meyakini bahwa setiap anak terlahir unik dan dengan sebuah minat sosial pada orang lain. Adler merasa bahwa anak-anak terlahir dengan sebuah kebutuhan untuk terikat pada komunitas manusia, untuk bergerak maju, untuk berhasil dalam menyelesaikan tujuan hidup mereka, dan untuk merasa aman di dunia. Adler kurang fokus pada masa lalu seseorang seperti halnya Freud dan lebih pada perilaku mereka yang bertujuan. Adler tidak percaya anak-anak seperti papan tulis kosong dan banyak memfokuskan diri pada sikap-sikap atau pandangan-pandangan yang mungkin dimiliki sesorang terhadap setiap masukan lingkungan yang mereka terima. Adler merasa anak-anak perlu diperlakukan dengan hormat dan diberikan dorongan dalam sebuah lingkungan demokratis. Tulisan-tulisan Adler ditujukan untuk masyarakat awam dan teori-teorinya terkonfirmasikan dalam banyak program pendidikan orangtua sekarang ini.

Sementara itu, pakar genetika perilaku Gessel (1946; Thelan & Adolf, 1992) menyatakan bahwa arah perkembangan ada dalam diri anak dan peran orangtua hanyalah mendukung  predisposi bawaan anak-anak mereka, dan menyediakan sebuah lingkungan yang tepat menurut tingkat maturasi anak. Para orangtua dibutuhkan untuk menyediakan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Gessel tidak memfokuskan pada pikiran orangtua tentang peran mereka dan pemahaman-pemahaman mereka terkait bagaimana membantu seorang anak yang memiliki kekhususan. Anak-anak akan berkembang jika orangtua membiarkan anak-anak mereka tanpa melakukan intervensi.

Meskipun demikian, pemikiran yang mendominasi era tersebut adalah mana yang lebih penting, apakah faktor lingkungan, sebagaimana yang dinyatakan Watson atau hereditas sebagaimana yang dipikirkan oleh ahli genetika perilaku. Perdebatan genetika versus lingkungan terus berlanjut. Sebuah keuntungan dari perdebatan ini adalah para peneliti yang memfokuskan pentingnya lingkungan dalam perkembangan anak lebih berhati-hati untuk mempertimbangkan pengaruh genetika dan para peneliti sosialisasi (Maccoby, 2000) melanjutkan untuk membuat sebuah kasus genetika yang kuat bahwa lingkungan mempengaruhi perkembangan anak bahkan sebelum lahir di dalam rahim (Williams, 1998). Bahaya memfokuskan hanya pada hereditas adalah para orangtua mungkin berpikir bahwa usaha-usaha mereka untuk mempengaruhi anak-anak mereka secara positif tidak berguna. Mengabaikan genetika dalam kasus gender juga telah menyebabkan banyak gangguan dan kesalahan perlakuan dalam keluarga.

Sutherland (1983) menemukan bahwa banyak orangtua yang dia teliti berada dalam keadaan transisi terkait cara mereka memandang kebutuhan anak-anak mereka dan peran orangtua. Banyak ibu-ibu Amerika keturunan Meksiko yang dia teliti berada dalam transisi antara model Gessel, yang memfokuskan pada perkembangan yang terjadi secara alamiah, menuju sebuah kultur Amerika, di mana para orangtua umumnya lebih aktif daripada Ibu-ibu Meksiko tradisional dalam pemikiran tentang dan penentu perkembangan seorang anak. Lareau (2003) melaporkan bahwa banyak keluarga kelas pekerja di Amerika Serikat juga cenderung untuk mempercayai pada ”pencapaian perkembangan secara alamiah” sepanjang kenyaman dasar, makanan, dan tempat tinggal disediakan oleh pengasuh. Keyakinan ini berpengaruh terhadap bagaimana cara orangtua melihat peran yang mereka miliki terkait harapan sekolah. Sebaliknya, Lareau menggambarkan orangtua kelas menengah lebih memfokuskan diri pada ”budidaya terpadu” di mana peran mereka adalah melakukan apa pun untuk perkembangan lebih lanjut anak-anak mereka. Pendekatan ini lebih banyak kecocokannya dengan sekolah-sekolah Amerika Serikat yang terstruktur daripada perspektif pertumbuhan alamaiah.

Published in: |on February 3rd, 2010 |8 Comments »

MENDENGARKAN UNTUK MEMAHAMI ANAK

Ketika anak-anak berbicara, mereka tidak selalu mengatakan sesuatu dalam cara-cara yang sama seperti halnya orang-orang dewasa. Jika kita ambil semua kata-kata yang mereka sampaikan, kita kemungkinan beresiko salah memahami apa yang sedang dikatakan mereka. Untuk mencegah kesalahpahaman semacam ini, kita bisa menyatakan kembali dalam kata-kata kita sendiri apa yang kita pikir mereka ingin mengatakannya. Berusaha menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang bersifat menghakimi atau melakukan sejumlah usaha untuk mendisiplinkan mereka. Dengan cara-cara seperti ini, kita akan bisa  memastikan bahwa kita memahami inti apa yang sedang coba mereka ampaikan.

Sebagai contoh, ketika anak kami yang paling besar di suatu sore mengatakan,”Kadang-kadang aku benci sama Hasany” ada dorongan yang kuat untuk segera untuk menegur dia dari mengatakan seperti itu dan mengatakan padanya bahwa kami tidak bisa menerima komentar-komentar seperti itu. Yang perlu kita lakukan adalah pertama, kita menerima terlebih dahulu apa yang mereka katakan. Jangan  tergoda untuk segera menegurnya atas apa yang dia katakan atau cara dia mengatakannya. Kita bisa mengatakan sesuatu padanya seperti,” Sungguh?” atau ”Aulia benar-benar membeci Hasany?”dan kemudian tenang. Dengan melakukan seperti ini kita memberinya kesempatan untuk berbicara apa yang dia rasakan saat-saat tertentu tentang saudara laki-lakinya tersebut. Tanggapan seperti ini sangat sangat menolong kita terhindar dari kesalahpahaman terhadap dia dan membantu dia merasa nyaman untuk mengungkap lebih jauh apa-apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Jika dia tidak  ingin melanjutkan percakapannya, kita bisa meninggalkan dia sendirian. Menjadi tidak mengherankan  jika suatu saat kita mendapati perilaku  dia terhadap saudara laki-lakinya telah berubah  menjadi lebih baik  daripada sebelum percakapan, karena dia merasa didengarkan , meskipun perilaku saudara laki-lakinya tersebut tidak berubah.

Contoh lainnya, ketika kita sedang mengantar anak-anak untuk latihan sepakbola dan mereka mengatakan bahwa sebenarnya mereka tidak pernah ingin untuk berlatih sepakbola lagi, kita mungkin, seperti kebanyakan orangtua, segera merasa tersinggung dan mempertahankan pentingnya latihan sepakbola. Kita mungkin akan mengatakan betapa menyenangkan sepakbola itu, bagaimana anak sahabat terbaik kita terpilih dalam tim sepakbola nasional, atau betapa asyiknya jalan-jalan dan mendapatkan udara segar. Alih-alih menanggapi segera perlunya latihan sepakbola, nyatakan kembali saja apa yang dikatakan anak Anda,”Kedengarannya kalian tidak ingin pergi untuk latihan sepakbola hari ini.” Mereka mungkin mengatakan, ”Ya benar, kami tidak ingin pergi untuk berlatih sepakbola hari ini,” dan dalam banyak kejadian, percakapan biasanya berhenti di sini. Perjalanan tetap dilanjutkan untuk tetap pergi berlatih sepakbola.  Hal ini penting sebagai persiapan yang baik untuk menjadi orang dewasa yang sukses: menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada mereka sebaik mungkin meskipun mereka tidak menyukainya.

Menanggapi setiap komentar yang dibuat anak Anda sungguh tidaklah perlu. Sebagaimana halnya kita, sebagai orang dewasa, kadang-kadang melampiaskan perasaan dengan mengatakan hari yang melelahkan atau berada dalam minggu yang sulit, anak-anak tidak perlu mencari orangtua mereka untuk menanggapi setiap pernyataan yang mereka buat. Berbagi perasaan-perasaan mereka dengan orang dewasa yang mendengarkan tanpa menghakimi atau ”langsung menyimpulkan” memberi mereka peluang untuk merasa didengarkan. Seringkali kita semua merasa senang melampiaskan perasaan-perasaan kita tanpa dinasehati, dipertanyakan, dihakimi, atau bahkan dihibur. Jika selama waktu sunyi kita dapat mendisiplinkan diri kita sendiri untuk mendengarkan anak-anak berbicara tanpa menanggapinya setiap saat, maka insyaallah kita akan mampu untuk mengatakan dengan lebih mendalam, apakah mereka menyebutkan hal yang sama beberapa kali, kapan sebuah topik pembicaraan mereka sukai dan kapan itu hanya sebuah komentar yang berlalu begitu saja.

Published in: |on October 20th, 2009 |5 Comments »

MENDENGARKAN ANAK BERBICARA

Kebanyakan orang akan sepakat bahwa kepuasan komunikasi terjadi ketika orang yang yang  kita anggap penting dalam kehidupan kita mendengarkan kita dan mencoba untuk memahami apa yang sedang kita sampaikan. Anak-anak juga merasakan hal tidak jauh berbeda. Banyak orangtua yang beranggapan bahwa  berkomunikasi dengan anak intinya adalah mengajukan pertanyaan pada mereka atau menjelaskan sesuatu kepada mereka. Padahal, komunikasi melibatkan percakapan dua arah antara kita  dan anak -anak. Meskipun demikian, percakapan satu arah: saya mendengarkan anak saya berbicara, mencoba untuk memahami apa yang sedang dia katakan dan rasakan, juga sama pentingnya. Dengan melakukan demikian, kita akan mendapatkan lebih banyak informasi  bagaimana perasaan mereka atau hal penting yang coba mereka  sampaikan.

Berlatih mendengarkan anak-anak berbicara dapat kita mulai dengan mencoba membiasan diri  untuk  tidak memulai pembicaraan ketika bertemu dengan anak-anak. Misalnya  memilih satu atau dua situasi dalam seminggu di mana kita tidak memulai sebuah percakapan, misalnya saat kita sedang menjemput anak-anak dari sekolah atau ketika kita sedang mengerjakan tugas tertentu. Jangan gunakan kedua situasi ini untuk menyampaikan pesan kepada mereka atau malah menanyai anak-anak terus menerus tentang kegiatan-kegiatannya minggu yang akan datang. Tetap tenang dan tunggu sampai mereka berbicara.

Pada awalnya kita akan mengalami kesulitan untuk melakukan hal tersebut, sebagaimana kebanyakan orangtua lainnya. Hal ini terjadi karena kebanyakan kita terbiasa ketika menjemput anak-anak kita di sekolah atau tempat penitipan anak, kita segera menanyai mereka apa mereka kerjakan seharian. Daripada demikian, setelah kita menyapa mereka, ”Assalamu'alaikum sayang, senang rasanya ayah bisa menjemput Hasany dan Rasikh sore ini,” berusahalah untuk tetap tenang sampai mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan. Dengan cara seperti ini, jika mereka memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan, mereka punya kesempatan untuk mengungkapkannya.

Tetapi jangan terkejut, meskipun mereka punya kesempatan dan memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, sangat mungkin juga mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Bisa jadi jika mereka lelah setelah seharian beraktivitas di sekolah, mereka mungkin tidak mengatakan apa pun. Dalam situasi seperti ini, tidak mengapa dan kita tetap harus tenang. Kita mungkin akan memiliki beberapa kali perjalanan pulang ke rumah yang sunyi dari penitipan anak atau sekolah sebelum mereka akhirnya  percaya bahwa kita ada untuk mendengarkan mereka, bukan untuk mendominasi waktu dengan pertanyaan-pertanyaan kita

Insyaallah dengan berjalannya waktu, mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa waktu-waktu sunyi  dari sekolah ke rumah tersebut kita siap untuk mendengarkan komentar-komentar dan keprihatinan-keprihatinan mereka. Mereka mungkin mulai untuk membicarakan tentang masalah-masalah penting bagi mereka, menurut mereka itu penting. Sangat mungkin terjadi kita akan menilai banyak sekali percakapan-percakapan mereka dengan kita menyangkut segala sesuatu yang tidak penting. Terlalu sering para orangtua ingin membicarakan apa yang mereka pikir penting, tidak peduli dengan apa yang ingin anak-anak mereka bicarakan. Tidaklah mengherankan ketika kemudian para orangtua merasa heran kenapa anak-anak mereka tidak suka berbicara dengan mereka.

Kuncinya adalah mendengarkan, buka mengevaluasi. Mengevaluasi membuat anak-anak kita semakinmalas untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya.

Published in: |on October 20th, 2009 |7 Comments »

Tidakkah dengan cara itu...

Mengapa harus bersedih ketika belum dikarunia keturunan setelah menjalani kehidupan perkawinan sekian lama? Mengapa harus kecewa ketika apa yang diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak menghasilkan seperti yang diimpikan? Mengapa harus marah ketika orang lain tidak mengapresiasi sama sekali atas semua kerja keras yang sudah dilakukan? Mengapa lebih takut mendapat penilaian buruk dari manusia daripada penilaian buruk dari Allah Ta'ala?

Tidakkah semua itu terjadi dengan ijin-Nya? Tidakkah semua ketetapan Allah itu pasti baik adanya? Tidakkah dengan tidak diberinya keturunan Allah Ta'ala hendak menjaga kita dari melakukan hal-hal yang membuat anak-anak kita tidak berbakti kepada-Nya dan pada saat yang bersamaan memberikan kita kesempatan seluas-luasnya untuk menginfaqkan dan menshadaqahkan diri di jalan Allah Ta'ala? Tidakkah dengan tidak diperolehnya hasil yang diimpikan itu Allah Ta'ala hendak menjaga diri kita dari hal-hal yang bisa menghilangkan sama sekali kemulian kita di sisi-Nya (terjaga dari sifat riya, misalnya) dan pada saat yang bersamaan memberikan kita kesempatan yang seluas-luasnya untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam melakukan  setiap aktivitas yang dipilih? Tidakkah dengan tidak adanya apresiasi dari lingkungan itu Allah Ta'ala hendak mengevaluasi benarkah kita melakukan hal tersebut semata-mata karena Allah? Kenapa engkau marah ketika orang tidak menghargai usahamu, padahal kamu nyatakan setiap hari, shalatmu, ibadahmu, hidupmu, matimu untuk-Ku? Di mana kamu letakkan Aku ketika kamu marah? Tidakkkah ketika kamu marah, kamu meletakan dirimu, nafs-mu lebih tinggi daripada Aku?

Published in: |on September 29th, 2009 |9 Comments »

Beruntunglah orang-orang yang khusyuk

Ya, beruntunglah orang-orang yang khusyuk. Orang yang khusyuk dalam shalatnya dinyatakan Allah Ta'ala lebih dahulu sebagai ciri-ciri keberuntungan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang khusyuk dijamin Allah Ta'ala lebih ringan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai sarana memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala.

Orang-orang yang khusyuk yakin bahwa mereka akan bertemu Allah Ta'ala dan bahwa mereka akan kembali kepada Allah Ta'ala.  Keyakinan berjumpa dan kembali kepada Allah Ta'ala menjadikan orang-orang yang khusyuk lebih mudah dalam menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Orang-orang yang khusyuk akan lebih mampu memelihara amanah-amanah yang diembannya dan janji-janji yang dibuatnya. Orang-orang yang khusyuk yakin bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan dan apabila telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka akan bersegera dan bersungguh-sungguh mengerjakan dan menyelesaikan urusan lainnya.

Published in: |on September 27th, 2009 |5 Comments »

Melihat dengan Kacamata Baru

Alhamdulillaahi rabbil'aalamiin, Allah Ta'ala  dan Rasul-Nya melalui madrasah Ramadhan mengingatkan kita untuk kembali menggunakan kacamata yang dijamin membuat pemakainya lebih sehat dan lebih baik dalam mengarungi kehidupannnya. Kacamata ini membuat pemakainya mampu melihat permasalahan hidup yang ditemuinya dengan lebih jernih dan lebih komprehensif. Kacamata ini membuat pemakainya mampu melihat kebaikan dari setiap peristiwa yang diperjalankan Allah Ta'ala kepadanya. Kacamata ini mampu membuat pemakainya tetap optimis bahkan ketika sedang mengalami kesulitan yang besar.

Published in: |on September 27th, 2009 |10 Comments »